
Keesokan harinya, Riana benar-benar pergi ke kediaman teman Lea yang katanya akan memberikan materi kepada Riana.
“Masyaallah, begitu indah cara Allah memberikan hidayah kepada umatnya” Gumam Siti, teman Lea.
Siti sudah diberi tahu oleh Lea perihal kedatangan Riana kesana.
“Mbak, di negara kita ini jika mau masuk islam dan diakui oleh negara kita harus melakukannya di KUA dengan beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai syarat-syaratnya” Ucap Siti, menjelaskan bagaimana tata cara memasuki ajaran agama islam secara administratif.
“Syarat-syarat untuk menjadi mualaf dalam islam sendiri ada beberapa tahapan, tidak hanya mengikrarkan dua kalimat syahadat, tetapi masih ada beberapa hal yang perlu anda lakukan, seperti mandi besar dan juga menunaikan sholat lima waktu dan memahami setiap rukun islam yang ada”
“Saya akan melakukannya di KUA dengan anda dan juga ketua RT di tempat tinggal saya yang akan menjadi saksi” Sahut Riana.
“Baiklah, sudah membuat janji dengan pak RT-nya?” Tanya Siti.
Riana mengangguk, sudah memiliki janji di KUA pukul setengah sembilan.
Siti melihat jam-nya, “Ini sudah jam delapan, kalau begitu mari kita kesana” Ucapnya.
Mereka melaju menuju KUA, Riana sudah menyiapkan surat-surat yang akan digunakan nanti.
Sesampainya di KUA, mereka segera menemui pihak sana dan melangsungkan proses mualaf-nya Riana.
__ADS_1
“Asyhadu an laa ilaaha illallahu. Wa asyhaduanna muhammadar rasulullah”
Dua kalimat syahadat, berhasil keluar dari bibir Riana.
Dengan perasaan berdebar, wanita itu meneteskan air matanya. Entah perasaan bahagia seperti apa yang ia rasakan saat ini, senyum indah terukir dari wajah cantiknya.
“Alhamdulillah” Gumam Siti dan Lea bersamaan.
“Bu, karena sudah melakukan syahadat, saya sarankan agar ibu ini segera mandi besar nanti, dan jangan lupa amalkan lima rukun islam.
Yang pertama, membaca dua kalimat syahadat. Yang kedua, melaksanakan sholat. Selanjutnya, melaksanakan puasa. Setelah itu, membayar zakat. Dan yang terakhir, berangkat haji jika mampu.
“Amiiin” Gumam Lea dan Siti bersamaan.
Setelah urusan mereka di KUA selesai, Riana kembali ke kediaman Siti. Disana, ia dibimbing untuk melakukan mandi besar terlebih dahulu.
Setelah sudah selesai, barulah Riana diberikan buku-buku pembelajaran dasar tentang islam.
Ada tata cara sholat yang benar, ada pula materi perihal puasa dan zakat, selanjutnya beberapa kitab yang ia dapat dari pondok pesantren.
“Mbak, ini ada beberapa kitab yang setidaknya bisa di pelajari tapi, saya harap mbak menyelesaikan dulu dasar-dasarnya dari buku-buku dasar itu” Siti menunjuk tiga buku yang ia berikan pertama kali.
__ADS_1
“Mbak tau tidak ada beberapa keistimewaan saat kita dilahirkan menjadi seorang muslim?
Pertama, kita akan di hapus dari segala keburukan insyaallah. Allah sudah menjanjikan itu kepada umatnya, seperti yang di kutip dalam sebuah Hadist Riwayat Nasai, yang intinya begini,
bagi muallaf yang menjalakan syariat-syariat Islam dengan baik dan sesuai, maka Allah SWT akan membalaskan padanya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat pahala dari kebaikannya. Begitu juga jika melakukan keburukan, akan dibalas setimpal dan sama kecuali jika Allah SWT mengampuninya.
Keistimewaan selanjutnya adalah Rezeki yang akan selalu cukup dari Allah SWT. Janganlah merasa kurang dari segi apapun, tetaplah merasa bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Karena sesungguhnya Allah maha tau dan maha cukup ketika memberikan kita rezeki.”
Penjelasan yang diberikan Siti cukup membuat Riana tidak lagi berkecil hati, itu semakin memotivasi dirinya untuk terus menebar kebaikan.
“Apa aku boleh sedikit demi sedikit saja dalam menutup diri? Maksudnya, saat menggunakan jilbab?” Tanya Riana.
“Bagi seorang wanita, aurat itu ada di seluruh tubuhnya kecuali, wajah dan telapak tangan. Dan untuk seorang muslimah yang sudah baligh, hukumnya wajib menutup auratnya. Tapi, Islam tidaklah menghakimi, mbak Riana.
Bahkan seorang pelac*r pun bisa masuk surga hanya karena menolong seekor anjing.
Ini adalah kisah pada zaman Nabi Muhammad SAW, dimana saat ada seorang pelac*r yang sedang berjalan di teriknya mentari. Lalu, di tengah perjalanan dia menemui seekor anjing yang mengitari sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya, dimana ternyata anjing itu tengah kehausan. Hati wanita itu merasa iba, dia luluh dan melepas sepatunya untuk menimba air dari dalam sumur dan memberikan air itu kepada sang anjing.
Bayangkan, jika wanita penghibur yang menjajakan tubuhnya saja bisa masuk surga karena hal yang begitu sederhana, bagaimana jika kita mampu menutup aurat dengan sempurna dan menjalankan syariat-syariat Islam dengan baik?
Kita hidup ini adalah sebuah pilihan, mbak Riana. Jika memang belum siap, tidak apa. Pelan-pelan saja dan nikmati setiap prosesnya” Begitu penjelasan Siti yang begitu meresap di pikiran Riana.
__ADS_1