
“Bagaimana? Kapan bayinya akan di makamkan? Apa kami perlu memberikan pengawet kagi untuk bisa bertahan lebih lama?” Tanya dokter setelah memeriksa keadaan Riana.
“Apa kami perlu memberitahu Riana? Dia terus menanyakan dimana bayinya sedangkan kami tidak bisa melakukan apapun selain menyuruhnya tenang, kami bingung harus menjelaskannya darimana” Ucap Ardian.
Dokter terdiam sejenak, memikirkan jalan keluar terbaik untuk masalah ini.
“Memang sebaiknya di beritahu saja”
“Tapi, apa Riana akan baik-baik saja jika tau anaknya telah tiada? Kemungkinan apa yang bisa terjadi dengan dia?” Tanya Ardian.
Lelaki itu memilih konsultasi dulu dengan sang dokter perihal hal-hal yang perlu dia tau sebelum memberitahu Riana bahwa anaknya telah tiada saat dilarikan ke rumah sakit.
“Kemungkinan beliau akan kembali drop, jika dia terkejut dan melakukan hal di luar dugaan seperti tiba-tiba ingin bagun untuk melihat snag bayi, karena jahitan yang ada di perutnya pasti belum kering, itu akan merusak tatanan jahitan itu sendiri, apalagi operasi caesar adalah salah satu jenis operasi besar yang membutuhkan perawatan intensif, kemungkinan yang lain selain daripada fisik adalah kesehatan mentalnya mungkin terganggu karena naluri seorang ibu itu kuat”
Ardian ragu, hatinya bimbang setengah mati, keputusan bukan lagi di tangan Rifa karena disini Ardian tercatat sebagai wali dari Riana.
“Bisa jika dokter saja yang mengatakan dengan Riana?” Ucap Ardian, dia tidak akan sanggup mengatakan hal menyedihkan itu kepada wanita yang ia sayangi.
“Saya akan mencobanya setelah pasien sadar” Ucap sang dokter.
Ardian menghela napasnya, melihat Riana yang masih pulas dalam tidurnya. Mau tidak mau hal ini harus dilakukan, mengingat tidak mungkin bayi itu di diamkan sampai kondisi Riana benar-benar pulih, itu benar-benar membutuhkan waktu yang begitu lama.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, Riana akhirnya terbangun, kali ini dokter bersama suster atau sekretarisnya datang membawa makanan, juga membawa beberapa obat-oabatan untuk Riana.
“Selamat pagi, bu Riana” Sapa sang dokter.
“Pagi dok” Jawab Riana tersenyum.
“Sambil sarapan, saya mau cek kondisi ibu Riana dulu ya”
Dokter itu terlihat begitu ramah di mata Riana, tidak tau saja jika ada sesuatu pukulan di depan sana yang sudah siap di layangkan padanya.
Ardian pun dengan cekatan menyuapi Riana, sembari wanita itu di tanya-tanyai oleh dokter. Sedangkan Rifa sedang menyiapkan hatinya untuk melihat luka yang segera di ucapkan sang dokter.
“Sudah mendingan? Bagaimana rasanya? Masih pusing?” Sahut sang dokter.
Saat Riana menjawab, suster dengan cekatan menulis hasil catatan medis pasies.
“Apa di area jahitannya terasa perih, gatal?” Tanya dokter lagi.
Riana mengangguk.
“Tidak boleh di garuk ya ibu Riana”
__ADS_1
Riana mengangguk lagi, tidak terasa sudah habis setengah saja bubur yang ia santap sembari terus memnjawab pertanyaan-pertanyaan dari sang dokter.
“Sudah, Ar. Aku sudah mual” Gumam Riana. Ardian pun menghentikan aktivitasnya, dan memberikan Riana minum.
Dokter terlihat menghembuskan napasnya sedikit berat lalu tersenyum, “Kemarin sudah melewati proses lahiran ya, alhamdulillah bayinya laki-laki. Sudah menyiapkan nama?” Tanyanya.
Riana tersenyum senang, sejak kemarin tidak ada yang mau membahas perihal anaknya tapi, puji Tuhan untuknya sang dokter mau membahas hal itu.
“Reinan Wiliam” Ucap Riana singkat, seolah memang nama itu sudah disiapkan untuk anaknya sejak jauh-jauh hari, matanya berbinar senang saat menyebut nama itu.
“Reinan Wiliam ya? Nama yang bagus” Ucap dokter sembari tersenyum tipis sekali.
“Kami akan menyampaikan kondisi anak ibu ya,…” Dokter itu tidak langsung meneruskan ucapannya. Menjedanya dulu untuk melihat reaksi Riana.
“Sebelumnya kami harap ibu Riana tetap tenang karena luka jahit yang masih basah, ibu Riana tidak boleh banyak bergerak dulu”
Riana mengangguk, setuju dengan syarat yang disampaikan sang dokter.
“Jadi, begini ibu Riana. Kami pihak rumah sakit meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada anda karena Reinan Wiliam lahir pada tanggal 15 April 2023 kami nyatakan meninggal,…”
Saat itu juga dunia Riana sudah hancur, badannya lemas, air matanya bahkan langsung mengalir tapi, dokter tetap harus profesional, dia tetap melanjutkan penjelasannya.
__ADS_1
“Bayi sebelumnya menyerap apa yang ibunya makan atau minum yang didalamnya kami duga berisi racun dan obat aborsi, saat dibawa ke rumah sakit sang ibu, bu Riana sudah mengalami kram perut hebat dan kami melakukan operasi dengan syarat nyawa salah satunya bisa saja tidak tertolong”
“Menurut surat perjanjian yang sudah di tanda tangani oleh suami anda, Bapak Ardian Braham beliau memilih untuk menyelamatkan anda dengan presentase keberhasilan operasi adalah 50%”