Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Sidang Pidana Pertama


__ADS_3

Setelah dua minggu lebih beberapa hari, akhirnya Riana berhasil pulih dengan baik. Selain pengobatan dari dokter bedah yang mengoperasi Riana kemarin, dia juga mendapatkan penanganan dari psikologis terkait mentalnya yang terguncang pasca di tinggal putra pertamanya.


Riana berhasil pulih dengan cepat dan Ardian selalu ada di setiap proses pengobatannya.


“Kau sudah siap?” Tanya Ardian, lelaki itu sedang menjemput Riana dan Rifa untuk pergi ke pengadilan untuk sidang pertama dari kasus Arianti kemarin.


Riana mengangguk, sudah siap dengan setelan blazer berwarna nude dan juga ramput di kuncir rapi.


Mereka bertiga berangkat, mama dan kakak Ardian sudah menuju lokasi bersamaan dengan Ardian berangkat tadi.


...***...


Sesampainya di pengadilan negeri, jantung Riana berdegup dengan kencang. Disana, sudah ada pengacara yang dibawa Ardian untuk kasus ini.


Mereka langsung masuk dan disana sudah ada panitera pengganti, jaksa penuntut umum, penasehat hukum dan pengunjung sidang.


Riana juga melihat keluarga Arianti dan Nathan turut hadir di acara persidangan itu.


Tidak sengaja, mata Riana beradu dengan Mbak Megan, wanita itu menatap tajam Riana sedangkan yang di tatap malah membalas dengan senyuman ramah.


“Majelis hakim memasuki ruang sidang, hadirin di mohon untuk berdiri” Itu adalah suara dari protokol.


Seluruh orang langsung berdiri diikuti dengan masuknya hakim majelis dari pintu khusus dan duduk di tempatnya masing-masing.


“Hadirin dipersilahkan duduk”

__ADS_1


Riana baru pertama kali memasuki ruangan yang sama sekali tidak ia inginkan sejak dulu. Dia merasa sedikit gugup.


Saat itu hakim ketua terlihat sudah bersiap dengan masalah di hadapannya.


“Sidang pengadilan negeri Kota xxx, yang memeriksa perkara pidana nomor xxx atas nama Saudari Arianti Dewi pada hari xx tanggal xx tahun xxxx dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum”


Tok


Tok


Tok


Pembukaan oleh hakim ketua, diikuti dengan tiga kali ketuk palu.


Duduk di kursi terdakwa jelas membuat wajah Arianti yang sudah tidak terurus semakin terlihat pucat dan takut.


“Selamat pagi terdakwa Arianti?” Sapa hakim ketua, basa-basi.


“S-Selamat p-pagi” Jawab Arianti terbata.


“Sehat ya?”


Arianti mengangguk, “Siap sehat yang mulia”


“Siap melakukan persidangan hari ini?”

__ADS_1


Arianti mengangguk ragu, seolah seperti ‘saya tidak akan pernah siap’ mungkin begitu yang ada di pikirannya, “Siap yang mulia” Jawabnya lesu.


“Pertama saya bertanya dulu nama anda siapa?”


“Arianti Dewi”


“Umur?” Tanya hakim ketua.


“21 tahun”


Woah, banyak pengunjung yang terkejut saat mendengarnya, usianya masih muda tapi, sudah terjerat kasus yang cukup berat?


Setelah bertanya perihal informasi pribadi dari Arianti, hakim ketua mengingatkan pada wanita itu, “Bailah. Saudari Arianti, saya mengingatkan kepada anda untuk memperhatikan segala sesuatu yang anda dengar dan anda lihat dalam selama sidang ini berlangsung” Ucapnya.


Arianti mengangguk, “Siap yang mulia” Jawabnya.


“Apakah anda di dampingi oleh penasehat hukum?” Tanya hakim ketua.


“Ya” Jawab Arianti, dia menoleh pada penasehat hukum yang dibawa oleh keluarganya atas persetujuan Nathan.


Sidang berjalan cukup lancar hari itu, untuk Riana itu terasa berat apalagi untuk Arianti yang sudah menjadi terdakwa tapi, kondisinya juga sedang hamil memasuki trisemester ketiga.


Ada rasa kasihan dalam benak Riana melihat posisi Arianti yang seperti itu tapi, apa boleh buat? Dia menginginkan keadilan untuk putranya yang telah tiada.


Ardian pun dari tempat duduknya hanya terus memberikan semangat dari jarak jauh untuk Arianti, menguatkan wanita itu mungkin dengan tersenyum tenang lalu mengangguk, seolah berkata ‘Kau pasti bisa’, seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2