
Ardian benar-benar menepati janjinya, pagi-pagi sekali lelaki itu sudah berada di kediaman Riana, bahkan sudah membawa sarapan juga.
Tok
Tok
Tok
Lelaki itu langsung masuk menggunakan kunci yang ia bawa, kali ini dia hanya perlu membangunkan Riana untuk siap-siap.
“Riana”
Tok
Tok
Tok
Ardian membangunkan wanita itu dengan sabar, meskipun sebenarnya dia ingin masuk saja dan membangunkannya secara langsung.
Di lihat dari CCTV, Riana sudah menggeliat pelan. Tanpa basa-basi, Ardian langsung menelfon Riana.
“Halo”
“Aku sudah di luar, segeralah bersiap. Aku menunggumu di ruang keluarga” Ucap Ardian.
Hal iu sontak membuat Riana segera tersadar, lupa jika dirinya ada janji dengan mantan kekasihnya itu.
“Ah iya, aku akan segera bersiap”
__ADS_1
Riana langsung memutuskan sambungan panggilan mereka dan lari tunggang langgang kesana kemari. Sampai situ saja Ardian mengamati Riana, selebihnya dia hanya akan menunggu sambil menyapu dan membuatkan Riana susu.
“Sudah selesai?” Tanya Ardian saat melihat Riana sudah rapi.
Riana mengangguk, “Ayo berangkat” Sahutnya.
“Sarapan dulu, aku sudah menyiapkannya untukmu” Ardian membawa Riana ke meja makan, di bukanya penutup saji itu yang langsung memperlihatkan satu mangkuk bubur ayam dan juga satu gelas susu dengan rasa yang berbeda.
“Kau membeli berapa banyak jenis susu hm?” Tanya Riana, wanita itu mendaratkan bok*ngnya di kursi dan meneguk sedikit susu strawberry-nya.
“Aku membeli semua varian rasanya” Ucap Ardian.
Riana mengangguk mengerti, “Kau terlalu repot saja. Tidak sarapan juga?” Tanyanya, mengangkat sendok yang masih berisi bubur.
Ardian tersenyum lalu,
Hap
Riana tentu saja tertegun, Ardian tidak pernah mengubah sikap manis itu padanya. Lama juga rasanya tidak menyuapi seseorang.
Menyadari perubahan itu, Ardian segera pamit ke ruang tamu.
...***...
Mereka telah tiba di ruangan dokter kandungan, Ardian benar-benar menemani Riana untuk memeriksakan kesehatan ibu dan bayi itu.
“Nah, ini adalah anaknya Pak, Bu. Dia menyembunyikan wajahnya dan masih tidak mau menunjukkan jenis kelaminnya”
Ardian harus meneguk salivanya berkali-kali.
__ADS_1
Melihat perut buncit Riana membuat lelaki itu berpikir, ‘itu di dalamnya ada anaknya?’. Agak lain memang tapi, dia kan tidak pernah menyaksikan pemandangan seperti itu sebelumnya. Dulu, kakak perempuannya menghabiskan waktu di rumah sang mertua, dia juga tidak pernah mengantar sang kakak untuk hal ini.
Sebenarnya Ardian juga cukup tertegun haru, layar yang menunjukkan sketsa gumpalan daging manusia di dalam perut Riana itu cukup membuatnya merasa mencelos. Entah kenapa, hatinya damai dan tenang.
Apalagi Riana. Jangan di tanya lagi, wanita itu malah sempat meneteskan air matanya mengingat itu adalah kali pertamanya melakukan pemeriksaan dan melakukan USG.
“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Ardian.
“Mari, saya jelaskan di meja sembari menunggu hasil USG-nya keluar”
Sang dokter membawa ‘menurutnya’ sepasang suami istri itu ke mejanya.
“Jadi begini, kandungan Bu Riana ini terbilang lemah mungkin karena sebelumnya tidak pernah mengecek kandungan secara rutin, tidak mencukupi kebutuhan nutrisi untuk dirinya sendiri dan bayi serta yang terakhir stres atau banyak pikiran bisa menjadi salah satu penyebabnya”
Ardian melihat Riana sekilas, wanita itu tertunduk mungkin merasa bersalah atau apa Ardian tidak tau tapi, jelas dari sorot matanya menyiratkan kesedihan.
“Lalu, bagaimana cara mengatasinya, dok?” Tanya Ardian.
“Periksa secara rutin, jangan terlalu lelah bekerja, kurang berpikir hal-hal yang neatif dan konsumsi makanan yang tinggi nutrisi. Sebisa mungkin jaga berat badan dan tekanan darah tetap stabil”
Sang dokter menjelaskannya sambil menulis beberapa resep yang di butuhkan untuk Riana.
“Bapaknya juga tolong menjadi suami yang siaga, kasian istrinya jika diforsir terus, sebisanya jangan lakukan hubungan badan dulu”
Ardian dan Riana langsung melotot, saling melihat satu sama lain lalu sama-sama membuang muka. Cih sangat memalukan, pikir Riana.
“I-iya dok” Jawab Ardian, memberikan kesan ‘suami’ yang baik di depan sang dokter.
“Baiklah, ini resep vitaminnya. Diminum satu kali sehari saja sebagai penguat rahim dan yang satunya ini di minum dua kali sehari untuk menormalkan tekanan darahnya” Jelas dokter tersebut memberikan resepnya.
__ADS_1
“Terimakasih, dok” Sahut Ardian lalu membawa Riana pergi.
Jika dilihat-lihat, mereka memang seperti sepasang suami istri. Siapa yang akan mengira bahwa ternyata mereka mantan kekasih?