
Ardian sedang berada di mushollah, menangisi dirinya sendiri, menangisi kesalahan yang ia perbuat sendiri.
“Ya Allah, selamatkanlah dia. Apapun yang terjadi padanya aku sudah berjanji akan bertanggung jawab atas dirinya. Jika terjadi apa-apa dengannya, maka aku pasti akan menyesal seumur hidup. Ya Allah, engkau adalah maha pengasih pun penyayang, tidak ada penyelamat yang lebih baik daripada engkau. Dengan segala sujudku, aku memasrahkan diri terhadapmu, memasrahkan keselamatannya padamu” Ardian berdoa dalam dia, hatinya terus merapalkan doa agar Riana diberi kesuksesan dalam operasinya.
“Ya Allah, aku tidak tau harus meminta pertolongan kepada siapa selain kepadamu. Bukan atas nama cintaku padanya, setidaknya mamanya tidak kau biarkan seorang diri di dunia ini. Rabbana Atina Fiddunya Hasanah Wafil Akhirati Hasanah Waqinaadzabannar”
Penutup doa pengampunan itu di lantunkan Ardian dengan gumamannya. Kepala Ardian begitu pusing, rasanya mau pingsan saja. Menangis sedari tadi membuat kepalanya terasa berat.
Orang-orang di sekitar sana pun hanya mampu melihat Ardian dengan tatapan iba mereka. Lelaki muda sedang menunaikan ibadah sembari menangis adalah hal paling langka yang pernah ditemui di jaman sekarang ini. Perasaan tulus itu sampai kepada orang-orang juga.
Setelah selesai berdoa, Ardian kembali ke depan ruang operasi dengan langkahnya yang gontai, tatapan matanya seperti tidak menemukan nyawa di dalam raga tersebut.
Ardian merasa bersalah saat melihat Rifa terus menatap pintu ruang operasi, seolah menunggu pintu itu terbuka. Rasa khawatir dari tangisnya yang diam membuat hati Ardian seperti sesak.
Itu semua salahnya, begitu pikirnya.
__ADS_1
“Makan dulu” Ucap kakaknya, memberikan satu kotak nasi yang ia beli di kantin rumah sakit tadi.
Ardian menggeleng sebagai jawaban, “Aku tidak akan makan sampai dokter keluar dari ruangan ini dan membawa kabar baik” Ucapnya.
Kakanya menatap Ardian, “Apa kau mau aku tampar lagi?” Tanyanya. Sebenarnya itu hanya gertakan agar adik laki-lakinya itu mau makan.
Tanpa di duga Ardian malah memberikan pipinya yang tadi tidak di tampar oleh sang kakak, “Tampar saja, aku tetap tidak akan makan. Aku akan menunggu Riana dulu” Ucapnya.
Sang kakak hanya mengusap wajahnya kasar, memang tidak bisa memaksa seseorang yang hatinya sedang terluka, perasaannya jelas tidak stabil.
“Ar, tadi di mobilmu ada teh. Apa itu yang diminum Riana tadi?”
Ardian terdiam sejenak, fokus dengan Riana membuatnya lupa dengan hal lain yang harus dia urus, Ardian langsung menoleh kepada kakak iparnya, dia mengangguk.
“Ya, aku sempat mengambilnya dulu tadi” Jawab Ardian.
__ADS_1
“Aku akan membawanya ke lab sekarang” Ucap kakak ipar.
Ardian mengangguk, “Terimakasih” Ucapnya.
Sebenarnya, Ardian tentu mau ikut memberikan sampel teh itu ke pihak berwajib, hanya saja Riana begitu penting untuknya.
Hatinya measih belum bisa tenang jika dokter belum keluar dari ruangan itu.
“Setidaknya mandilah dulu, apa kau tadi bersembahyang seperti ini?” Tanya Kakak Ardian.
Ardian menggeleng, “Aku tadi mandi di mushollah” Jawabnya, tidak setuju jika dirinya dibilang belum bersih diri.
“Tetap saja kau harus menngganti pakaianmu, pergilah untuk bersih-bersih lagi, kau terlihat sangat menyedihkan” Ucap sang kakak.
Mereka berdua bagaikan es dan juga air panas, Ardian terlampau cuek dan kakaknya terlampau cerewet, itulah yang membuat mereka seperti saudara yang saling melengkapi dan tentu membuat suasana rumah menjadi lebih ramai.
__ADS_1
Ardian menurut, mengambil paperbag dari tangan kakaknya yang entah kapan baju itu dibawa, entah dari tadi atau memang baru saja kembali ke rumah sekedar mengambil baju ganti itu. Berjalan lesu menuju satu kamar mandi yang ada di dekat sana.