
Nathan sampai di pekarangan rumah kontrakan gratis orang tuanya, terlihat sudah banyak bahan-bahan bangunan yang sepertinya baru datang. Terlihat juga beberapa orang kuli bangunan yang bekerja di sana termasuk ayahnya.
“Wah, sudah datang bahan-bahannya” Ucap Nathan setelah turun dari mobil, menyapa orang-orang di sana.
“Bagaimana di rumah barumu? Lebih segar?” Tanya ibu Nathan sinis.
“Terkesan nyaman dan aman, ibu sedang apa?” Tutur Nathan sesekali mengambil gorengan yang dibuat ibunya.
“Memasak untuk sarapan orang-orang, kau sudah sarapan?” Tanya ibunya.
“Sudah, Riana memasak nasi goreng seafood pagi ini” Jawab Nathan, tidak ada inisiatif untuk membantu.
“Dia pasti akan sangat boros dengan uangnya, sangat membedakan memasak disini dengan di rumahnya, cih” Ibu Nathan berdecih.
Nathan akhirnya melihat pekerjaan orang-orang yang sedang merenovasi bagian teras rumahnya.
“Kenapa keramiknya warna Putih begini? Nanti kalau kotor bagaimana?” Tanya Nathan, mengomentari warna keramik yang sudah terpasang.
“Kau ini tidak mau membantu, protes saja, kalau kotor ya di sapu, di pel” Ucap ayahnya.
__ADS_1
Nathan mengeluarkan cengirannya, benar juga sih kata ayahnya tapi, yang di pikirkan Nathan sebenarnya jika panas matahari datang, warna putih itu akan memantulkan pancaran cahaya illahi kan?
“Iya juga. Bu, ayo pergi mencari keperluan natal” Ajak Nathan setelah melihat ibunya sudah menyiapkan makanan di ruang tamu.
Ibu Nathan terlihat berlari kecil, jarang-jarang anaknya itu mengajak belanja, “Ayo, tumben sekali mengajak?” Tanyanya.
Nathan dengan sombongnya mengeluarkan kartu Atm milik Riana, “Aku punya banyak uang sekarang, ayo cepat bersiap atau mau sarapan dulu?” Tutur Nathan.
Tanpa banyak berbelit ibu Nathan langsung berkata, “Nanti saja makannya, ibu akan siap-siap dulu” Ucapnya lalu berlari menuju kamar mandi yang bahkan penutupnya masih berupa kain saja, belum ada pintu terpasang di sana.
...***...
“Kau juga?” Lanjutnya pada Nathan.
Nathan berpikir sejenak, melihat pohon-pohon indah itu berjajar dengan berbagai ukuran.
“Boleh, aku mau yang sedang juga 1 tapi, tolong nanti di antar ke alamat yang berbeda ya” Ucap Nathan.
“Tidak mau sekalian beli dengan hiasannya kak? Ada bintang di puncak pohon, lampu, figur natal, kado natal, dekorasi kaus kaki natal, Christmas wreath, lilin natal, lentera, natal garland, gingerbread dan candy cane, itu sudah bisa di beli satu paket” Sahut sang penjaga toko, menawarkan barang-barang terbaik mereka di acara natal secara menyeluruh.
__ADS_1
Ibu Nathan menjawab, “Boleh aku lihat barangnya dalam satu paket?” Taanyanya.
“Tentu saja boleh” Penjaga toko itu pergi mengambil satu kotak besar berisi dekorasi yang sudah ia sebut tadi untuk di tunjukkan kepada kliennya.
Seperti puas, ibu Nathan langsung setuju, “Boleh, aku mau dua” Sahutnya.
Setelah puas berjalan-jalan, bahkan mereka mencari kue natal di tempat yang sama, mereka langsung membayar tagihannya.
“Totalnya, 15 juta kak” Ucap sang penjaga toko.
Tanpa banyak berfikir, Nathan langsung mengeluarkan kartu atm yang ia bawa milik Riana, memberikannya pada sang penjaga toko.
“Terimakasih kak” Ucap penjaga toko tersebut sambil memberikan kartunya pada Nathan.
“Ibu belum makan kan? Mau makan dulu? Atau mau belanja dulu?” Tanya Nathan saat masih di perjalanan pulang.
“Boleh, kita belanja keperluan memasak untuk orang-orang yang bekerja di rumah” Ucap ibu Nathan.
Hari itu benar saja Nathan menghabiskan waktunya sampai sore datang menyapa dan itu di manfaatkan ibu Nathan untuk menghabiskan uang milik menantunya tanpa sepengetahuan Riana tentunya. Lagipula Nathan yang mengajaknya, uang Riana uang Nathan juga bukan?
__ADS_1