Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
New Problem


__ADS_3

Riana pulang dengan taxi, wanita itu bahkan tidak bisa bersenang-senang di acara pesta malam ini.


“Sial*n” Gumam Riana, membanting tasnya ke ranjang, wanita itu segera masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengayuh gayung berisi air itu ke seluruh tubuhnya.


Hiks


Dia menangis di tengah guyurannya. Dia tidak tahan, tekanan batin sekali sepertinya.


“Kenapa? Kenapa sehancur ini ceritanya, Tuhan?” Gumamnya, mengadu pada bapa yang selama ini ia agung-agungkan.


Dia menghapus make upnya dengan sabun wajah, membiarkan busa-busa itu menyapu bersih polesan dan juga air mata menyatu disana.


“Yeah, I can do it” Ucap Riana lalu keluar dari kamar mandi seperti biasa, yang ia herankan adalah Nathan, lelaki itu bahkan tidak pulang atau sekedar menyusulnya di jalan tadi?


“Apa dia benar-benar mencintaiku huh?” Ucap Riana lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, badannya terasa remuk redam tidak karuan.


...***...


“Hei, kemana perginya istrimu? Apa dia merengek ingin pulang?” Sapa Nella, gadis yang tadi menyapa Nathan dan Riana.


“Ya, dia pulang duluan katanya lelah ingin istirahat” Ucap Nathan, menjelaskannya secara baik seperti yang dikatakan Riana tadi.


“Ingin istirahat atau malah malu dengan wajahnya? Cih, kenapa bisa kau dengan wanita seperti itu?” Tanya Nella lagi.


Tidak hanya Nella dan Nathan, disana teman-teman kelas Nathan sedang berkumpul.


“Kau ini tampan, Nathan. Mantan-mantanmu memiliki standart yang tinggi perihal kecantikan, sedangkan siapa tadi namanya? Riana? Dia bahkan jauh di bawah Nella apalagi Arianti” Ucap temannya yang lain.


“Ah iya, Arianti. Bukankah hubunganmu dengannya sudah cukup lama? Berapa lama?”


“Tiga tahun” Jawab Nathan singkat.


“Nah, apa kau tidak sayang dengan hubungan yang sudah selama itu kau jalani?” Tanya seseorang yang lain.


Nathan hanya tersenyum simpul sebagai jawaban, anatara malu dan juga tidak tau harus menjawab apa.


“Aku lebih suka kau dengan Arianti, gadis itu terlihat baik, lugu, cantiknya natural dan sepadan dengan dirimu”

__ADS_1


“Apa alasanmu mengakhiri hubungan dengan Arianti?”


“Sikapnya, dia seperti anak kecil, tidak bisa dewasa dalam berpikir dan menyangkut pautkan semua masalahnya ke dalam hubungan kami” Nathan menjawabnya dengan lugas, seolah Arianti lah yang salah pada ceritanya, meskipun tidak ada yang tau bagaimana cerita asli versi keduanya.


“Apa tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik sampai harus putus dan memilih wanita standart rendah seperti Riana?”


“Jika aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Arianti maka, ceritanya tidak akan seperti ini, aku lelah bermain-main, sudah saatnya memikirkan masa depan dan Riana adalah satu-satunya yang bisa menerima keadaanku saat ini” Nathan hanya menjelaskan itu, mana mau dia menjelaskan bahwa bahkan mobil yang ia bawa saat ini adalah milik Riana, tentu tidak.


Lelaki itu bahkan terlihat mengantar seorang gadis pulang menggunakan mobil milik Riana dan parahnya itu terjadi di pagi hari buta.


Sesampainya di rumah, Riana sedang memasak di dapur sedangkan Nathan dengan santainya masuk tanpa menyapa istrinya.


Riana pun terlihat tidak begitu peduli, sekarang ia akan mengikuti alur dari suaminya.


Ibu mertua keluar dari kamar dengan membawa baju kotor ke keranjang tempat biasa, pasti membiarkan Riana bekerja lagi untuk itu.


Cih


Dia benar-benar seperti babu di rumah itu.


“Riana, ibu mau berbicara sebentar denganmu” Ucap ibu mertuanya, tumben sekali dengan nada kalem, tidak sinis atau judes seperti biasa.


Setelah menyiapkan sarapan di meja makan, Riana duduk di dekat ibu mertuanya.


“Mau biacara apa, Bu?” Tanya Riana.


Cara duduk wanita paruh baya itu terlihat sedikit gelisah, bingung memulai pembicaraan darimana.


“Begini, apa Nathan sudah cerita perihal keuangan keluarga ini?” Ucap ibu mertua mengawali pembicaraan.


Riana menggeleng sebagai jawaban.


“Kami berencana untuk menjual rumah ini, sekaligus motor yang digunakan Nathan untuk membayar hutang”


Deg


Hutang?

__ADS_1


“Hutang apa kalau boleh tau?” Potong Riana.


“Hutang dengan salah satu saudara kami” Jawab ibu mertuanya singkat.


“Berapa?”


“150 juta” Wanita paruh baya itu tidak begitu berani menatap Riana.


“150 juta? Untuk apa uang sebanyak itu?” Tanya Riana lagi.


“Untuk kebutuhan hidup”


Riana sedikit menyeringai, “Aku kira untuk resepsi pernikahan kami kemarin”


“Itu masuk di tanggungan bank”


What the heck?


“Jadi, resepsi kemarin juga uang hasil pinjam?” Tany Riana, memastikan bahwa telinganya cukup baik untuk mendengar yang dikatakan ibu mertuanya.


Wanita paruh baya itu mengangguk sebagai jawaban.


“Berapa?”


Riana mungkin sudah tidak bisa lagi banyak berkata dengan apa yang ia dengar pagi ini.


“85 juta”


Huh


Riana menghembuskan napasnya kasar. Masalah apalagi kali ini, Tuhan? Begitu kira-kira pertanyaan yang mampu ia batin pada sang pencipta.


“Apa jaminannya?”


“Sertifikat rumah”


Booom

__ADS_1


Rumah yang akan dijual ini tidak memiliki sertifikat?


Riana memijat pelan keningnya, “Bu, aku akan membahas ini dengan Nathan nanti, ajak ayah sarapan aku akan bersiap untuk bekerja” Ucap Riana lalu meninggalkan ibu mertuanya sendirian di meja makan.


__ADS_2