
Sepulang dari pengadilan negeri, Ardian mengajak Riana untuk makan siang. Sedangkan Rifa, diangkut oleh keluarga Ardian agar tidak mengganggu waktu mereka berdua katanya.
“Kau mau makan apa?” Tanya Ardian.
Riana berpikir sejenak, dia tidak boleh makan gorengan kan.
“Apa saja” Ucap Riana.
Ardian berpikir sejenak, lelaki itu menjalankan mobilnya menuju salah satu restoran.
Saat sudah berada di dalam, Riana yang tidak mau memilih menu, akhirnya Ardian memilihkan beberapa menu yang bisa lebih mempercepat pemulihan Riana.
“Omelete, tamagoyaki, steak sapi ya ini?” Tanya Ardian, memastikan bahwa dia tidak salah pilih menu.
“Iya” Jawab mbak-mbaknya.
Ardian mengangguk, “Okey, steak-nya dua, dessert-nya blueberry milk tart sama milk mango sandwich, jus alpukat-nya dua” Ucapnya lalu menutup buku menu dan memberikannya kepada mbak-nya.
Riana langsung melihat Ardian, “Kau pesan banyak sekali makanannya?” Sahutnya setelah mbak pelayan tadi sudah tidak terlihat.
“Makan di restoran besar, terkadangan kau tidak bisa kenyang hanya dengan satu menu, karena sudah jelas mereka mengutamakan rasa bukan porsi” Ucap Ardian.
Benar juga yang dikatakan Ardian tapi, “Bukankah itu terlalu banyak?” Tanya Riana.
“Tidak, itu baik untuk masa pemulihanmu. Lagipula kau butuh banyak asupan setelah melewati hari yang menurutku mungkin saja menguras tenagamu, bukan?”
__ADS_1
Riana mengangguk, setuju bahwa tadi itu cukup membuatnya merasa lemas karena gugup.
“Tidak apa-apa, itu hal yang wajar. Kau harus lebih mempersiapkan diri untuk sidang-sidang selanjutnya”
Riana hanya mengangguk setuju.
“Bagaimana menurutmu?” Tanya Ardian.
“Sebenarnya aku sedikit kasihan dengan Arianti, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur dengan alas tipis tanpa kasur atau bagaimana jika dia menginginkan sesuatu tapi, tidak ada yang harus di mintai tolong?”
Ardian menatap wanita di hadapannya, berpikir terbuat dari apa sebenarnya hatinya? Bisa-bisanya se-luluh itu.
“Itu resiko yang harus dia ambil” Sahut Ardian.
Ardian terdiam, melihat Riana cukup lama sampai Riana sendiri merasa tidak enak.
“Aku hanya merasakannya sebagai wanita, kau tau bukan jika wanita selalu menggunakan perasaan dalam memilih”
“Apa kau yakin?” Tanya Ardian.
Riana terdiam sejenak, “Aku kan hanya bertanya, barangkali suatu saat aku tiba-tiba ingin mencabut laporannya karena kasihan atau merasa hukumannya sudah cuku” Sahutnya.
“Hukum tidak semudah itu, Rin. Semua ada tahapan-tahapannya. Pikirkan semuanya baik-baik” Ucap Ardian, memberikan saran kepada Riana.
Tentu saja Ardian sebenarnya tidak rela jika Riana benar-benar akan mencabut laporannya, dia hampir gila karena efek dari perbuatan Arianti saat itu.
__ADS_1
Riana hanya mengangguk, memilih untuk memikirkannya nanti bersama sang mama.
“Mau jalan-jalan setelah ini?” Tanya Ardian, mengalihkan pembicaraan mereka menjadi lebih santai.
“Aku tidak tau, terserah deh mau kemana” Jawab Riana.
Dia memang tidak tau harus kemana, sudah lama sekali tidak memiliki quality time dengan diri sendiri apalagi dengan orang lain.
“Tidak ingin melakukan apapun setelah beberapa bulan berdiam diri di rumah?” Tanya Ardian, mencoba memancing jiwa keinginan Riana.
“Apa aku harus belanja? Barang-barangku di kontrakan sebelumnya tidak aku angkut semua, beberapa juga masih ada di rumah Nathan, aku hanya membawa satu koper saat pergi” Ucap Riana.
“Boleh, tidak mau sekalian refreshing ke taman? Mencari camilan atau mencari suasana baru?” Tanya Ardian lagi.
Riana berpikir sejenak, itu bukan ide yang buruk juga kedengarannya.
“Not bad idea” Jawab Riana sambil tersenyum.
Mereka berbincang sedikit lebih lama sampai pesanan mereka datang semua.
“Permisi” Ucap mbak pelayan saat menghampiri mereka dengan pesanan di atas rak roda begitu.
“Ini pesanannya” Lanjut mbaknya ramah, memberikan satu per satu menu yang sudah di pesan oleh Ardian tadi.
“Terimakasih” Sahut Ardian dan Riana bersamaan saat menu terakhir mereka mendaratkan diri di meja.
__ADS_1