
Ardian dan Riana memasuki rumah, membawa barang belanjaan yang begitu banyak.
“Kenapa belanja banyak sekali?” Tanya Rifa, melihat Riana dan Ardian yang datang membawa banyak kantong plastik.
“Ma, ajari Ardian membuat kue lupis ya” Ucap Ardian, mengabaikan pertanyaan Rifa.
“Tumben? Ada apa?” Tanya Rifa.
“Putri kesayangan mama nyidam lupis buatanku” Sahut Ardian.
Rifa menepuk pelan keningnya, ada-ada saja kemauan ibu hamil.
“Bagaimana jika mama saja yang memasaknya? Kasian loh Ardian, kalian bersantai saja sambil menunggu” Tawar Rifa yang berbaik hati tidak ingin merepotkan Ardian yang bahkan belum pasti menjadi menantunya.
“Tidak, biar Ardian yang memasaknya. Mama bantu mengarahkan saja ya” Sahut Ardian, menolak tawaran Rifa.
“Ya sudah, sekarang?” Tanya Rifa.
Ardian mengangguk cepat, dengan semangat lelaki itu berjalan ke belakang diikuti Riana dan Rifa.
“Apa yang harus Ardian siapkan sekarang?” Tanya Ardian sambil menggulung lengan kemeja panjangnya.
Suami-able banget kan? Riana pusing melihat ketampanan mantan kekasihnya itu.
“Ketan, gula pasir, garam, kelapa parut, kau beli daun pandan dan daun pisang tadi?” Tanya Rifa.
Ardian mengangguk, belanja langsung dengan Riana cukup membantu.
Ardian mengeluarkan bahan-bahannya, mencuci daun pandan dan juga kelapanya.
__ADS_1
“Kelapanya belum di parut?” Ucap Rifa saat melihat kelapa utuh tanpa kulit.
Rifa dan Ardian saling tatap, mereka juga tidak kepikiran kenapa tidak beli yang sudah parutan saja. Tapi, di supermarket mana ada yang begitu?
“Ya sudah. Kalau begitu Riana parut kelapanya, jangan mau enaknya saja, bantu Ardian juga” Pinta Rifa.
Riana memanyunkan bibirnya tapi, dia turun dari kursi pantry dan menghampiri Ardian.
“Aku bisa melakukannya sendiri, kembalilah ke tempatmu” Ucap Ardian sembari menyodorkan air kelapa yang baru saja ia keluarkan dari kela utuh tadi.
“Tuh kan ma, Ardian tidak mau di bantu” Sahut Riana, mengambil satu gelas lagi untuk membagi air kelapa itu menjadi dua. Satu untuk mamanya satu lagi untuk dirinya dan Ardian.
“Memangnya bisa?” Tanya Rifa, merasa khawatir saja jika misal nanti tangan Ardian kenapa-kenapa itu kan jadi tanggung jawabnya atas anaknya.
“Tentu saja, aku kan pelajar yang baik” Jawab Ardian.
Riana hanya tersenyum menatap Ardian dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
“Kira-kira jika lupisnya diberi santan, enak tidak ma?” Tanya Riana.
Tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk membuat lupis dengan kuah, apalagi di tambah dengan potongan es batu, pasti terasa segar.
“Jangan aneh-aneh, Rin” Sahut Rifa, bingung dengan ide ajaib putrinya.
“Hehehe” Yang dibilangi malah tersenyum tanpa dosa.
Ardian juga tidak habis pikir, bisa-bisanya Riana kepikiran membuat menu baru seperti itu.
“Tapi, jika itu berhasil bukankah bisa menjadi menu baru di cafému, Ar?” Ucap Riana.
__ADS_1
Ardian menatap Riana sebentar, benar juga.
“Kita coba saja, nanti kuahnya di sendirikan” Sahut Riana lagi.
Ardian mengangguk setuju. Jika tadinya Riana hanya duduk manis melihat, sekarang wanita itu langsung turun tangan membuat kuahnya secara langsung.
Padahal hanya kuah santan biasa yang diberi sejumput garam agar rasanya menjadi gurih tapi, itu berhasil menjadikan suasana hati Riana naik begitu saja.
Melihat kekompakan keduanya membuat hati Rifa menghangat. Wanita paruh baya itu berharap banyak dengan keputusan Riana di masa mendatang, semoga putrinya tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan baik mendapatkan lelaki se-baik Ardian.
Rifa tau pasti, bahkan bisa merasakan ketulusan Ardian untuk Riana. Sayang seribu sayang, tembok diantara keduanya memang tinggi, perbedaan keyakinan membuat Rifa lagi-lagi ‘mungkin’ harus merelakan putrinya menelan rasa sakit lagi, mengingat bagaimana Riana selama ini selalu taat dengan agamanya.
“Yeay, sudah selesai”
Riana bersorak riang, mendapati kue lupis buatannya dan Ardian berhasil dengan sempurna.
“Mama harus mencoba ini, kue lupis kuah santan, mantaaap. Enak disajikan hangat begini, kalau dingin jadi tidak enak menurutku” Ucap Riana, membalikkan pendapat awalnya.
Rifa mencicipi menu ajain itu.
Enak, hanya satu kata itu yang ada di benak Rifa. Tekstur ketannya dan rasa gurih santan di tambah dengan manisnya gula merah, bersatu dengan sempurna.
Rifa mengacungkan jempol tangannya, “Perfect” Ucapnya.
Riana tersenyum senang, setelah membersihkan dapur, mereka bersama-sama pergi ke ruang keluarga membawa lupis tadi.
“Aku ambilkan plester dulu” Ucap Riana hendak berdiri mengambil kotak P3K tapi, Ardian langsung mencegahya, “Tidak usah, ini hanya goresan kecil” Sahutnya.
Ya, jari Ardian harus menjadi korban alat parut manual tadi. Kesombongannya berhasil runtuh dengan ulti Tuhan yang Maha Esa.
__ADS_1
“Kau yakin?” Tanya Riana, merasa khawatir karena ia sempat melihat darah keluar dari jari Ardian tadi.
Ardian mengangguk tenang, memberikan rasa percaya pada Riana bahwa dia benar-benar baik-baik saja.