
“Kenapa?” Tanya ibu Nathan saat memasuki rumah panik, jantungnya berdetak dengan cepat.
Di luar sana sudah ada banyak tetangga yang berdesakan melihat kepergian Arianti tadi.
“Hey, kenapa? Jawab aku!” Ucap ibu Nathan kepada suaminya.
Ayah Nathan menatap istrinya yang panik, “Dia dituntut telah meracuni minuman Riana” Jawabnya.
Nathan sama kagetnya dengan sang ibu. Apakah kemarin Arianti berbohong?
“Dia pantas mendapatkannya” Gumam ayah Nathan. Meskipun masih berada di atas kursi roda, dalam artian masih tidak bisa menopang tubuhnya sendiri untuk berdiri tapi, dia adalah lelaki yang sanggup bertanggung jawab atas keadilan.
“Tapi, dia kan sedang hamil” Gumam Nathan.
“Cih, bahkan Riana hamil lebih tua dari istrimu, kenapa kau tidak mengkhawatirkannya seperti itu?” Sahut sang ayah.
“Cepatlah cari pengacara yang mampu kau bayar untuk menyelamatkannya tapi, jika tidak ada ya biarkan saja dia mendekam di penjara” Lanjutnya.
Ayah Nathan menatap wajah anak dan istrinya yang terlihat kebingungan, para tetangga mulai datang berdesakan untuk bertanya.
“Itu Arianti kenapa buk?”
__ADS_1
“Arianti buat masalag apa?”
“Kemarin waktu Riana dibawa lari-lari oleh Ardian itu ya penyebabnya?”
“Kabarnya Ardian yang menuntut Arianti”
Begitulah ucapan-ucapan tetangga yang merasuk ke pendengaran keluarga itu.
“DIAM”
“KELUAR!!”
Itu adalah teriakan ibu Nathan, kepalanya berisik sekali rasanya. Saat itu juga semua tetangga bubar jalan, sambil berbisik-bisik mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi tadi.
Nathan menatap ibunya lesu, “Lalu aku harus apa? Mecegahnya? Polisi sudah ada di depan mata, mengepung dari berbagai arah, apa aku harus mengelak? Dari semalam kita sudah meminta penjelasan kepadanya tapi, apa? Dia tidak mau mengakui perbuatannya”
Nathan terdiam sejenak, “Ada bungkus racun itu di belakang rumah, di tas Arianti juga masih ada sisanya. Apa aku harus mencegah mereka saat dia benar-benar terbukti bersalah?”
Ibunya terdiam, lalu melihat suaminya, “Kau juga? Kenapa mengizinkan mereka mengacak-ngacak rumah kita?” Ucapnya.
Pikirannya kacau balau, bahkan jika seandainya ada nyamuk lewat, dia akan menyalahkan nyamuk itu juga seketika.
__ADS_1
Barang belanjaannya tadi dibuang entah kemana, dia harus segera bersiap pergi ke kantor polisi. Bukan karena menyayangi Arianti tapi, ucapan tetangga. Bagaimana dia bisa menghadapi lingkungan yang begitu menyeramkan ini.
Plak
Ibu Nathan menghantam anaknya dengan sandal di dekatnya, bisa-bisanya dia masih tenang di tempatnya.
“Ayo ikut ke kantor polisi, kita lihat keadaannya” Ajak ibu Nathan.
Nathan masuk ke kamarnya, berganti pakaian meskipun belum mandi.
Sesampainya di kantor polisi, ibu Nathan langsung berlari masuk. Ternyata di sana sudah ada orang tua Arianti sendiri.
“Bagaimana ini bisa terjadi ha?” Tanya ibu Arianti pada putrinya.
Arianti hanya terdiam, sudah tidak bisa berkutik, apalagi ada bukti yang menyertai. Memeperkuat tuntutannya pada kasus ini.
Ardian pulang dari pemakaman langsung pergi ke kantor polisi saat mendapat kabar jika Arianti sudah di bawa oleh polisi.
“Hey, kau ini sebenarnya punya masalah apa dengan putriku ha?” Tanya ibu Arianti.
Ardian hanya diam lalu bertanya kepada pak polisi, “Riana sedang dalam masa pemulihan, mungkin baru bisa menghadiri sidang satu atau dua minggu lagi, menunggu jahitannya kering” Jelasnya.
__ADS_1
“Kami akan mengundang anda nanti”
Ardian sudah cukup merasa puas dengan drama yang ia lihat baru saja, biarkan saja mereka bingung dengan kelakukan putri tersayangnya.