
“Selamat siang, apa benar ini kediaman ibu Arianti?”
Tiga pria berseragam aparat kepolisian itu sudah berdiri di depan rumah Nathan, ibu-ibu julid tentu saja sudah bergosip di depan rumah saat melihat polisi berada di depan rumah ibu Nathan.
“Pagi-pagi udah ada polisi aja, kenapa ya itu?”
“Kebanyakan hutang mungkin jeng, tau sendiri kemarin-kemarin banyak dept kolektor, pasti itu hutangnya gak di bayar-bayar” Ucap salah satu dari mereka.
Saat itu yang membuka pintu adalah ayah Nathan dengan kursi rodanya.
“Kami membawa surat penangkapan untuk saudari Arianti atas kasus pembunuhan berencana”
Sudah tau dengan apa yang terjadi, ayah Nathan segera mengangguk dan meminta Arianti untuk keluar.
“Arianti, kesini sebentar” Ucapnya.
“Iya, yah” Jawab Arianti dari dalam.
Tapi, langkahnya langsung terhenti ketika melihat polisi berada di depan pintu. Dengan langkahnya yang ragu, dia berlari ke pintu belakang tapi, ternyata disana juga sudah ada yang mebghadangnya.
Tidak ada pilihan lain, Arianti kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.
Nathan yang saat itu sedang tidur langsung terkejut dengan gebrakan suara pintu yang terdengar nyaring.
“Ada apa, hm?” Tanya Nathan dengan nyawa-nya yang belum terkumpul semua.
Arianti hanya menggelengkan kepala, “Jangan dibuka dulu pintunya ya, aku sedang ingin menikmati waktu berdua denganmu” Ucapnya, menutupi kebenaran.
Nathan pun tersenyum, lelaki itu menyuruh istrinya untuk mendekat ke arahnya.
Meskipun dengan jantung yang berdegup kencang, Arianti tetap menuruti suaminya. Dia mendekat dan mulai merangkak ke kasur lantai itu, benar-benar keadaan tidak membuat gairah keduanya padam.
Nathan mencoba meraba setiap inci bagian tubuh Arianti, membel*i pelan, lalu menci*mnya hangat, mereka beradu saliva cukup lama, sampai Nathan juga melepaskan apa yang ia kenakan sekaligus milik Arianti.
__ADS_1
Pelan namun pasti mereka memadu kasih, membiarkan birah* memanaskan gair*h mereka.
Padahal, di luar ruangan sana polisi selain menunggu Arianti keluar, juga asik mengintrogasi ayah Nathan.
“Bagaimana perlakuan saudari Arianti setiap hari?” Tanya polisi pada ayah Nathan.
“Dia berkelakuan baik, mungkin karena dendam dengan mantan istri suaminya dia jadi memiliki niat yang kurang baik” Jawab ayah Nathan suportif.
Ibu Nathan sedang pergi ke pasar pagi-pagi sekali tadi, biasanya pulang sedikit lebih siang.
“Apakah sebelumnya saudari Arianti pernah terlibat kasus semacam ini atau kasus-kasus lain sebelumnya?” Tanya polisi lagi, biar bagaimana pun Ayah Nathan adalah salah satu saksi di TKP saat kejadian itu terjadi.
Setelah berbincang cukup lama, ayah Nathan lalu bertanya, “Apakah dia baik-baik saja?” Tanyanya, menanyakan keadaan Riana pada polisi.
“Kami kurang tau tapi, dari laporan yang kami terima, koran masih masa pemulihan pasca operasi” Ucap pak polisi.
Ayah Nathan hanya mengangguk, bernapas lega karena itu artinya Riana masih baik-baik saja (menurutnya).
Di waktu yang sama, terlihat ibu Nathan baru turun dari tukang ojek dengan ibu-ibu yang sudah bergerumbul di abang tukang sayur.
“Eh, jeng sini sebentar dong” Ajak salah sau dari mereka.
Dengan langkah angkuhnya, ibu Nathan berjalan menuju ibu-ibu itu.
“Itu kenapa jeng? Ada masalah apa? Kebanyakan hutang ya sampai di datengi polisi”
Deg
Jantung ibu Nathan berdetak begitu cepat, apa yang di maskud tetangga-tetangganya.
“Jangan ngomong yang nggak nggak ya, bu. Saya bisa tuntut kalian atas dasar pencemaran nama baik” Ucap ibu Nathan dengan wajah marahnya.
Ibu-ibu itu langsung saling menatap satu sama lain dengan pandangan remeh.
__ADS_1
“Ih, kok sewot begitu jeng. Itu di rumahnya emang lagi ada polisi, pagi tadi udah datang, sekarang juga masih belum keluar, liat aja kalau tidak percaya”
Tanpa menjawab, ibu Nathan segera pergi ke rumahnya, dengan langkah cepat berharap tiba dengan cepat.
“Saudari Arianti, jika anda tidak lekas keluar, kami terpaksa mendobrak pintu ini” Ucap polisi tepat di depan pintu kamar Arianti dan Nathan.
Nathan yang memang tidak tau apa-apa langsung menatap Arianti bingung.
“Ada apa?” Tanya Nathan.
Arianti dengan cepat menggunakan bajunya dan melihat Nathan, “Aku tidak mau dibawa mereka, tolong aku Nathan” Melasnya.
“Dalam hitungan ketiga, jika anda tidak membuka pintu ini kami benar-benar akan mendobraknya”
“Satu”
Mendengar hal itu Nathan yang sudah mengenakan boxer langsung berdiri dan berniat membuka pintu tapi, Arianti menahannya sambil menggelengkan kepala. Nathan tidak peduli, dia harus tau apa yang terjadi.
“Dua”
Ceklek
“Ada apa ya, pak?” Tanya Nathan, dia jelas begitu terkejut melihat tiga orang polisi sedang berada di hadapannya.
“Kami membawa surat perintah penangkapan saudari Arianti atas kasus pembunuhuan berencana kepada nyonya Riana” Ucap pak polisi.
Arianti pasti mendengar hal itu, dia meringkuk di pojokan kamar. Dengan terpaksa, Nathan membiarkan polisi itu menyeret istrinya paksa daripada dirinya juga terjerat kasus melindungi penjahat.
“Tidak pak, saya tidak mau. Saya tidak melakukan apapun”
“Saya tidak mau”
Begitu teriakan Arianti mengundang banyak pasang telinga datang melihat. Pas dengan keluarnya Arianti dari dalam rumah, saat itu juga ibu Nathan datang, melihat menantunya sudah di seret polisi.
__ADS_1