Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Ardian Seorang Muslim?


__ADS_3

Riana dan seluruh keluarga Ardian berkumpul di ruang keluarga. Ditemani beberapa camilan dan minuman, mereka berbincang dari pembahasan yang ringan sampai dengan yang berat. Seperti sekarang ini misalnya.


“Riana, apa perceraianmu dengan Nathan sudah selesai di urus?” Tanya mama Ardian.


Riana menggeleng, sebagai tanda bahwa urusan percerainnya belum rampung sempurna, “Tinggal menunggu sidangnya,ma” Sahutnya.


“Apa kau tau jika suamimu menikah lagi?”


Deg


Baik Riana menatap Ardian, seolah bertanya ‘apa kau tau?’. Ardian mengangguk, “Dengan Arianti” Jawabnya.


Riana mengepalkan tangannya, perasaan marah, benci, kecewa bercampur menjadi satu.


“Dan sepertinya, wanita itu sedang mengandung. Hal itu terlihat jelas saat resepsi. Apa dia tau jika kau juga sedang mengandung anaknya”


Riana mengangguk, mulai merasa iba dengan dirinya sendiri. “Tapi, seperti yang mama tau dia sama sekali tidak menginginkan anak ini” Ucapnya.


“Memang laki-laki brengs*k. Setelah ketuk palu, segera nikahi Riana, Ar. Jangan menunggu terlalu lama, kalau bisa sebelum persalinan Riana nanti, kau sudah harus mengucapkan akad”

__ADS_1


Wait?


Apa kata mama Ardian tadi?


“Ar, kau sudah mengatakan dengannya bukan?” Tanya kakak Ardian.


Ardian menggeleng sebagai jawaban bahwa ada sesuatu yang dia tutupi dan belum dikatakan kepada Riana.


“Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Ar?” Tanya Riana.


“Tidak, aku hanya belum mengatakannya padamu” Sahut Ardian, menyangkal tuduhan Riana bahwa dirinya menyembunyikan sesuatu.


“Dasar bocah gil*, kau mau menikahinya tapi, kau tidak mengatakan semuanya. Bocah macam apa kau ini” Hardik kakak Ardian, bahkan wanita itu dengan entengnya melayangkan pukulan mautnya di bahu adik laki-lakinya.


“Ehm” Ardian berdehem sejenak, mengumpulkan keberanian yang mungkin saja nanti wanita di hadapannya itu akan memilih mengubah keputusannya untuk terus bersama Ardian ‘lagi’.


“Riana, aku… Satu bulan setelah kau menikah dengan Nathan aku memutuskan untuk mengubah keyakinanku ke Islam. Aku berjalan-jalan dengan kakak dan kakak ipar ke Madinah, entah apa yang ada di pikiran mereka hingga membawaku sebagai babysitter di bulan madu kedua mereka tapi, disana aku merasa nyaman dan sangat suka dengan gaya hidup orang-orang lokal yang bersih”


Ardian menghentikan ucapannya sejenak, meneguk sedikit air untk membasahi tenggorokannya yang kering karena terlalu gugup.

__ADS_1


“Setelah bergelut dengan batinku sendiri, aku memutuskan untuk memeluk keyakinan sempurna ini. Aku harap, kau tidak mengubah keputusanmu untuk terus bersamaku” Sahut Ardian.


“Tapi, apa boleh beda keyakinan begitu?” Tanya Riana.


“Se-paling sempurnanya sebuah hubungan adalah ketika keduanya memiliki keyakinan dan dapat berbibadah bersama. Itu adalah salah satu alasan kenapa aku tidak memaksakan kehendakmu untuk segera menikah denganku sampai aku benar-benar siap menceritakan ini”


“T-Tapi, kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” Ucap Riana. Pantas saja lelaki itu selalu beristirahat di jam-jam tertentu. Ternyata itu untuk melakukan ibadah, seperti Lea?


“Riana, percayalah. Mengumpulkan keberanian ini bukanlah suatu hal yang mudah. Di satu sisi aku melihat kondisi kesehatanmu di sisi lain pun aku harus siap dengan segala konsekuensi sekalipun bertanggung jawab tanpa menikahimu” Sahut Ardian.


Riana meneteskan air matanya, kebimbangan merasuk di dalam jiwanya. Wanita itu melihat mama dan kakak Ardian bergantian, bertanya lewat tatap matanya ‘apa mereka juga pindah keyakinan?’.


“Tidak, hanya Ardian yang memeluknya. Kami tidak pernah melarang dia untuk mengambil keputusan sebesar ini, kami selalu mendukung keputusannya selama itu adalah hal yang positif” Sahut Kakak Ardian, seperti tau apa yangs edang dikatakan Riana.


“Rin, aku harap kau mau memikirkan semuanya baik-baik” Ucap Ardian, mengelus pelan tangan Riana, memberikan kenyamanan disana.


Riana sudah tidak bisa berkata-kata. Kacau, hanya kata itu yang bisa menggambarkan dirinya sekarang. Bagaimana bisa seperti ini ceritanya?


“A-aku mau pulang, kepalaku rasanya pusing sekali” Sahut Riana memegang kepalanya yang tiba-tiba pening.

__ADS_1


__ADS_2