Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Pelukan Pertama dan Terakhir untuk Reinan


__ADS_3

“Menurut surat perjanjian yang sudah di tanda tangani oleh suami anda, Bapak Ardian Braham beliau memilih untuk menyelamatkan anda dengan presentase keberhasilan operasi adalah 50%”


Riana terdiam sejenak sebelum akhirnya dia sadar, wanita itu hendak beranjak duduk tapi, Ardian segera mencegahnya.


“Kondisimu akan memburuk jika bertindak gegabah” Sahut Ardian, mencoba mencegah Riana melakukan pergerakan lebih.


“Kenapa kalian tidak bilang sejak kemarin?”


“Dimana dia sekarang?”


“Kenapa menyembunyikan semuanya sejak kemarin?”


“Kenapa tidak ada yang memberitahu?”


Begitu rentetan pertanyaan yang diucapkan Riana.


“Pemakamannya dilakukan pagi ini” Ucap Ardian, melihat wajah sedih wanita di hadapannya.


Sebisa mungkin Ardian menguatkan diri untuk Riana, meskipun Rifa juga sebenarnya bisa tapi, wanita paruh baya itu terlihat sama lemahnya dengan Riana.


“Aku mau ikut” Ucap Riana.


“Aku mau melihatnya dulu, pasti kalian salah kan? Dia tidak mungkin meninggalkan aku, dia kuat selama ini” Ucap Riana, air matanya terus menetes deras.


Rifa memeluk anaknya dari seberang ranjang.


“Sabar ya Rin, Tuhan lebih sayang dia” Ucap Rifa.


“Ma, tidak mungkin kan? Dia sudah bertahan sejauh ini, tidak mungkin pergi begitu saja” Sahut Riana.

__ADS_1


Wanita itu masih tidak terima dengan kabar yang baru saja ia terima.


“Apa dia bisa keluar dari ruang rawat inap?” Tanya Ardian pada dokter.


Sang dokter menggeleng, “Ibu Riana masih tidak boleh banyak bergerak, setidak-tidaknya baru bisa pulang dan rawat jalan setelah tiga hari” Jawabnya.


“Aku mau melihatnya dulu, kalian pasti berbohong kan? Bercandanya tidak lucu, bawa dia kesini” Ucap Riana, nadanya sudah tinggi penuh emosi.


“Kami akan membawa almarhum kemari untuk bisa dilihat ibu Riana” Ucap dokter.


Tidak lama setelah dokter pergi, putra Riana benar-benar di antar ke ruang rawat inap dengan keadaan yang sudah terbujur kaku dan biru.


Riana menangis sejadi-jadinya, masih dengan pengawasan pihak medis, Riana ingin meraih anaknya tapi, tentu itu langsung di cegah oleh dokter.


“Maaf ibu Riana, anda tidak boleh banyak bergerak. Kembali berbaring, kami akan memberikannya untuk anda” Ucap suster.


Suster itu benar-benar memberikan bayi itu ke pelukan Riana.


“Kenapa sayang hm? Seharusnya kamu bertahan sedikit lagi untuk mama” Gumamnya.


Tidak lama, bayi itu hendak di ambil dari tangan Riana tapi, dia menolak, dia masih ingin terus memeluk anaknya, masih belum puas rasanya menatap anak yang dia nanti-nanti kehadirannya.


“Rin, tolong berikan kepada suster ya” Ucap Ardian, lelaki itu mengusap punya kepala Riana, berharap wanita itu mau mengerti.


Riana menggeleng, masih dengan tangisnya yang pecah, “Tidak mau, aku mau ikut saja dengannya, bagaimana bisa dia seperti ini sedangkan aku masih menikmati hidupku dengan damai?” Ucapnya asal.


Jujur saja Ardian tidak suka dengan penuturan Riana yang seperti itu, tidak seharusnya Riananya mengatakan hal tidak baik begitu.


“Apapun itu di dunia ini semuanya sudah di takdirkan, setiap ada pertemuan pasti juga ada perpisahan. Kau pasti mendapatkan gantinya suatu hari nanti, aku mohon ikhlaskan dia” Bisik Ardian, lelaki itu terus mencoba memberikan pengertian.

__ADS_1


Riana dengan rasa egoisnya terus menggelengkan kepalanya, tidak rela jika bayi kecil itu di bawa apalagi dikubur di luar sana.


“Hei, lihat aku” Ardian menuntun wajah Riana menatapnya, “Kau tidak bisa mengubah takdir, apapun yang terjadi denganmu dan anakmu adalah takdir, jika kau harus kehilangan dia maka tugasmu yang masih diberi nyawa adalah memperjuangkan keadilan yang seadil-adilnya untuk dia”


Deg


Riana terdiam, Ardian benar. Dia adalah seseorang yang bisa menuntut keadilan untuk kematian putranya.


“Tuhan, tidak akan memberikanmu ujian di luar batas kemampuanmu. Percayalah, dia adalah pembuka pintu syurga untukmu kelak” Lanjut Ardian.


Setelah di rasa tenang, Ardian menyuruh suster untuk mengambil bayinya dari gendongan Riana, sebelum Riana berubah pikiran.


“Biarkan aku ikut pemakamannya” Ucap Riana.


Ardian menoleh pada dokter, bertanya pada wanita itu. Tapi, dokter tetap menggelengkan kepala, itu masih tidak memungkinkan.


Ardian menarik napasnya dalam lalu mengeluarkannya perlahan, mencari cara agar tidak menyakiti perasaan Riana juga.


“Lakukan video call dengan kakakku selama proses pemakaman berlangsung tapi, jika kau tidak mau dan terus memberontak maka dengan terpaksa hanya obat penenang yang akan membantumu. Tau kan jika kau sudah meminum obat itu maka kau akan tertidur dan pasti tidak akan bisa melihat prosesi pemakaman putramu?” Ucap Ardian.


Riana terdiam, itu tidak terdengar sebagai sebuah teguran untuknya, itu lebih seperti ancaman halus yang di lontarkan Ardian untuknya.


Dengan berat hati Riana menganggukkan kepalanya, setuju dengan ide yang di sampaikan Ardian.


“Boleh aku meminta sesuatu?” Tanya Riana.


Ardian mengangguk, “Apa?” Tanyanya.


“Lakukan prosesi pemakaman dengan budaya islam” Sahut Riana.

__ADS_1


Ardian dan Rifa jelas terkejut dengan penuturan Riana, ada apa? kenapa? Mungkin begitu isi pikiran keduanya.


“Dia akan mendapatkan banyak doa dari orang-orang sekitar” Ucap Riana realistis.


__ADS_2