
Riana masih berada di kamarnya, bersama dengan Rifa, kakak Ardian dan juga mama Ardian. Kakak ipar dan papanya masing-masing pergi untuk bekerja.
“Sudah makan siang?” Tanya Ardian pada Riana.
Riana hanya menggeleng lemah, pandangan matanya hanya fokus pada satu titik, mengawang dan kosong.
“Kalian?” Tanya Ardian kepada setiap orang disana.
Mereka semua hanya menatap Ardian, tidak memberikan jawaban. Ardian mengerti, mana sempat mereka makan saat menunggu Riana yang kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
“Makanlah di kantin, aku akan menjaga Riana” Ucap Ardian memberikan satu plastik besar makanan yang sudah ia beli saat perjalanan ke rumah sakit.
Setelah pintu ruangan di tutup, Ardian menghampiri Riana.
“Tidak mau makan?” Tanya Ardian halus.
Riana menggeleng, rasa sedihnya masih melanda dengan hebat.
“Tidak boleh begitu, makan sedikit saja. Biar aku suapi, jangan menyiksa dirimu terlalu lama, mamamu jelas khawatir dan tidak suka” Ucap Ardian.
Lelaki itu membawa makanan yang sudah di siapkan pihak rumah sakit, dan menyuapi Riana.
__ADS_1
Setelah dibujuk sedemikian rupa, akhirnya Riana bersedia menelan makanan itu, meskipun tidak bagus tapi, tidak apa-apa.
“Nanti malam mau makan apa? Mau aku belikan di luar rumah sakit?” Tanya Ardian.
Guna memberikan sesuatu yang baru, Ardian juga sudah konsultasi dengan dokter sebelumnya bahwa Riana di perbolehkan mengkonsumsi makanan dari luar rumah sakit dengan beberapa pantangan.
“Memangnya boleh?” Tanya Riana.
“Tentu, asal tidak melanggar pantangan dari dokter, kau masih belum bisa makan gorengan, makanan cepat saji, makanan pedas, makanan manis juga masil belum bisa” Ucap Ardian, menyebutkan beberapa makanan yang tidak bisa dikonsumsi Riana untuk sementara waktu.
Riana terlihat berpikir sejenak, sebenarnya dia tidak begitu benafsu untuk makan. Seperti otaknya sudah cukup penuh jika hanya sekedar untuk memikirkan makanan.
“Aku akan menyantap apa yang sudah disediakan rumah sakit saja” Jawab Riana.
Riana mengangguk tapi, ya mana bisa dia memejamkan matanya meskipun dipaksa.
Ardian masih duduk di samping ranjang Riana, mengelus rambut gadis itu pelan, memnyalurkan kehangatan dan ketenangan dari sana.
“Terimakasih” Gumam Riana.
“Sudah menjadi kewajibanku memenuhi janji untuk menjagamu” Sahut Ardian.
__ADS_1
Riana terdiam sejenak, beberapa detik terasa begitu hening.
“Kau sudah tidak perlu menjagaku, kau berjanji untuk anak itu tapi, sekarang dia sudah tidak ada. Fokuslah dengan dirimu sendiri, maaf jika aku banyak merepotkanmu” Ucap Riana.
Wanita itu merasa bersalah dengan Ardian, waktu yang diluangkan Ardian selama ini terasa begitu sia-sia untuk Riana. Kasihan juga jika lelaki itu harus terus mengurusnya yang bukan siapa-siapa, mungkin akan menjadi salah satu trauma dan ketakutan untuk memulai hubungan baru, disamping dari perbedaan keyakinan antara keduanya.
“Aku yang seharusnya minta maaf, aku gagal menjagamu seutuhnya” Ucap Ardian.
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, sama-sama merasa bersalah untuk yang lainnya.
“Tapi, bukankah menjagaku adalah sebuah beban, Ar?” Tanya Riana.
“Tentu tidak, aku suka membantumu, aku suka di repotkan olehmu, aku juga lebih suka jika kau ternyata suka aku bantu, tanpa perlu merasa seperti ini’ Ucap Ardian.
Lelaki itu masih mengelus surai hitam panjang di depannya.
“Bukankah kau juga harus tetap mencari pasangan yang lebih baik?” Sahut Riana.
“Maka, biarkan Tuhanku memberikan jalan terbaiknya untukku dan dirimu” Ujar Ardian, dia tidak akan memaksa jika seandainya Riana nanti tidak mau masuk ke dalam kepercayaannya. Meskipun di dalam hati kecilnya, sangat berharap jika Riana bisa berubah pikiran suatu hari nanti.
“Kau tau bukan, aku masih fokus dengan karirku. Ayo sama-sama memperbaiki diri dan bertemu di versi terbaik masing-masing” Lanjut Ardian.
__ADS_1
Riana terdiam, ternyuh dengan ucapan yang di sampaikan Ardian.
“Istirahatlah, kau harus segera pulih untuk sidang dakwaan dua minggu lagi” Ucap Ardian mengalihkan pembicaraan.