
Klek
Terdengar suara pintu ruangan terbuka, Ardian diikuti yang lainnya langsung menuju ke arah sang dokter.
“Bagaimana, dok?” Tanya Ardian.
Dokter itu mengangguk, “Berjalan dengan baik tapi, Tuhan memang lebih sayang putra anda” Ucapnya.
Ardian bernafas lega, meskipun dalam hatinya juga menjerit resah, bagaimana dia harus menjelaskan ini kepada Riana nanti?
Bagaimana jika Riana bertanya nanti?
Bagaimana jika nanti Riana mencari anaknya?
Apa kata dokter tadi? Putra? Pasti dia begitu tampan, Riana menginginkan anak pertamanya adalah laki-laki agar bisa menjaganya dan sang mama kelak.
Rifa hanya terdiam, entah apa yang sedang ada di pikirannya, jelas merasa sedih tapi, raut wajahnya benar-benar tidak bisa dibaca dengan baik.
“Apa sudah bisa dijenguk dok?” Tanya Rifa.
“Nanti kalau sudah berada di ruang rawat inap, pasti bisa di jenguk, sekarang pasien sedang masa sterilisasi dari obat biusnya, setelah siuman, nanti kami pindah ke ruang VIP seperti yang sudah diminta suaminya” Ucap sang dokter.
__ADS_1
“Baik, terimakasih” Ucap Rifa.
Sang dokter pun pamit sedangkan Rifa masih terdiam kaku di depan pintu, memandangan pintu itu kosong.
“Ma? Maafkan Ardian” Gumam Ardian pada Rifa, rasa bersalahnya sudah memuncak melihat Rifa begitu terpukul.
“Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Mereka yang harus bertanggung jawab atas ini” Sahut Rifa, matanya mulai menggenang dengan air mata.
“Ardian, boleh minta tolong?” Tanya Rifa.
Ardian mengangguk cepat, “Boleh ma, katakan apa yang harus aku lakukan?” Tanya Ardian.
“A-Apa tidak sebaiknya jika kita melakukan pemakaman sebelum Riana siuman?” Tanya Ardian, takut jika nanti itu akan merusak mental Riana atau bahkan menjadi bayang-bayang trauma untuk Riana.
“Dia akan semakin terpukul ketika tidak sempat melihat anaknya” Ucap Rifa.
Ardian pun hanya mengangguk, setuju dengan Rifa. Sedangkan mamam Ardian sendiri sudah menenangkan Rifa, mengelus punggung wanita yang sebaya dengannya itu, memberikan kekuatan untuknya.
“Dunia ini benar-benar tidak adil, putriku selalu memperjuangkan sesuatu dengan baik tapi, dirinya sendiri harus memakan getahnya tanpa tau bagaimana nikmatnya” Gumam Rifa.
“Dia bertahan sejauh ini pasti bukanlah hal yang mudah, melawanku berharap mendapat kebahagiaan tapi, malah diperlakukan tidak baik, belum lagi keberadaan anaknya yang tidak di akui oleh suaminya sendiri berakhir dengan pemerasan begini?”
__ADS_1
“Tuhan sedang membuat lelucon macam apa untuk Riana?”
Rifa menangisi nasib putrinya di depan pintu ruangan.
Ardian melihat itu, melihat bagaimana hancurnya Rifa karena kegagalannya menjaga Riana. Seperti teriris hatinya mendengar isak tangis wanita paruh baya yang ia anggap seperti ibu keduanya.
“Sejahat itu mereka dengan putriku, sebenarnya dosa apa yang telah dilakukan putriku di kehidupan sebelumnya hingga harus menelan pahitnya kedewasaan seperti ini?” Gumamnya lagi.
“Sabar, bu. Tuhan maha adil, Riana pasti bisa menata hatinya lagi, pasti bisa bangkit dari luka ini, Riana adalah wanita yang kuat” Ucap mama Nathan, menenangkan ibunda Riana.
Dua wanita sebaya itu sama-sama mengerti bagaimana perasaan Riana di dalam sana jika tau hal ini terjadi padanya.
Tapi, apa boleh buat?
Riana bahkan tidak bisa melawan takdirnya sendiri sekarang.
Tidak mau melihat hal itu terlalu lama, Ardian segera pergi untuk menunaikan ibadahnya lalu pergi ke kelurahan tempat dimana Riana di lahirkan untuk mengurus berkas-berkas pemakaman besok pagi.
Sedangkan kakak Ardian sudah berlalu menuju kantin untuk membelikan dua mamanya makanan.
Sedangkan ayah Ardian? Lelaki itu langsung mengurus semuanya ke polisi, bersama dengan menantu laki-lakinya setelah dari laboratorium.
__ADS_1