Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Telfon Siapa?


__ADS_3

Riana sengaja tidak mengatakan apapun perihal keputusannya memulai perawatan, wanita itu ingin memberikan yang terbaik tanpa suaminya tahu prosesnya.


Dua bulan berlalu, badan Riana terlihat lebih kencang dan berisi padat. Belum lagi rutin melakukan perawatan tubuh dan wajah membuat fisiknya secara luar juga terlihat lebih terpancar.


Sore itu, usai berlari-lari kecil keliling komplek dan membersihkan rumah, Riana masuk ke kamarnya.


“Sayang, mau makan apa?” Tanya Riana, dia selalu begitu akhir-akhir ini, takut jika misal Nathan bosan dengan makanan yang di masak Riana tanpa bertanya dulu.


“Apa saja, sayang. Apapun yang kau masak, pasti enak dan pasti aku makan” Sahut Nathan.


Semakin kesini, mereka semakin terlihat mesra sepanjang wakru, sering menghabiskan waktu berdua juga.


“Okey” Jawab Riana lalu kembali menutup pintu.


“Hmm, apa yang ada di dalam kulkas?” Gumam Riana, melihat isi kulkasnya yang dipenuhi bahan-bahan masakan.


Wanita itu menjatuhkan pandangannya pada daging ayam yang kemarin ia beli di abang tukang sayur komplek.


“Ayam asam manis terdengar enak” Gumamnya lagi.


Riana memang sering menyantap makanan yang rendah kalori akhir-akhir ini. Anehnya, Nathan jadi juga suka dengan makanan sehat yang dihidangkan Riana.


“Sayang”


Nathan memeluk Riana dari belakang, menduselkan kepalanya di ceruk leher sang istri.

__ADS_1


“Aku sedang memasak, Nathan” Ucap Riana.


“Mau aku bantu?” Tanya Nathan, masih tidak melepaskan pelukannya.


“Ini sudah hampir selesai. Jangan begini, Nathan. Aku masih berkeringat, belum mandi” Sahut Riana.


Nathan mengeluarkan senyum miringnya, “Apa mau aku buat sangat berkeringat sekalian?” Tanyanya nakal.


Riana tau dan jelas paham ke arah mana pembicaraan suaminya ini.


“Tidak, nanti makanan ini keburu dingin, sudah tidak begitu lezat. Dia lebih baik di santap ketika masih hangat” Sahut Riana.


“Itu bisa dipanaskan nanti” Ucap Nathan, mematikan kompornya lalu menyerang Riana lembut.


...***...


Pada akhirnya mereka tadi bergelut di dapur dan melajutkannya di kamar mandi. Pesona pengantin baru masih baru terlihat di bulan ke-sembilan mereka menikah.


“Ayo makan” Ucap Riana, beranjak dari depan cermin riasnya.


“Ayo, aku juga sudah lapar dan lelah” Sahut Nathan.


Riana pergi ke dapur, menghangatkan makanannya dulu. Selagi itu, Riana samar-samar mendengar suara Nathan dari dalam kamar.


“Oh, mungkin sedang telfon dengan temannya” Gumam Riana.

__ADS_1


“Iya, besok saja ketemunya. Aku sedang bersama istriku. Jangan mengganggu dulu”


Tapi, kenapa ada dialog seperti itu? Riana hanya mampu membatin sambil meletakkan piring saji di ruang makan.


“Aku salah dengar apa ya?” Gumam Riana.


Kali ini dia berniat memanggil Nathan di kamar untuk makan malam bersama.


“Nanti pasti aku kasih, sabar saja dulu. Aku tidak mau meninggalkan dia tapi, aku juga butuh kamu”


Deg


Apa-apaan ini?


Riana tidak salah dengar, itu terdengar jelas di telinganya. Dari luar pintu, itu terdengar begitu jelas.


Riana terdiam sebentar di depan pintu, jantungnya berdetak lebih cepat. Setelah menghembuskan nafasnya pelan, menetralisir diri dan ekspresi, lalu wanita itu membuka pintu kamar.


“Nathan, sudah siap. Ayo makan” Ucap Riana. Dan seketika itu juga, Nathan langsung membalikkan badan, mencoba menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh.


“Hai sayang. Iya, sebentar lagi aku kesana. Aku masih ada telfon dari teman” Ucap Nathan dengan senyum manisnya.


“Ya sudah, aku tunggu di ruang makan”


Nathan hanya mengangguk ragu dan Riana kembali menutup pintu.

__ADS_1


Dengan rasa was-was, Riana melihat gelagat suaminya. Tidak ada yang aneh saat di hadapannya begini, Nathan makan dengan lahap dan mengajaknya bicara seperti biasa. Hanya tadi saja, mungkin karena kaget dengan kedatangan Riana secara tiba-tiba?


Riana segera menepis segala pikiran buruk yang ada di pikirannya dan melanjutkan makannya.


__ADS_2