
Keesokan harinya di ruang kerja, Riana sedang melihat dua buku tabungannya.
“Yang ini untuk bisnis” Gumamnya, melihat satu buku yang berisi tidak lebih dari 200 juta hasil omset yang masuk ke tokonya selama menjadi pebisnis.
“Yang ini untuk tabungan darurat di masa mendatang” Itu adalah tabungan yang dia kumpulkan sejak sekolah.
Riana sadar, bahwa wanita harus memiliki tabungan darurat yang satu ini untuk masa depan wanita itu sendiri, benar-benar untuk dirinya sendiri. Berjaga-jaga jika ada apa-apa di masa mendatang. Misal saja, jika sudah menikah begini kehidupan di masa depan harus benar-benar di pikirkan, seperti biaya untuk mengurus anak, pendidikan anak, itu adalah investasi utama.
Sedangkan tabungan selanjutnya adalah katakanlah untuk spek umum, jika terjadi PHK besar-besaran atau ketika ada musibah yang tidak terduga, tabungan ini berfungsi untuk itu agar tidak bercampur dengan tabungan investasi anak.
“Apa aku harus menggunakannya?” Masih dengan gumamannya sendiri.
“Jika di total-total, hutangnya tidak sampai 150 juta tapi, aku pasti akan kehilangan banyak omset dan bisa jadi banyak karyawan yang harus libur”
Riana berfikir keras, kadang juga melihat surat-surat mobilnya.
“Jika mobilku dijual, dia tidak akan terjual lebih dari 70 juta tapi, itu masih mendingan bukan daripada harus mengambil uang tabungan? Sisanya bisa dicicil”
Riana memijat keningnya pelan.
Huh
Sesekali menghembuskan nafasnya kasar.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Ponselnya berbunyi, memperlihatkan nama Lea di layar panggilan itu.
“Halo, ada apa Lea?” Tanya Riana.
“Di bawah ada mas Nathan” Jawab Lea.
Riana terdiam sesaat, tumben sekali suaminya ke toko?
“Suruh naik saja ke ruanganku” Jawab Riana lalu mematikan sambungan panggilannya, tidak lupa membereskan segala bentuk tabungan yang ada di meja kerjanya.
Ceklek
Tanpa permisi apalagi mengetuk pintu, Nathan memasuki ruang kerja istrinya.
__ADS_1
“Ada apa? tidak bekerja?” Tanya Riana.
“Aku dikeluarkan dari perusahaan” Sahut Nathan.
“Kenapa?” Tanya Riana singkat.
Nathan telihat bingung, “Di PHK” Jawabnya.
“Bukannya kau pegawai tetap? Biasanya, pegawai tetap akan selalu di prioritaskan daripada pegawai magang. Apa teman-temanmu yang lain juga di PHK?”
“Tidak, hanya aku” Sahut Nathan.
“Pasti ada alasannya”
“Absenku buruk dan kinerjaku kurang memuaskan atasan” Tanpa rasa malu Nathan mengatakan hal itu, bahkan sekarang dia sudah berada di sofa tamu sambil memainkan ponselnya, apalagi jika bukan membuka game-nya.
Tidur larut, bangun suka kesiangan, dan sekarang tidak punya pekerjaan? Lelaki macam apa suaminya itu?
Riana lagi-lagi hanya mampu menghembuskan napasnya, sebelum akhirnya melanjutkan pekerjaan tanpa mempedulikan Nathan.
Lama-lama, mungkin karena bosan, Nathan membuka suara, “Sayang, bagaimana jika kita jalan-jalan pulang nanti? Kita sudah lama kan tidak refreshing?” Ucapnya.
“Mau kemana?” Tanya Riana.
Dengan kata ‘refreshing’ itu, Riana berpikir sejenak, memang benar jika akhir-akhir ini pikirannya sedang keruh.
“Baiklah” Ucap Riana menyetujui.
...***...
“Silahkan kak, mau pesan apa?” Tanya pelayan café itu.
View yang tersaji memang begitu indah tapi, melihat harga menunya sukses membuat Riana geleng-geleng kepala.
Dirinya memang sering pergi ke café-café, mengingat mantannya dulu seorang owner café, mereka sering meeting dengan owner-owner lainnya tapi, yang ini harganya cukup fantastis.
Memilih menu yang paling murah, mengingat suaminya baru saja kehilangan pekerjaan Riana membuka suara, “Saya mau kentang goreng sama orange juice aja, kau apa?” Tanyanya pada Nathan.
“Croffle, roti bakar, sama coffe late” Jawabnya.
“Baik kak, mohon di tunggu sebentar” Ucap pelayan itu lalu pergi ke dapur memberikan catatan menu.
“Sayang, kau yang bayar” Pinta Nathan.
__ADS_1
****
Riana hampir mengeluarkan kata-kata kasar itu dari mulutnya. Dia bahkan belum pernah diberi uang belanja selama pernikahan mereka berlangsung.
Dengan tersenyum tapi, dalam hati menahan rasa jengkelnya, Riana berkata, “Baiklah”
Ting
Ting
Ting
Suara ponsel Nathan berbunyi, menandakan ada pesan masuk.
“Siapa?” Tanya Riana.
“Kak Megan, dia ingin jika kita pulang nanti dibelikan ikan mujair yang segar 5kg untuk anaknya” Ucap Nathan.
“Apa anaknya bisa menelan 5kg sekaligus?” Tanya Riana.
Bisa dibilang, Riana masih sakit hati karena sempat dibandingkan dengan mantan Nathan dulu. Lihat sekarang? Di keadaan susah begini, apa mantannya yang cantik itu membantu?
“Sekalian untuk stok” Jawab Nathan.
“Darimana dia tau kita sedang jalan?”
“Kau tidak melihat ponselmu? Aku memposting tempat ini” Sahut Nathan.
Ck
“Ya sudah, nanti mampir supermarket. Lalu, motormu bagaimana di toko?” Tanya Riana, lupa jika motor butut suaminya masih berada di toko.
“Kita ambil nanti sepulang dari sini, kau bisa kan ke supermarket sendiri?”
“Okey” Jawab Riana singkat, kepalang dongkol juga dengan Nathan.
“Permisi, ini pesanannya, ini bill-nya” Ucap sang pelayan memberikan bill seharga 300 ribu lebih untuk snack yang mereka pesan.
Riana langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar tunai semuanya di depan suaminya, bahkan memberikan kembaliannya untuk pelayan café tersebut.
“Seharusnya itu bisa digunakan untuk yang lain” Ucap Nathan yang begitu realistis.
“Jika kau memesan makanan yang lebih hemat, seharusnya itu bisa digunakan untuk yang lain” Jawab Riana. Meski tersenyum, kalimat itu terdengar begitu menohok sebenarnya tapi, hanya jika Nathan merasa.
__ADS_1