Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Pusing dan Mual


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Riana tidak begitu mempermasalahkan perihal parfum dan juga percakapan di ponsel kapan hari.


Pagi ini, wanita itu sangat pusing. Rasa mual merayap ke tubuhnya. Entah apa yang terjadi dengannya saat ini.


Hoek


Hoek


Riana terus mengeluarkan isi perutnya. “Sayang, kenapa?” Tanya Nathan, berlari menuju kamar mandi untuk melihat istrinya.


“Mau periksa?” Lanjut Nathan setelah Riana selesai di kamr mandi.


Riana menggeleng lemah, tidak mau merepotkan suaminya juga.


“Kau tidak berangkat ke rumah ibu?” Tanya Riana, melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, biasanya Nathan akan berangkat pukul setengah tujuh atau paling siang pukul tujuh.


“Apa aku harus meninggalkan istriku yang seperti ini?” Tanya Nathan, melihat kondisi istrinya yang lemah.


“Pergilah, aku baik-baik saja. Aku bisa menjaga diri, kasian nanti ibu dan ayah menunggumu” Tutur Riana, lembut.


Mengingatkan pada suaminya bahwa masih ada tanggung jawab yang harus di selesaikan di luar sana.


“Aku tidak sakit, ini hal yang biasa. Aku kelelahan, nanti akan sembuh” Ucap Riana, memberikan pengertian kepada suaminya.


Lagipula Nathan sedari tadi terus membuka game-nya meskipun terus mengajak ngobrol Riana.


“Apa tidak apa-apa di tinggal?” Tanya Nathan.


Riana mengangguk lemah tapi, tetap menunjukkan senyum tipisnya, tidak se-ceria biasanya.

__ADS_1


“Baiklah, aku pergi dulu” Ucap Nathan lalu mengecup kening Riana dan pergi menggunakan motor miliknya.


Sepeninggal Nathan, Riana terdiam sebentar, termenung dengan kejadian pagi ini.


Bohong jika dia mengatakan baik-baik saja, nyatanya pikirannya sedang kemana-mana. Gadis itu segera mengambil ponselnya dan mendial satu nomor.


“Lea, boleh minta tolong?” Ucap Riana pada kasirnya di toko itu.


“Boleh, mbak. Ada apa?” Jawab Lea dari seberang sana.


“Istirahat nanti, bisa tolong ke rumahku? Belikan aku tespect ya” Ucap Riana santai.


“Boleh, mau sekalian dibawakan makan siang?”


“Tidak usah, terimakasih”


Setelah sambungannya terputus, Riana benar-benar gelisah. Jika ternyata tebakannya benar, sebenarnya tidak apa-apa tapi, pakah dia akan sanggup menjalaninya?


Jangankan bersih-bersih, untuk bangun saja rasanya kepalanya itu mau pecah. Riana memandangi perutnya, menerka-nerka apakah ada kehidupan disana?


Akhirnya Riana ketiduran, dengan tangan yang masih berada di perutnya.


Tok


Tok


Tok


“Mbak Riana?”

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


“Mbak Riana”


Riana terbangun, mendengar suara seseorang dari luar sana yang menurutnya tidak asing. Dengan langkah tertatih wanita itu membuka pintu. Benar saja, penglihatannya menangkap sosok Lea di depannya.


“Ayo, masuk Lea” Ucap Riana.


Setelah mendaratkan bok*ngnya di sofa ruang tamu, Lea langsung mengeluarkan pesanan dari bosnya. Bukan hanya satu tapi, tiga sekaligus dengan merk yang berbeda.


“Ini titipannya mbak, ini juga ada obat pusing dan mual”


Lea memang sangat tau tentang Riana sejak dulu, selain dari hubungan bos dan sekretaris, Lea dan Riana juga membangun chemistry yang cukup baik selama bekerja sama.


“Terimakasih” Sahut Riana lemah.


“Kalau begitu, saya permisi dulu ya mbak. Takut tidak keburu nanti”


“Tunggu tunggu” Riana mencegah Lea untuk pergi, “Aku sudah memesan makanan tadi, mungkin sebentar lagi akan sampai” Lanjutnya.


Seusai menghubungi Lea tadi, Riana sekalian memesan makanan untuk di antar di jam makan siang, melihat jam dinding, sepertinya makanan itu akan tiba sebentar lagi.


“Aduh, repot sekali mbak” Ucap Lea teidak enak.


“Kamu ini seperti dengan siapa saja, ini juga untuk terimakasihku sudah mau membantu di luar pekerjaan” Sahut Riana.

__ADS_1


Benar saja, setelah berbincang tidak lama akhirnya makanan yang di pesan Riana sudah sampai.


Siang itu, Riana dan Lea makan siang bersama di rumah kontrakan Riana yang terbilang sederhana tapi, mewah.


__ADS_2