
Setelah sampai di toko, Riana terus memijat keningnya. Tidak henti-hentinya masalah rumah tangga menghampiri dirinya.
“Apa ini karena aku tidak mendapat restu dari mama?” Gumamnya.
Pekerjaannya hari itu begitu sangat membosankan, dengan ketidak tenangan yang ia rasakan.
“Mbak, ini beberapa berkas yang perlu anda lihat, barangkali ada hal yang perlu diperbaiki tolong di tandai” Ucap Lea, memberikan beberapa dokumen penting kepada owner tokonya.
“Oke, terimakasih”
Melihat berkas-berkas pekerjaannya yang menumpuk, Riana segera menyelesaikan semuanya, apapun yang terjadi tetap profesional itu perlu.
Tidak lama, kira-kira sepuluh menit kemudian ponselnya berbunyi.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Menampilkan nama ibu mertuanya disana, dengan berat hati Riana mengangkat panggilan itu.
“Riana, Riana, tolong aku” Ucap ibu mertuanya panik.
“Ada apa bu?” Tanya Riana ikut panik mendengar nada sang ibu mertua yang begitu mengkhawatirkan.
“Ada debkolektor ke rumah” Sahutnya dari seberang telepon sana.
Saat itu juga, rasanya Riana sudah ingin menangis saja, belum apa-apa sudah di kejar debkolektor.
Lalu apa yang bisa dia lakukan? Membantu ibu mertuanya membayar hutang-hutang itu?
“Berapa yang dibutuhkan?” Tanya Riana.
__ADS_1
“5juta saja” Sahut ibu mertuanya.
Saja? 5 juta itu nominal yang cukup besar bukan?
“Aku transfer ke nomor rekening ibu” Ucap Riana lalu memutuskan panggilannya.
Tanpa banyak basa-basi, Riana segera men-transfer sesuai yang ia janjikan baru saja.
“Kuatkan aku, Tuhan” Gumamnya sembari melanjutkan pekerjaan.
Hari mulai sore, seperti biasa Riana pulang tepat saat jam kerjanya usai, membersihkan rumah, mencuci baju lalu memasak adalah hal yang bisa dibilang sudah menjadi kebiasaannya.
Dulu, yang apa-apa disiapkan mamanya sekarang malah berbanding terbalik dengan dirinya yang harus menyiapkan segalanya.
“Malam ini biar ibu saja yang memasak, kau diam saja di kamarmu” Ucap ibu mertuanya.
Riana memang bingung dengan sikap ibu mertuanya tapi, dia memilih bodo amat dengan itu.
“Nathan, ada yang mau aku bicarakan” Ucap Riana pada Nathan setelah sampai di kamarnya.
“Bicara tentang hutang keluarga, termasuk dengan resepsi kemarin. Aku dengar ibu akan menjual motor yang biasa kau gunakan dan menjual rumah ini, apa tidak ada jalan keluar lain?” Tanya Riana. Saat itu, dia sedang mencoba berbicara dengan Nathan selaku suaminya tentang masalah yang sedang dihadapi, apapun dan bagaimanapun ibu mertuanya, itu tetap ibunya.
“Hutang segitu banyak, memangnya mau dibayar dengan apa? Itu saja masih biaya resepsi, belum lagi hutang-hutang lainnya yang belum lunas”
“Memangnya ada hutang yang lain?” Tanya Riana.
“Kira-kira 57 juta di bank, digunakan untuk acara meninggalnya kakek dan membangun makamnya”
Sial, batin Riana.
Bukan tidak mau membantu, dia sudah merasa tidak enak dengan suasana yang begini adanya.
“Nanti ikut aku, kau bawa mobil dan aku bawa motor dengan ibu. Motornya akan di jual ke tempat jual motor biasa karena BPKB-nya tidak ada” Ucap Nathan lagi.
__ADS_1
“Kemana?” Sahut Riana.
“Sudah masuk bank”
Sesuai dugaan, bahkan BPKB sudah masuk bank.
“STNK juga ada di pegadaian bersama KTP-ku”
Sertifikat rumah masuk bank, BPKB kendaraan masuk bank, bahkan STNK juga sudah masuk pegadaian dengan jaminan KTP Nathan.
Huh
Riana hanya mampu menghela napas kasar, dunianya berputar seperti di jungkir balik oleh Tuhan.
“Nathan, ayo makan! Ajak Riana juga” Ucap ibu mertuanya.
Di meja makan, sudah tersedia daging sapi yang sudah di panggang, terlihat lezat memang tapi, uang dari mana untuk membeli itu? Setidaknya untuk belanja saja seharusnya mepet sekali, batin Riana melihat menu-menu mewah yang ada di hadapannya.
“Ayo makan” Ucap ibu mertuanya, sumringah.
Riana mengangguk, melayani suaminya dulu lalu mengambil bagian untuk dirinya sendiri.
“Setelah makan malam, kita pergi ke tempat jual motor” Ucap sang ibu mertua enteng, seperti tidak ada beban untuk mengatakannya.
Bukannya mencegah atau apa, respon Nathan hanya mengangguk, seperti membiarkan orang tuanya montang-manting sendirian mencari jalan keluar.
Saat Riana sedang beres-beres meja makan, dia tidak sengaja mendengar percakapan Nathan dan ibunya di ruang keluarga.
“Ponselmu kan ada dua, jual saja yang satunya” Ucap sang ibu mertua.
“Tidak mau, nanti tidak bisa main game. Yang satu untuk sosial media, satunya lagi untuk game” Jawab Nathan.
“Ingat, ini juga hutangmu. Jadi, setidaknya lakukan sesuatu” Sahut ibu mertuanya.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada percakapan lagi, Riana hanya mampu menggelengkan kepalanya, keluarga mertuanya bahkan termasuk suaminya memang terdengar begitu egois bukan.