
“Pergilah, cari seseorang yang menurutmu memang setara dan sangat pantas berada di sisimu”
Perkataan bagai belati yang menusuk tepat di jantung kehidupan Nathan, lelaki itu segera menghampiri Riana, dia menangis sejadi-jadinya. Biarkan saja jika seandainya tetangga mereka mendengar.
“Aku tidak mau berpisah denganmu” Ucap Nathan. Dia terlihat begitu bersalah, lelak itu mencoba meraih tangan Riana tapi, terus di tepis olehnya.
Nathan tentu saja bingung, dia tidak pernah ada di masa yang seperti saat ini. Lelaki itu bahkan tidak pernah di tolak oleh seorang wanita, diperebutkan banyak wanita memang iya. Tapi, Riana? Dia wanita yang berbeda, sampai berani menyuruhnya untuk pergi.
“Sayang, aku tidak mau”
Riana masih tidak berkutik, memalingkan wajahnya pada jendela kamar mereka.
“Sayang, coba lihat aku!” Nathan menuntun wajah manis itu melihatnya tapi, nihil. Riana adalah seseorang yang keras kepala. Dia tidak mau menoleh sedikitpun, membiarkan lelaki itu menangis di hadapannya.
“Tolong, Riana. Beri aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi”
__ADS_1
“Aku akan menghapusnya, aku akan memblokir semua sosial medianya, lihat ini!” Nathan segera mengambil ponselnya lalu menghapus nomor itu, memblokir seluruh media sosial Arianti di depan mata Riana sendiri.
Tapi, Riana tidak peduli dengan hal itu. Wanita itu jelas masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Seandainya perselingkuhan ini diketahui sebelum hari ini mungkin Riana tidak akan bimbang, hatinya tidak akan bergetar untuk mengambil keputusan.
“Kemarikan ponselmu, aku akan mengatakan padanya bahwa aku dan dia tidak ada apa-apa” Ucap Nathan, ingin meraih ponsel Riana tapi, wanita itu begitu tangkis.
“Aku tidak memiliki masalah apapun dengan Arianti. Aku tidak akan membuat drama seolah aku melabraknya sebagai seorang pelakor? Cih, aku tidak sudi menjadi wanita rendahan yang suka melabrak seseorang”
“Aku hanya menyelesaikan masalah ini BERDUA denganmu, tidak dengan diketahui ORANG LAIN. Itu adalah sikap yang dewasa” Riana mengeluarkan serangai jahatnya.
Ingat, dirinya sedang hamil anak Nathan, moodnya berubah seiring dengan suasana hatinya.
“Sayang, ada apa?” Tanya Nathan.
Riana lagi-lagi hanya diam, meneliti wajah dengan pahatan manis di depannya. Memantapkan hatinya untuk mencari keputusan terbaik. Hubungan mereka masih seumur jagung, masalah demi masalah datang silih berganti.
__ADS_1
Riana sadar, dirinya tidak harus kalah disini bukan? Dia adalah istri sah dari Nathan, dia memiliki hak penuh atas lelaki itu. Sudah seharusnya dia yang menang disini. Kenapa harus dirinya yang lemah.
“Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Ayo perbaiki hubungan kita. Aku janji tidak akan seperti itu lagi. Aku janji tidak akan mengulangi hal ini lagi” Nathan membawa Riana ke pelukannya dengan tangis yang sudah pecah.
Sedangkan Riana? Wanita itu masih diam, terlampau masih bimbang dengan keputusnnya.
“Sayang, percaya padaku ya” Bisik Nathan pelan.
“Kenapa? Kenapa mempertahankan hubungan ini?” Tanya Riana.
“Karena aku mencintaimu” Sahut Nathan cepat.
Riana tidak menjawab sesaat, memilih kalimat yang tepat untuk disampaikan, “Jika kau mencintaiku, kau tidak akan pernah membandingkan aku dengan orang lain. Jelas-jelas kau tidak tertarik dengan aku tapi, kau selalu membohongi hatimu sendiri” Ucapnya.
“Tidak, sayang. Aku hanya kurang bersyukur, seharusnya aku tidak melakukan ini. Seharusnya aku menghargaimu di sisiku, aku mohon maafkan aku” Nathan memeluk tubuh kecil itu, membawa Riana dalam dekap hangatnya yang penuh sesal.
__ADS_1
Tak lama, Riana membalas pelukan itu, “Aku memberimu kesempatan” Tuturnya singkat.
Ini semua demi anak ini. Jika tidak, mungkin aku benar-benar akan menceraikanmu. Batin Riana. Wanita mandiri seperti Riana memang tidak butuh lelaki dengan finansial yang cukup, dia hanya butuh sosok lelaki yang mampu mengerti dan menerima dia apa adanya bukan?