Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Belanja Keperluan Bayi


__ADS_3

Riana dan Ardian pergi berkeliling di toko perlengkapan bayi. Di mata Riana, semuanya terlihat begitu menggemaskan.


“Lihat, kau mau yang mana?” Gumam Riana sembari mengelus perutnya.


Wanita itu sepertinya memang senang sekali berbicara dengan anaknya. Ardian melihatnya tersenyum senang, gadis kecilnya sudah menjadi seorang yang akan memiliki anak kecil lainnya.


“Kita cari tempat tidurnya dulu” Ucap Ardian, mengajak Riana menuju tempat tidur khusus bayi.


“Semuanya sangat lucu ya, Ar” Ucap Riana.


Sembari diikuti oleh mbak-mbak yang sedang berjaga, mereka sesekali beranya atau terkadang mbak-nya tiba-tiba menjelaskan sesuai dengan apa yang dilihat Riana.


“Kalau yang itu tempat tidurnya bisa di lepas pasang di tempat tidur orang tua, mbak. Bagus kalau misalnya mbak dan masnya suka jalan-jalan dan traveling dengan si baby, tidak perlu mencari ranjang tambahan untuk si baby”


Seperti itu contohnya, jujur saja Riana tidak tertarik dengan hal itu. Riana malah lebih tertarik dengan ranjang ayunan dan sebuah box bayi yang sedikit luas dan juga tidak begitu tinggi dari lantai.


“Ambil saja semuanya, aku tidak akan bangkrut hanya dengan membawa pulang dua tempat tidur bayi” Ucap Ardian.


Hal itu jelas saja membuat mbak-mbak yang menjaga dan juga beberapa orang di sekitar menatap mereka iri.


“Beli sekalian dengan kelambunya, Rin. Mata bayi itu sensitif” Ucap Ardian.


Bisa-bisanya Ardian lebih tau tentang hal-hal seperti itu.


“Mbak, disinggahkan dulu ya. Kami mau mencari yang lain” Ucap Ardian, menyuruh mbak-mbak yang jaga untuk membawa tempat tidur yang sudah di pilih Riana tadi.


Mereka lanjut ke tempat mainan bayi, sambil menunggu Riana memilih-milih sendiri, Ardian langsung mengambil beberapa mainan yang menurutnya berfungsi.

__ADS_1


“Ar?” Panggil Riana, menghampiri Ardian yang malah memisahkan diri dengannya.


Ardian menoleh, “Ya? Kau butuh sesuatu?” Tanyanya.


Riana menggeleng, melihat is keranjang belanjaan Ardian sudah berisi beberapa mainan. Ardian mengerti dengan arah pandang Riana.


“Itu mainan yang baik untuk tumbuh kembang bayi”


Ardian mengambil mainan yang sedikit besar, sebuah mainan yang menjuntai dari lengkungan, “Baby gym, ini bisa mendorong daya motorik baby terasah dengan baik” Ucapnya.


Lalu Ardian meletakkannya, “Mereka memiliki fungsi yang hampir sama untuk melatih baby” Ucapnya.


Riana salut, demi apapun dia salut dengan lelaki di hadapannya.


“Kau sudah mendapat mainan yang kau mau?” Tanya Ardian.


“Mbak, Keranjang stroli istri saya tolong di bawakan ya. Kasian” Ucap Ardian.


Riana hanya bisa mengulum senyum. Salah tingkah setiap saat sudah menjadi makanannya sehari-hari.


Riana berjalan dengan cepat ke arah rentetan baju-baju bayi. Rasanya kalap juga melihat baju-baju itu.


“Pilih yang netral dulu, belum tau kan jenis kelaminnya?” Ucap Ardian. Lelaki itu jelas mengerti banyak tentang perkembangan kandungan Riana, mengingat dirinya yang selalu menemani wanita itu periksa.


Saat itu, ketika USG Riana sengaja tidak mau tau perihal jenis kelamin anaknya. Katanya, biar menjadi surprise ketika lahiran nanti.


Riana mengambil beberapa pakaian bayi, tidak banyak hanya menurutnya sebutuhnya saja.

__ADS_1


Tapi, Ardian adalah seseorang yang totalitas tiada batas, lelaki itu langsung mengambil beberpaa baju jumper, kemeja agay kimoni, piyama bayi, celana pendek dan juga sweater.


“Ar, itu banyak sekali” Protes Riana.


“Tidak, kau bahkan tidak tau dia bisa ganti berapa baju dalam sehari. Ini lucu-lucu, aku suka” Sahut Ardian. Sebenarnya itu hanya alibi, Ardian tau Riana jelas sangat sungkan untuk mengambil banyak barang dengan uangnya.


“Ini juga”


Ardian mengambil beberapa pasang kaos kaki, sarung tangan dan beberapa topi kupluk bebrbahan katun.


Belanjaan mereka membeludak di pakaian, benar-benar seperti tidak muat hanya di dua troli.


“Mas, mbak saya ijin membawa ini dulu ya ke kasir” Pamit mbak-mbak penjaga.


Ardian mengangguk lalu mengambil troli baru.


Riana hanya menuruti Ardian sekarang, terbalik sekali suasanya. Kenapa terlihat Ardian yang begitu excited?


“Rin, ayo pilih juga”


Terlepas dari kesenangan Ardian, lelaki itu juga mengajak Riana memilih, bahkan membiarkan Riana bebas memberikan kritikannya atas apa yang di pilih Ardian.


Selesai dengan bedong bayi dan juga selimut, mereka pindah ke perlengkapan mandi dan popok bayi, bahkan alat bantu menyusui.


Semua itu sudah ada di dalam list otak Ardian. Itu bukanlah hal yang di list-kan oleh mama Rifa, Ardian dengan inisiatifnya membuat list yang begitu lengkap. Bukan hanya untuk bayi, bahkan kebutuhan untuk Riana setelah melahirkan nanti.


Ardian melihat jam tangannya, sudah pukul delapan malam ternyata, “Katakan pada mantan ibu mertuamu, kita akan datang besok. Tidak ada penolakan” Ucapnya tegas.

__ADS_1


Riana mengamgguk, mengirim pesan kepada mantan suaminya bahwa dirinya tidak jadi datang hari ini. Pasalnya, dalam satu rumah itu hanya Nathan yang memiliki ponsel.


__ADS_2