Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Emosi


__ADS_3

Riana tidak bisa tidur semalaman itu, berpikir keras dengan kelanjutan rumah tangganya yang masih seumur jagung.


Boro-boro untuk merasakan nyidam seperti ibu hamil lainnya, begini saja dia sudah tidak ada keinginan makan atau melakukan kegiatan yang lain selain melamun.


Entah Riana tertidur pukul berapa tapi, saat gadis itu bangun, dia masih tidak melihat suaminya di rumah.


“Aku merasa mau gila” Gumam Riana, wanita itu bangun dan mulai membersihkan rumah seperti biasa.


Saat hendak beranjak ke kamar mandi, Riana baru mendengar suara motor milik Nathan. Akhirnya Riana memilih menunggu suaminya masuk rumah lebih dulu, tidak ada pilihan lain untuk mempertahankan suaminya, dia berlari kecil menuju kamarnya lalu mengambil sebuah kotak yang berisi dua buah tespect.


“Sayang, aku pulang” Ucap Nathan dari depan sana.


Riana menyambut Nathan di depan pintu.


“Kau mau mandi?” Tanya Nathan melihat istrinya sudah menyelampirkan handuk di pundak.


Nathan mendekat dan mencium kening Riana, sontak Riana langsung mundur saat mencium aroma vanilla dari tubuh itu.

__ADS_1


Ck, si*lan, batin Riana. Tanpa basa-basi, dia memberikan tespect yang ia pegang, “Aku hamil” Ucapnya.


Nathan yang mungkin saja habis bersenang-senang dengan Arianti langsung membelalakkan mata.


“R-Riana?” Lelaki itu terbata, memanggil nama istrinya dengan tidak lancar. Lalu, sejemang kemudian, Nathan seperti tersadar, “Tapi, kita sudah tidak berhubungan kurang lebih dua bulan” Ucapnya.


“Usia kandunganku memasuki bulan ke-lima” Ucap Riana.


“Dulu, saat awal-awal kehamilan aku tidak berani mengatakannya denganmu karena kau selalu memperingatkanku untuk tidak hamil tapi, Tuhan sudah menghendaki, aku tidak dapat menolak dan kau pun begitu” Sahut Riana.


Hanya ini satu-satunya cara mempertahankan rumah tangganya. Nathan akan tetap sibuk dengan selingkuhannya jika tidak di cegah dengan cara yang antimain-stream begini.


Deg


Nathan hanya bisa terdiam, “Kau ini kenapa selalu menaruh curiga begitu padaku hm? Aku sudah mengakhiri semuanya sejak hari itu!!!”.


Pembelaan yang keluar dari mulut Nathan hanya bisa membuat Riana tersenyum kecut, “Apa menurutmu aku percaya? Aku sudah hafal dengan parfum vanilla ini, Nathan. Kau bahkan tidak pulang untuk bersenang-senang dengan wanita murah*n itu” Sahutnya.

__ADS_1


Plak


Nathan menampar pipi Riana tepat setelah wanita itu menyelesaikan kalimatnya.


“Kau terlihat marah saat aku bersama dengan Ardian saat di rumah sakit waktu itu tapi, lihat dirimu sendiri. Mengaca lah dengan wajah naifmu itu”


Nathan menunjuk wajah Riana dengan tatapan kemarahan, “Jaga ucapanmu pada suamimu, Riana Roselyn”


“Tuan Jeremy Nathan yang terhormat, saat ini aku bertahan denganmu hanya untuk anak ini. Seandainya dia tidak ada, aku pasti sudah menggugatmu sejak hari itu”


“Dengarkan aku baik-baik, aku bahkan tidak pernah membawa lelaki lain ke rumah sekalipun kau tidak di restui di rumah keluargaku, apalagi memiliki pikiran bajing*n untuk selingkuh dengan restu orang tua”


Riana sudah menggebu-gebu saat itu, sudah tidak tahan lagi jika harus diam terus.


“Aku selalu berharap kau menepati janjimu untuk membahagiakan aku, selalu berharap mata hatimu terbuka untuk selalu menyayangiku apapun yang terjadi tapi, nyatanya apa? Kau bahkan berani menamparku demi jal*ng itu”


Riana mulai menangis, meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung seorang diri.

__ADS_1


“Nathan, dalam sebuah hubungan itu ada dua hal yang tidak bsia di maafkan. Satu, kekerasan dan selanjutnya adalah perselingkuhan. Mereka adalah PENYAKIT yang tidak ada obatnya” Riana berucap, menekankan satu kata di deret terakhir kalimatnya.


__ADS_2