
Sudah selesai dengan semua pekerjaannya, Ardian memasuki dapur. Memencet nomor sang mama, kali ini mamanya sendiri, bukan mama Rifa.
“Ardian, sedang apa?” Tanya Riana.
Melihat Ardian berada di dapur sambil memainkan ponselnya tentu membuat Riana bingung.
“Aku? Mau memasak makan malam untukmu” Sahut Ardian polos.
Riana tersenyum, “Memangnya bisa?” Ucapnya. Menurut sepengetahuan Riana, Ardian adalah lelaki yang tidak begitu bisa memasak.
“Cih, kau meragukan kemampuanku?” Tanya Ardian.
Riana menggeleng, “Tidak tapi, apa yang sedang kau lakukan dengan ponselmu?” Tanya Riana.
“Aku sedang menghubungi mama, mau tutorial memasak” Sahut Ardian.
Hal itu tentu membuat Riana tertawa, memasak dengan tutorial via online?
“Kenapa kau tertawa?” Tanya Ardian datar.
Lagi-lagi Riana menggeleng, “Biar aku saja yang memasak, aku tau kau sudah lelah. Tunggu saja di ruang makan” Ucapnya.
Ardian menggeleng keras, “Tidak boleh. Aku saja yang memasak, jika mau biar kau yang memberiku tutor, kau hanya cukup melihat” Sahutnya.
Riana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Antara kasian dan gemas dengan kelakuan mantan kekasihnya. Kasian karena seharian itu Ardian membantunya melakukan pekerjaan rumah sedangkan gemasnya tentu karena perilakunya saat ini.
“Duduklah, biar aku yang memasak. Aku sudah kepalang lapar jika harus menunggumu memasak” Ucap Riana, berjalan menuju rice cooker, mengeluarkan semua isinya.
__ADS_1
Nasi itu di buat oleh Ardian tadi sebelum mengepel rumah.
“Mau masak apa?” Tanya Ardian.
“Nasi goreng” Jawab Riana singkat, sembari mengeluarkan beberapa bahan-bahan dari kulkas. Di lihatnya ada satu pack ikan teri juga.
Riana melirik Ardian, “Kau membeli ikan teri? Bisa-bisanya kepikiran”
Ardian hanya diam memajukan bibirnya, semberut karena di ledek oleh Riana, “Jangan terus meledekku begitu” Sahutnya.
Tentu saja Riana langsung tertawa, suasana hatinya memang mudah sekali berubah, “Maafkan aku”
Riana mengeluarkan ikan teri itu, berniat membuat nasi goreng ikan teri saja.
“Duduk saja sana, jangan berdiri disana”
“Duduk saja, Ardian” Ucap Riana.
“Tidak mau, aku mau membantumu saja” Sahut Ardian.
Jika hanya nasi goreng, Ardian pun bisa. Dia mencincang cabai merah, bawang merah, bawang putih dan kunyit lalu di haluskan tanpa menunggu perintah Riana. Dia sudah biasa mengulek bumbu-bumbu di rumahnya, membantu sang mama tentunya.
Setelah halus, Ardian memberikan itu kepada Riana, “Terimakasih” Ucap wanita itu, menerima cobek dari Ardian.
Riana dan Ardian memang lebih suka menggunakan bumbu yang di ulek. Menurut mereka rasanya berbeda daripada di chooper.
Tanpa menjawab, Ardian mengiris tipis bawang merah, cabai merah, cabai hijau dan batang seledri. Tidak lupa juga bahan pelengkapnya, tomat dan mentimun diiris sesuai selera.
__ADS_1
“Aku sangat baik bukan?” Tanya Ardian.
“Ya ya ya, sekarang duduklah dan tunggu masakannya siap” Sahut Riana.
Daripada menurut, Ardian mengambil panci dan merebus air di dalamnya. Baiklah, Riana hanya diam, mungkin Ardian ingin membuat minuman atau apa. Biarkan saja lelaki itu berbuat semaunya asal tidak menganggu Riana yang sedang memasak.
Setelah menyetel kompor, Ardian kembali pergi ke lemari penyimpanan bahan makanan instan. Dia mengambil kopi susu dan juga susu ibu hamil untuk Riana.
“Ardian ini sudah selesai, langsung aku taruh di meja makan ya” Ucap Riana, meskipun menoleh dia mana tau apa yang ada di hadapan Ardian, badan Ardian yang besar, tinggi dan tegap menutupi segalanya.
“Iya. Aku akan menyusul sebentar lagi, makanlah dulu” Sahut Ardian.
“Aku akan menunggumu”
Ardian tersenyum tipis, dia merasa sedang merawat istrinya yang sedang hamil, bukan?
Raut wajahnya berubah sendu kala ia sadar bahwa anak yang ada di kandungan Riana bukanlah darah dagingnya tapi, milik orang lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami Riana. Ardian harus menelan kenyataan pahit itu.
Lelaki itu membawa dua gelas minuman miliknya dan milik Riana.
“Ini untuk ibu hamil agar tetap sehat dan segar” Ucap Ardian sembari meletakkan satu gelas di depan Riana.
Riana langsung melihat Ardian, baru sadar bahwa sedari tadi mantan kekasihnya itu sangat perhatian, “Ardian, kau tau aku,…?” Riana tidak melanjutkan ucapannya.
“Perutmu sudah sebesar itu, mana mungkin itu karena kau obesitas. Tubuh bagian lainnya saja kurus kering begitu” Sahut Ardian.
Riana lalu hanya tersenyum canggung, “Terimakasih” Gumamnya.
__ADS_1
Riana antara merasa sungkan dan malu, mengingat Nathan bahkan tidak menyetujui kehamilannya.