Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Pamit Kondangan


__ADS_3

Saat Riana sudah tiba di rumah, ternyata Nathan sedang membersihkan diri di kamar mandi. Motornya sudah terparkir rapi di depan dan tasnya pun sudah berada di ranjang.


Riana melihat ponsel Nathan tergeletak di sana, terbesit keinginannya untuk melihat isi di dalam ponsel itu tapi, Riana akhirnya memilih tidak melakukannya. Yang ia perlukan sekarang hanya percaya dengan Nathan.


“Sayang, sudah pulang?” Tanya Nathan, lelaki itu masih melilitkan handuknya di pinggang.


“Aku siapkan bajumu dulu” Ucap Riana, beralih menuju lemari baju mereka. Wanita itu sesekali melirik Nathan yang asik bermain ponsel sambil menunggunya.


“By the way, besok aku ada undangan kondangan. Aku berangkat dengan teman-teman” Ucap Nathan.


Oh, mungkin itu yang di maksud Roza tadi. “Dengan mereka yang biasa kemari?” Tanya Riana.


“Tidak, ada pokoknya dengan teman” Ucap Nathan.


Riana pun mengangguk, “Ya sudah, hati-hati” Sahut Riana lalu pergi ke kamar mandi.


Ting


Ponsel milik Riana berbunyi, mengintrupsikan bahwa ada pesan masuk.

__ADS_1


Halo mbak


Aku Arianti, pinjam suaminya bentar ya besok buat kondangan


Cih, Riana jijik sekali membacanya. Jadi, benar besok Nathan akan pergi dengan Arianti? Cukup tau saja. Riana melirik Nathan sekilas, memilih hanya membaca pesan itu lewat notifikasi.


“Bagaimana keadaan ayah tadi?” Tanya Riana.


“Tidak ada perubahan yang signifikan, dia hanya merasa badannya lebih enteng karena dipijat oleh orang pengobatan tradisionalnya” Jawab Nathan, bahkan lelaki itu berubah hanya beberapa waktu lalu kembali ke setelan semula.


“Ya sudah, aku tidur dulu” Ucap Riana lalu menarik selimutnya dan tidur dengan isi kepalanya yang berisik dengan berbagai masalah rumah tangganya.


...***...


Pagi-pagi sekali Nathan terlihat sudah rapi, dia sudah siap untuk berangkat ke rumah orang tuanya.


“Tumben, pagi-pagi begini sudah mau ke kebun?” Tanya Riana, dia saj baru selesai memasak.


“Iya, ada urusan” Gumam Nathan tanpa menoleh kepada istrinya, sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Riana hanya melihat lelaki itu dengan wajah datar. Berbicara tentang cinta, Riana bahkan sudah begitu muak dengan kata itu, dia tidak mau percaya lagi.


“Nanti pulang dulu atau langsung kondangan?” Tanya Riana saat melihat paperbag berisi baju ganti di sebelah Nathan.


“Aku nanti langsung saja. Jangan menungguku, mungkin aku akan pulang sedikit larut, kumpul dulu dengan teman-teman. Aku sudah membawa kunci cadangan”


Riana hanya mengangguk, tidak mau membuat hatinya semakin sakit, “Tidak sarapan dulu?” Tanya wanita itu.


“Tidak, sarapan di rumah ibu saja. Aku pergi dulu” Ucap Nathan lalu pergi meninggalkan Riana. Jangankan berlaku romantis seperti kemarin-kemarin, menoleh saja tidak.


“Hati-hati. Jaga dirimu baik-baik” Sahut Riana.


Wanita itu hanya melihat punggung suaminya, setelah pintu itu tertutup Riana mengeluarkan air matanya.


“Tuhan, aku tidak meminta apapun. Aku hanya ingin bahagia” Riana bergumam pelan, meskipun ia sendirian dan tidak akan ada yang mendengar isakannya. Tetap saja dia tidak terbiasa menangis.


Setelah menata hatinya, Riana pergi bersiap untuk berangkat ke toko. Niatnya, nanti sepulang kerja ia ingin pergi ke rumah mertuanya untuk melihat ayah mertua sekaligus memberikan uang belanja kepada ibu mertuanya. Bukan sore hari, mungkin malam hari seperti semalam, pasti Nathan juga sudah berangkat ke kondangan.


“Sabar ya sayang, kita pasti akan menemukan bahagia setelah ini” Gumam Riana mengelus perutnya.

__ADS_1


__ADS_2