
Seketika Ang melepaskan pelukannya.
"Tuan Gani, Nyonya Tiara. Selamat Sore." Ang tersipu!
"Tuan Sekretaris. Anda kemari?" sapa Gani Kuncoro.
"Ah, ia Tuan Gani." Sahut Ang menunduk.
Jika Yuri nampak biasa saja saat kepergok kedua orang tua nya sedang peluk pelukan dengan sekretaris Ang, tidak bagi Sekretaris Ang. Pria yang tak pernah memerah wajahnya itu kini benar benar malu.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak memberi kabar dahulu. Saya.._"
"Ah, tidak apa apa? Ayo masuk dulu ,masuk. Yuri.. Ajak calon suamimu masuk." ucap Gani Kuncoro menoleh pada Putrinya.
"Masuk kakak Yuk...!" Yuri segera menggandeng tangan sekretaris Ang dan menarik nya masuk mendahului mereka.
Mereka yang didahului saling melempar pandang lalu melempar senyuman. Tiara sempat hendak membuka mulut tapi Gani Kuncoro segera mencegahnya.
"Sst... Jangan bicara apapun tentang mereka. Biarkan saja, jangan sampai Tuan Ang tersinggung." bisik Gani Kuncoro.
Tiara hanya mengangguk, sebenarnya ia tadinya mau berbicara pada suaminya, kenapa Tuan Ang berani sekali memeluk Putri bungsu mereka di depan kediaman orangtuanya. Tapi jika di pikir pikir, wajar saja. Kan mereka sudah bertunangan, lagian itu terlihat sebagai bentuk cinta Tuan Ang yang besar pada Yuri. Tiara malah semakin bangga, begitu juga dengan Gani Kuncoro.
Tapi lain hal dengan Sekretaris Ang, pria itu rupanya masih menyimpan rasa malu pada kedua calon mertuanya itu. Saat Tiara dan Gani Kuncoro sudah duduk di hadapannya, Ang terlihat sangat canggung.
"Tuan Ang. Kebetulan sekali anda kemari dengan membawa Yuri. Kami sebenarnya berencana untuk menjemput Yuri nanti malam." ucap Gani Kuncoro memulai percakapan.
"Ah iya Tuan Gani. Sebenarnya Nyonya Mahendra sudah mengatakan pada saya. Sebab itu, saya kemari sengaja ingin mengantar Yuri. Sekalian tadi saya habis mengajak Yuri mengunjungi makam orang tua saya." jawab Sekretaris Ang, sekarang mengangkat wajahnya seolah ingin mengusir rasa canggung nya.
"Oh, begitu. Kalau begitu terimakasih Tuan Ang."
"Yuri. Mulai hari ini kau harus tinggal bersama kami dulu. Setelah hari pernikahanmu dengan Tuan Ang baru terserah kalian akan tinggal di mana." Gani, berbicara pada Yuri.
"Iya Ayah, kak Ang sudah menjelaskan nya tadi." jawab Yuri dengan raut sedih.
"Kau kenapa? Kau sedih , karena harus berpisah dengan Kak Ang mu?" tanya Tiara yang menangkap kesedihan di wajah putrinya sambil tersenyum.
"Ibu, semenjak bertemu dengan kak Ang, Yuri belum pernah berpisah. Wajar lah kalau Yuri sedih." rengek Yuri, menoleh pada Sekretaris Ang lalu tanpa sedikitpun sungkan memeluk sekretaris Ang.
"Yuri..Jangan begini? Kau ini tidak malu apa dengan orang tuamu.?" bisik sekretaris Ang, hendak melepaskan tangan Yuri. Namun Yuri tak menggubris,malah mempererat pelukannya.
"Tidak apa apa kakak? Mereka juga pernah muda." sahut Yuri, malah sengaja dikeraskan.
"Aku kan sedih, harus berpisah dengan mu?" lagi lagi Yuri merengek.
Gani Kuncoro dan Tiara tergelak kecil melihat kelakuan Yuri.
"Biarkan saja Tuan Ang, Putri bungsu kami ini memang jarang manja kepada kami. Wajar jika ia sekarang ingin bermanja dengan Anda calon suami nya." ujar Tiara.
"Ah, baiklah Ibu calon mertua. Kalau begitu, nanti saya akan memanjakan nya setiap saat." jawab sekretaris Ang, kali ini ia merengkuh kepala Yuri ke dadanya.
"Kau dengar itu Yuri. Jadi hari ini kau tidak boleh bersedih. Bersabarlah, hanya beberapa hari lagi. Setelah itu kau akan puas mengetek pada suamimu." ucap Tiara.
Mereka terbahak.
"Tuan, Nyonya. Apa benar jika pernikahan kami nanti akan diselenggarakan di rumah ini?" tanya Sekretaris Ang.
"Jika Tuan Ang tidak keberatan. Tapi, kalau Tuan Ang sudah punya pilihan lain, kami akan ikut saja." jawab Gani Kuncoro.
"Tidak apa apa Tuan Gani. Saya Setuju saja. Dimana pun itu, bukankah yang penting sah?"
"Anda benar Tuan. Baiklah, kalau begitu biar kami yang akan mempersiapkan segala sesuatunya. Anda tidak perlu repot memikirkannya." sahut Gani.
"Terimakasih Ayah Mertua. Saya jadi merasa tidak enak hati. Seharusnya ini sudah menjadi kewajiban saya, tapi ini malah.._"
"Tidak apa apa.. Tidak masalah. Kami tau , Taun Ang pasti sangat repot mengurus perusahaan, dengan keadaan Tuan Muda yang sedang ngidam. Kami mengerti. Kami hanya ingin membantu meringankan. Ini juga demi kepentingan Putri kami juga. Pesta juga hanya sederhana bukan? Tidak akan melelahkan."
Sekretaris Ang mengangguk, merasa menghangat hatinya. Jika dulu ia sempat berpikir jika keluarga Kuncoro adalah keluarga yang tidak baik, dan diakui sekretaris Ang jika ia sempat membenci keluarga ini. Namun setelah Yuri membawanya masuk ke keluarga ini, ternyata berbeda dengan dugaannya.
__ADS_1
Sebenarnya keluarga ini bisa menjadi keluarga yang hangat. Mungkin begitu lah manusia, saat melakukan kesalahan dan mau menyadari nya, maka kebaikan kebaikan akan menyapanya dan semakin meningkat untuk menyertainya.
"Baiklah, Tuan Gani. Saya juga minta maaf, jika tidak bisa mengadakan pesta besar untuk pernikahan Putri kalian. Tapi saya berjanji, jika waktu sudah mengijinkan nanti, maka kita akan mengadakan pesta yang meriah." ucap sekretaris Ang.
"Bukan kah kemarin kita sudah sepakat? Jadi jangan dijadikan beban. Yang penting kalian Sah dulu. Dan yang terpenting adalah, harus bahagia." sahut Gani Kuncoro.
Sekretaris Ang mengangguk, lalu menoleh pada Yuri.
"Kau tidak apa apa kan Sayang..?" sekretaris Ang bertanya pada Yuri yang sudah melepaskan pelukannya.
"Iya Kakak. Aku tidak apa apa. Apalah artinya pesta. Kita bisa melihat bagaimana Mia menikah dulu dengan Tuan muda Garra. Jangan kan pesta, cinta pun tak ada. Tapi lihatlah mereka sekarang. Begitu bahagia. Jadi semua itu tergantung hati kita saja yang menjalaninya. Benarkan?"
"Kau benar!"
"Baiklah, Tuan Gani, Nyonya Tiara. Saya harus kembali ke Rumah Tuan Muda. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan secepatnya." Ang, akhirnya berpamitan.
Tiara dan Gani Kuncoro mengiyakan. Lalu mereka mengantar Sekretaris Ang ke mobilnya.
Lagi lagi Yuri kembali memeluk sekretaris Ang.
"Sudah sudah, nanti aku akan menelpon mu. Jangan seperti ini. Kau membuatku sedih." Bisik sekretaris Ang, mengelus punggung Yuri dengan lembut.
"Janji menelpon ku ya?"
Sekretaris Ang mengangguk.
"Sampai di rumah?"
"Iya." lagi lagi sekretaris Ang mengangguk. Lalu Yuri melepaskan pelukannya. Terlihat mata Yuri berkaca kaca. Entah kenapa, perpisahan yang hanya untuk beberapa hari saja membuat Yuri begitu sedih.
"Kok malah menangis sih bocah?? Kau mau membuatku tidak tenang. Kalau begitu, ikut lagi pulang bersama ku." ucap Sekretaris Ang sambil menyeka air mata Yuri yang sudah menetes saja.
"Tidak Kakak. Maafkan aku. Aku , aku hanya berat saja melepas mu!"
"Yuri, jangan begitu Nak. Kalau kau begitu, nanti malah terjadi apa apa pada calon suamimu. Kau mau?" ucap Tiara kesal juga melihat sikap kekanakan Yuri.
"Kalau begitu jangan cengeng. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang istri. Harus belajar sabar dan lebih dewasa lagi."
Yuri akhirnya mengangguk dan segera menarik mundur langkah nya.
"Tuan , Nyonya. Saya permisi. Titip Calon istri saya."
"Tentu Tuan Ang, tentu. Anda tidak perlu khawatir, Silahkan. Hati hati dijalan calon pengantin.." sahut Gani Kuncoro.
Sekretaris Ang tersenyum mendengar ucapan Calon mertuanya itu. Kemudian mendekati Yuri.
"Aku pulang. Jaga dirimu baik baik. Kita akan bertemu di hari bahagia kita." ucap Sekretaris Ang, sempat mencium kepala Yuri dan segera masuk ke dalam mobil nya. Dan mobil milik sekretaris Ang, meleset dengan sempurna meninggal kan kediaman Keluarga Kuncoro.
Tiara meraih pundak Yuri dan membawanya masuk di ikuti Gani Kuncoro.
"Sabar Yuri. Sebentar lagi kan kau akan menjadi Nyonya Ang. Kau harus belajar dewasa. Jangan manja , jangan seperti anak kecil lagi. Kau ini, beruntung sekali mendapatkan pria hebat seperti Tuan Ang. Jika kau tidak bisa membawa diri, nanti Tuan Ang bosan padamu bagaimana?" oceh Tiara sambil menuntun Yuri ke kamar yang sudah di siapkan khusus untuk Yuri.
"Ibu, jangan menakuti ku?"
"Makanya, jangan berlebihan. Tuan Sekretaris itu bukan pria sembarangan. Seribu wanita seperti mu bahkan bisa ia dapatkan dengan mudah di luar sana. Kau harus pintar pintar menjaga diri agar Tuan Ang tidak bosan padamu dan berpaling." ucap Tiara lagi, sambil membuka pintu kamar.
"Ibu! Kak Ang tidak seperti itu. Keluarga Mahendra itu terkenal dengan kesetiaan nya. Mana mungkin Kak Ang akan berpaling dari ku. Kak Ang juga sudah berjanji di depan Batu nisan Orang tua nya , akan menjagaku dengan nyawanya dan juga tubuh nya." jawab Yuri setengah berteriak.
"Iya, ibu tau. Tuan Ang memang tidak seperti itu. Tapi sebagai wanita dan calon istri orang hebat seperti Tuan Ang, kau harus pandai pandai membawa diri juga. Masa iya, calon Nyonya Ang, Nyonya sekretaris utama cengeng dan manja begini?" ucap Tiara sambil menarik tubuh Yuri agar duduk di ranjang.
"Iya Bu. Maafkan Yuri. Yuri akan belajar lebih dewasa lagi."
"Bagus Yuri. Baiklah, sekarang kau mandi dulu, Ibu akan memaksa makan malam untuk mu."
"Ibu. Maafkan Yuri. Kau tidak marah padaku kan? Tidak kecewa karena aku belum sempat mencari pekerjaan malah memilih untuk menikah dini."
Tiara tertegun mendengar ucapan Putri bungsu nya itu. Kemudian meraih kedua tangan Yuri lalu menggenggam nya dengan erat.
__ADS_1
"Kau tidak perlu meminta maaf. Tidak ada alasan untuk ibu kecewa padamu Yuri."
"Dengar ibu. Pertama menikah dini itu diperbolehkan oleh agama asal sudah ada kesepakatan dari kalian yang akan menjalani. Terutama saling mengerti dan Percaya, itu saja kuncinya. Yang kedua, kau mendapatkan calon suami seorang pria hebat. Kau tau calon suamimu itu? Menantu idaman setiap orang tua dan suami idaman hampir setiap wanita di luar sana. Kau tidak perlu bekerja, kau akan kaya dan sukses tanpa bekerja."
"Seharusnya, ibu yang meminta maaf padamu. Ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu, terlebih untuk kakakmu Mia. Apa kau tau Yuri, tiap malam ibu menangis, tiap saat ibu merasa malu dengan kelakuan ibu dulu. Kau dan Mia yang dulu Ibu sisihkan malah membawa banyak perubahan dalam keluarga kita. Maafkan Ibu Yuri . Maafkan Ibu." Tiara memeluk Yuri dan terisak.
"Sudah Ibu, jangan mengungkitnya lagi. Ibu kan sudah menyadari kesalahan ibu, tidak perlu merasa bersalah terus. Yang terpenting Ibu doakan Yuri dan juga Mia agar selalu bahagia." Yuri menepuk nepuk halus punggung Ibu nya.
"Iya sayang. Tentu. Tentu Ibu akan terus mendoakan kalian semua. Semua tanpa terkecuali Jihan yang masih bandel itu saja, Ibu tetap mendoakan nya."
"Ibu sudah menyesal, bahkan sebelum Mia dan kamu menjemput kami dikontrakan kumuh itu, Ibu sudah bertobat. Dan mungkin Tuhan membalas tobat ibu dengan kebahagiaan yang berlipat lipat ganda. Bayangkan saja Yuri, kehidupan kami jauh lebih baik. Perusahaan Ayahmu semakin baik, nama kami juga kini semakin terhormat. Terlebih setelah banyak yang tau jika kami ini ternyata Mertua dari Tuan muda Garra. Apalagi nanti, di tambah akan menjadi Mertua Sekretaris utama Mahendra group. Sungguh suatu anugerah besar yang kami terima."
"Ibu benar. Ibu harus banyak bersyukur ya?"
"Tentu saja. Kau tau tidak. Kemarin Ibu dan Jihan bagi bagi sedekah ke seluruh penghuni komplek dan kontrakan bekas Kami mengontrak dulu. Uang dari Tuan muda dan calon suamimu sudah habis separuhnya untuk kami sedekahkan. Ibu ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka. Ibu pernah merasa sulit sesulit sulit nya ketika berada di sana, makanya ibu ingin Sedikit mengurangi kesulitan mereka juga." Tiara bercerita pada Yuri.
"Syukur lah Bu, Yuri ikut senang mendengar nya. Ibu tenyata sekarang benar benar menjadi orang yang baik dan berhati mulia."
"Semua karena kau dan Mia sayang..?"
kembali Tiara tak berhenti mengucapkan rasa syukur atas nikmat Tuhan pada keluarga nya.
"Baiklah Bu, aku mau mandi dulu ya?"
"Ah, iya. Ibu akan memasak makanan kesukaan mu. Mandilah!" Tiara kemudian keluar meninggalkan Yuri dengan perasaan yang begitu senang.
Yuri pun merasa sangat lega dengan seluruh perubahan Keluarga nya. Ibunya benar benar sudah menjadi ibu yang baik. Sungguh tidak seperti yang Yuri kenal dulu.
Lalu, bukan nya mandi, Yuri malah mengambil Hpnya dan melakukan panggilan Video pada sekretaris Ang.
"Kakak!" jerit Yuri , sumringah ketika wajah yang sudah ia rindukan itu terpampang jelas di layar Hp nya.
"Kau ini? Baru saja aku turun dari mobil. Tidak kuat ya?" ucap pemilik wajah tampan itu.
"Kakak! Sudah tau tanya!"
"Kau sedang apa?"
"Merindukan kakak!!"
"Berhenti Yuri. Kau jangan membuatku goyah. Jika aku tidak tahan melihat wajah menggodamu itu, bisa bisa aku nanti malam kembali kesana untuk menjemputmu lagi atau untuk menyelinap ke kamar mu!"
"Hahaha.. Kakak tidak tahan juga ya??? Hayo ngaku!" Yuri menertawakan sekretaris Ang yang kini sudah terlihat duduk di ranjang milik kamarnya.
"Awas kau bocah. Aku akan mencabik cabik mu nanti. Lihatlah, aku akan menghukum mu karena kau terus menggodaku., Aku tidak akan mengampuni mu walau nantinya kau akan menangis dan berteriak sekalipun!"
"Haha.. Kita lihat saja nanti kak! Aku atau kakak yang akan berteriak!!"
"Kau menantang ku?"
"Tentu saja."
"Baiklah, kita akan segera buktikan!"
"Oke, siapa takut!" sahut Yuri.
"Kakak! " panggil Yuri, sambil merebahkan kepalanya di bantal, dengan pandangan yang tak lepas dari layar Hpnya.
"Aku kangen!" rengek Yuri.
Sekretaris Ang tergelak. Mengusap bibir Yuri dari layar Hpnya. Dada nya terasa berdesir hebat, ia terus menatap wajah manis milik kelinci kecilnya itu.
"Bocah ini. Benar benar meluluh lantahkan Iman ku." Sekretaris Ang menghela nafas , lalu terlihat menggigit bibir bawahnya sendiri. Otaknya sudah traveling saja. Sambil matanya terus menatap layar HP nya yang di penuhi wajah Yuri, sambil pikiran nya membayangkan sedang melumatt habis bibir imut itu.
"Kakak!! Apa yang sedang kau pikirkan..? Ya Tuhan Kak Ang, kau mesum!!" teriak Yuri di sana, membuyarkan lamunan Sekretaris Ang yang langsung tertawa.
"Tau saja bocah!"
__ADS_1
____________________