
Mereka memasuki kawasan perumahan elite, meskipun tidak begitu mewah tapi, jelas area perumahan itu terkenal dengan harganya yang cukup fantastis.
“Sebenarnya kamu tinggal dimana?” Tanya Rifa pada Riana.
Riana diam, memikirkan jawaban yang paling tepat.
“Itu rumah Ardian, ma” Sahut Riana.
Ardian pun langsung menoleh pada Riana, “Itu rumah kami tepatnya. Kami menabung selama dua tahun penuh untuk melunasi rumah itu” Ucapnya, memberikan kejelasan.
Rifa melihat kedua sejoli di depannya, “Dan tidak ada yang bilang dengan mama?” Tanyanya.
Ehem
Ardian berdehem, “Bukannya tidak ingin memberitahu, ma. Rumah itu seharusnya ditempati setelah kami menikah tapi, kenyataan berkata lain”
Ardian sebenarnya tidak mau mengungkit hal itu tapi, apa boleh buat? Dia tidak punya pilihan lain daripada ada kesalah pahaman atau apa.
Ardian memutar setirnya pada sebuah rumah, lelaki itu turun untuk membuka gerbang lalu memasukkan mobilnya ke garasi yang sudah diisi dengan mobil Riana sebelumnya.
“Ma, ayo masuk”Ajak Riana.
Sementara Ardian memasukkan mobilnya, Riana dan Rifa masuk ke dalam rumah.
“Kau tinggal disini? Pantas saja tidak mau pulang, disini lebih nyaman” Ledek Rifa, interior yang cukup bagus membuat rumah itu terlihat elegan meskipun terkesan minimalis.
__ADS_1
Ardian masuk, membawa barang-barang Rifa yang dibawa untuk keperluan menginap. Alih-alih seperti supir, lelaki itu malah memberi kesan menantu yang baik.
“Ah iya, mama lupa kopernya” Rifa berdiri hendak mengambil kopernya tapi, Ardian segera menghentikannya, “Tidak usah ma, biar Ardian yang bawa ke kamar mama” Ucap Ardian.
Riana juga menyiapkan camilan dan minuman untuk mereka semua nanti. Melihat kekompakan Riana dan Ardian membuat Rifa terenyuh, takdir putrinya mungkin memang tidak baik tapi, dia bersyukur karena Riana memiliki Ardian yang sepertinya tulus dengan Riana.
Setelah selesai, mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga.
“Jadi, kenapa kau tiba-tiba meninggalkan kediaman suamimu?” Tanya Rifa, to the point. Wanita paruh baya itu mana mungkin mau mengulur waktu lagi.
“Aku akan keluar dulu” Ucap Ardian, mengingat dia tidak seharusnya ada di percakapan itu. Tau sendiri semalam Riana bahkan menghentikan ucapannya, tidak mau bercerita.
“Diam saja disini, aku tidak mengusirmu” Sahut Riana, menghentikan langkah Ardian.
Saat itu juga, Ardian yang sebenarnya juga penasaran langsung duduk manis menghadap Riana. Mereka, Rifa dan Ardian sama-sama menunggu Riana menguatkan diri untuk bercerita.
Deg
Hanya itu yang keluar dari mulut Riana tapi, mampu mengobrak-abrik hati pendengarnya.
“Ceritakan dengan jelas” Sahut Ardian.
Huh
Riana menghembuskan napasnya, melepaskan segala beban pikirannya perlahan.
__ADS_1
“Aku mengetahui dia selingkuh di awal bulan kehamilan. Saat itu kami tidak bertengkar hebat, aku hanya diam dan akhirnya memilih untuk memberi kesempatan meskipun sebenarnya apa yang dilakukan terkesan fatal”
“Memangnya apa yang dilakukan?” Tanya Ardian.
“Seharusnya kau mengerti apa yang dia lakukan dengan Arianti” Sahut Riana.
Ardian mengangguk, “Lanjutkan” Ucapnya.
Riana lagi-lagi menghembuskan napasnya pelan. Benar, beban hidupnya begitu sulit dirasa.
“Selanjutnya, beberapa hari yang lalu dia pamit kondangan dengan Arianti, bersamamu kan?” Tanya Riana pada Ardian.
Ardian mengangguk setuju, dia memang kondangan dengan Roza dan juga Nathan yang membawa Arianti di sampingnya.
“Saat itu, aku mengunjungi rumah mertuaku sepulang dari toko. Hal yang begitu aku kejutkan ketika melihat Arianti di ruang tamu, aku urung masuk rumah, memilih menguping saja. Keluarga Nathan menyetujui jika Nathan selingkuh dengan Arianti, setelah itu aku pulang dan paginya aku bertengkar hebat dengan Nathan. Saat dia pulang, aku memberitahunya perihal kehamilanku, berharap dia mau menerima anak ini nyatanya dia malah menyuruhku menggugurkannya” Ucap Riana.
Sambil menangis, dia hanya menceritakan inti dan duduk masalahnya.
“Lalu, aku harus apa? Aku jelas tidak mau pernikahanku berakhir menyedihkan begini” Sahut Riana.
Rifa yang sudah geram pun hanya melihat Riana nanar, “Ceraikan dia” Sahutnya. Singkat, jelas dan padat.
“T-Tapi, maa hiks” Riana menangis sesenggukan. Pikirannya melayang jauh, takut menjadi seorang janda di usianya yang terbilang masih sangat muda.
“Kau tau bukan, dalam suatu hubungan ada dua hal yang tidak ada kata maafnya. Satu, perselingkuhan dan selanjutnya adalah kekerasan. Kau sudah memberikannya kesempatan tapi, dia mengulanginya lebih parhah. Apa yang kau harapkan dari lelaki seperti itu? Tidak usah takut, mama akan selalu bersamamu” Ucap Rifa, wanita itu memeluk sembari mengelus pelan punggung Riana, menyalurkan kekuatan disana.
__ADS_1
Ardian melihat sisi rapuh itu yang bahkan sembilan tahun bersama, dia tidak pernah membuat Riana menangis sampai sebegitunya. Sehebat apa mereka bertengkar, Ardian tidak pernah membiarkan Riana menangis hancur.
“Jika kau menceraikan dia, aku akan bertanggung jawab atas anak itu”