
Terlihat ibu Nathan bersama dengan Nathan dan keluarga Arianti memasuki ruangan VIP rumah sakit, langsung membuka pintu ruangan Riana.
Sontak wanita itu langsung terbangun dari tidurnya karena suara gebrakan pintu yang kuat.
Disana hanya ada Ardian dan Rifa yang menjaga Riana.
Dengan langkah cepat, ibu Arianti langsung menghampiri ranjang Riana. Mengetahui ada yang tidak beres, Ardian segera bangkit dari duduknya lalu menghadang ibu Arianti yang semakin mendekat ke arah Riana.
“Ada perlu apa?” Tanya Ardian, suaranya terdengar tenang tapi, begitu dingin menusuk.
“LEPASKAN, AKU MAU MEMBERI PELAJARAN DENGAN WANITA INI” Teriak ibu Arianti.
Tatapannya penuh kebencian kepada Riana, mungkin karena Riana adalah penyebab putrinya masuk penjara?
“Turunkan nada bicara anda, nyonya. Ini bukan hutan” Ucap Ardian.
Ibu Arianti melayangkan tangan kanannya, berniat menampar Ardian yang menghalangi jalannya? Tapi, belum sempat sampai di pipi Ardian, lelaki itu langsung mencegahnya. Tidak peduli jika wanita paruh baya di hadapannya ini seusia dengan mamanya.
“LEPASKAN” Teriak ibu Arianti, memberontak karena tidak bisa melepaskan tangannya dari cengkraman Ardian.
“Jika anda datang untuk menyalahkan tuntutan itu maka, aku adalah orang yang mengajukan tuntutan tersebut” Sahut Ardian.
Hening.
__ADS_1
Untuk beberapa detik, Ardian akhirnya melepaskan cengkramannya yang tidak begitu kuat.
“Jika arianti tidak melakukan kesalahan maka, aku tidak akan melakukan hal ini” Lanjut Ardian.
Ibu Arianti mendelik, “Dia sedang hamil, apa kau tidak memikirkan bagaimana keadaannya di dalam sana?” Ucapnya ketus.
“Lalu apa bedanya dengan Riana?” Sahut Ardian.
“Apa anda tau akibat dari perbuatan putri anda?” Lanjut Ardian.
Baik itu ibu Arianti atau ibu Nathan bahkan Nathan sendiri hanya diam, mereka memang tidak tau apapun perihal kesehatan Riana pasca kejadian kemarin.
Ardian menyunggingkan senyum miringnya, “Cih, ayah macam apa yang datang untuk membela pembunuh” Sahut Ardian menatap Nathan.
Nathan seperti orang bod*h disana, dia tidak mengerti apapun.
Sudah tidak ada yang mampu menjawab ucapan Ardian yang terdengar sudah gemas dan greget.
“Sudah puas? Bukankah adil jika misal Arianti melahirkan di balik jeruji besi? Bahkan anaknya masih bisa selamat” Lanjut Ardian.
Itu terdengar sebuah ancaman dan cara Ardian meremehkan orang-orang di hadapannya.
“Ingat, bagaimana kalian membuat wanita yang berbaring disana menderita. Pergi saja dan jangan pernah ganggu kehidupannya atau kalian juga aku tuntut atas kasus membuat ketidak nyamanan atas privasi seseorang”
__ADS_1
Ardian sudah tidak tahan, dia sudah tidak mau mengalah apalagi membiarkan Riana menyelesaikan masalahnya sendiri.
Rifa bahkan tidak bisa berkutik dengan sikap Ardian, lelaki itu mengeluarkan sikap arogannya di waktu yang tepat atau kepada seseorang yang tepat?
“Cih, siapa kau berani mengancam kami?” Ucap ibu Nathan.
“Lalu siapa anda beraninya menginjakkan kaki di sekitar kami?” Sahut Ardian.
Sungguh, dia sebenarnya tidak ada keinginan untuk berlaku kurang ajar tapi, yang ada di hadapannya saat ini sikapnya tidak manusiawi, di luar nalar tidak tau dirinya.
“Dan kau” Ardian menatap Nathan, “Urus saja istrimu dengan baik, tidak usah repot-repot menunjukkan batang hidungmu di depan Riana” Ucapnya.
“Siapanya Riana kau mengatakan hal itu padaku? Bagaimana jika ternyata aku lebih memilih kembali ke Riana nanti? Dia menyayangiku, ada kemungkinan untuk kami kembali” Jawab Nathan.
Riana menatap Nathan jijik, bisa-bisanya kalimat itu keluar dari mulut mantan suaminya.
“Minimal setarai aku dulu dari segi manapun” Ucap Ardian sambil tersenyum remeh.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
“Buka saja, pak” Ucap Ardian saat mendengar pintu ruangan di ketuk, dia sudah tau siapa yang datang.
Rifa sudah menghubungi satpam barusan atas permintaan Riana. Dia sudah pusing, tidak suka dengan keberadaan mereka.