Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Tidak seperti biasa.


__ADS_3

Mereka memasuki gedung perkantoran, lalu menuju ruangan Garra.


Sepanjang perjalanan masih dengan perasaan yang sama, yaitu penuh bahagia.


Para karyawan sampai merasa heran dengan perilaku Tuan muda Garra pagi ini yang tidak seperti biasanya.


Garra melempar senyuman pada setiap karyawan yang di jumpai nya.


Biasanya , tidak lah begitu. Garra di kenal sebagai pemimpin yang dingin dan penuh kharisma. Jarang tersenyum bahkan dengan rekan bisnis nya sekalipun.


Hingga , pernah ada kejadian pagi ini yang membuat semua orang terkejut.


Saat seorang karyawan tak sengaja hampir saja menabrak nya karena berjalan terlalu terburu buru.


Karyawan itu sudah pias, dengan tubuh yang gemetaran saking takut nya.


Garra mendekati karyawan itu, lalu di luar dugaan semua orang. Garra menepuk bahu karyawan pria itu.


"Lain kali, berhati hati lah. Tidak perlu terburu buru melakukan apapun. Pelan saja asal pasti."


"Baik Tuan Muda. Terimakasih!"


Semua melongo, tak terkecuali sekretaris Ang sendiri.


Biasanya jika ada yang seperti itu atau kesalahan yang lain, Garra tidak akan menegur, melihat pun tak Sudi. Hanya menoleh pada Ang, sembari terus berjalan.


Dan pastinya, Ang yang akan mengatasi nya, memberi teguran pada pembuat kesalahan. Minimal tamparan Ang yang akan mendarat mulus.


Ada juga kejadian aneh hari ini, ketika Garra sudah duduk manis di kursi kebesaran nya.


Seorang karyawan masuk memberi laporan pada sekretaris Ang.


Lalu Ang menyuruh karyawan itu menunggu sebentar. Sekretaris Ang mendekat pada Garra.


"Tuan muda. Ada beberapa nama karyawan magang yang lulus seleksi tahun ini. Anda perlu menyeleksi nya ulang untuk menentukan pilihan."


Garra menoleh, melempar senyuman.


"Terima saja semua!"


"Hah! Tuan muda , anda serius?"


"Beri mereka kesempatan Ang,. Jika kinerja nya bagus lanjut kan kontra mereka. Jika jelek, kamu boleh bertindak."


Benar benar berbeda perilaku Garra hari ini. Apa ini berhubungan dengan stempel kepemilikan milik Mia yang melekat di leher nya? Bisa jadi.


Itulah keadaan Garra di perusahaan .


Sementara di rumah besar Garra, tepatnya di kamar milik Garra yang sekarang ini juga sudah menjadi milik Mia tentunya.


Mia tengah asyik menyantap kerang ijo oleh oleh dari Yuri.


Asyik, sampai hampir semua habis di makan Mia sendiri.


"Terimakasih ya Yuri. Aku sungguh menginginkan kerang ijo ini dari dahulu kala. Sungguh senang nya hatiku, kau membelikan nya untuk ku."


"Iya Mia.. Aku tau kau menyukai makanan itu makanya saat aku melihatnya aku ingat kamu." jawab Yuri.


"Kau baik sekali Yuri. Ini aku habiskan ya.? Kau tidak usah."

__ADS_1


"Hahaha, iya. Habis kan saja. Habiskan.


Aku kan tidak suka dengan makanan itu."


Mia makin senang, melahap sisa kerang ijo itu.


"Ngomong ngomong, dari mana kau mendapatkannya Yuri?"


"Kemarin aku tidak sengaja melihat Amang gerobak nya sedang dagang di pinggir jalan dekat Rumah makan jauh di sana. Aku lalu membelinya. Sebenarnya sempat tumpah. Tapi Tuan sekretaris mengganti nya dengan membeli yang baru."


"Memang kau dari mana dengan sekretaris Ang?" tanya Mia.


"Hah! Yuri... jadi kemarin seharian kau tak nampak , pergi jalan dengan Sekretaris Ang?" Mia membelalak, menatap Yuri.


Yuri tak menjawab, malah tersipu malu.


Melihat Yuri tersipu Mia kembali bertanya.


"Kau pacaran dengan sekretaris Ang?"


"Tidak. Siapa yang pacaran."


"Itu senyum senyum, sipu sipu malu begitu kenapa?"


"Tidak apa apa." jawab Yuri, semakin membuat Mia curiga.


"Ah, aku tau. Kau suka pada sekretaris Ang ya?"


"Mia.. berhenti. Aku kan malu."


"Hahaha.." Mia terbahak,


"Yuri jatuh cinta pada sekretaris Ang..!"


Yuri menatap kesal pada Mia, tapi mata Yuri segera melotot menangkap tanda merah begitu banyak di leher Mia.


"Hahaha... Mia.. kau..! Kau juga rupanya sudah jatuh cinta pada Suami mu."


Mendadak Mia menghentikan tawanya.


"Apa sih?"


"Apa apa. Itu apa di leher mu. Ya Tuhan Mia.. Banyak sekali.. Ini kerokan apa bekas kissmark dari tuan muda Garra?"


Mia segera sadar, langsung menutup lehernya dengan rambutnya.


"Ini namanya Stempel tanda kepemilikan kata Suamiku." jawab Mia tersipu.


"Banyak sekali, yang benar saja. Coba ku periksa yang lain. Pasti ada lagi selain itu." Yuri mendekat, ingin membuka baju Mia bagian atasnya , namun Mia langsung mencegah.


"Apa sih Yuri. Kau ini tidak sopan tau..!"


Yuri kembali terbahak.


"Seharian kemarin, ternyata Tuan sekretaris mengajak ku pergi karena sengaja tidak ingin aku mengganggu kalian rupanya. Dengan ketuk ketuk pintu mengantar makanan untuk mu." ucap Yuri masih terbahak.


Mia cemberut di ledek Yuri.


"Apa saja yang kau lakukan dengan Suami mu seharian kemarin. Atau jangan jangan sampai semalam ya? Cerita Mia , cerita kan padaku. Aku ingin tau."

__ADS_1


"Aku.. aku . Tidak. Kami hanya.." wajah Mia seketika memerah.


"Mia, jadi kau.. Hah.!"


"Diam. Kau tidak perlu tau!"


"Ye.... sebentar lagi, keponakanku otw jadi nih. Pasti! Sampai di bela belain Tuan Muda Garra tidak berangkat ke perusahaan seharian kemarin, rupa nya lembur membuat keponakan ku..??"


"Diam....!!!" Mia semakin cemberut di buat Yuri.


"Mia.. kira kira jika kau hamil nanti, kau mau punya anak perempuan apa laki laki?"


"Hah! Hamil maksudmu?"


"Hamil? Perut kamu gede, ada dedek bayinya di dalam. Seperti ibu ketika mengandung aku dulu. Kau melihatnya kan?"


Mia mengangguk, masih sedikit mengingat saat ibu tirinya berperut besar dan tak lama keluar Yuri dari perutnya.


"Kau tau tidak hamil itu apa? Prosesnya bisa hamil itu bagaiman? Melahirkan itu apa?" tanya Yuri.


Mia menggeleng, rupanya Mia tidak paham apa itu hamil, proses hamil dan melahirkan. Mia hanya taunya perut gede itu berisi dedek bayi. Entah proses hamil dan melahirkan bagaimana ,Mia sama sekali tidak mengerti.


Untung Yuri paham itu, Yuri mengerti.


'Gawat ini? Jika Mia tidak paham? Tidak bisa di biarkan.'


"Besok, aku akan mencarikan mu buku panduan hamil. Agar kau paham apa itu hamil, lalu melahirkan bayi itu bagaimana. Kau kan sudah jadi seorang istri. Kau harus siap untuk hamil dan melahirkan. Jadi kau perlu tau dan paham hal itu." ucap Yuri, membuat Mia terharu akan kepedulian Yuri.


Mia tidak pernah menyangka jika masih punya Yuri yang ternyata sangat peduli padanya. Walaupun dulu, di tengah tengah keluarga nya yang tidak menyukainya, Yuri masih sempat mencuri curi waktu untuk menunjukkan kebaikan pada nya.


Mia senang, merasa bahagia. Merasa tidak sendiri lagi.


Lalu Mia menggenggam tangan Yuri.


"Terimakasih kasih Yuri. Atas semua yang telah kau lakukan padaku. Seumur hidupku, aku tidak akan pernah melupakan nya.


"Mia.. jangan bilang begitu. Walau bagaimana pun juga, kau itu kakak ku. Kita tetap satu ayah walaupun lain ibu. Benarkan..?"


Yuri tiba tiba memeluk Mia.


"Kau benar Yuri. Kita saudara satu ayah." Mia membalas pelukan Yuri dengan hangat.


"Mia.. maafkan semua kesalahanku di masa lalu ya? Kau tidak dendam padaku kan atas perlakuan tidak baik ku dulu padamu?" ucap Yuri di pelukan Mia.


"Iya Yuri. Aku tau kok, kamu terpaksa melakukan nya karena untuk melindungi dirimu. Sudahlah, aku sudah melupakan semua itu. Yang penting sekarang sudah waktunya kita menentukan masa depan kita. Lalu mencari Ayah dan ibu juga Jihan. Kita harus menemukan mereka dan mengetahui kabar mereka. Karena walau bagaimanapun juga mereka adalah satu satunya keluarga yang kita punya." jawab Mia.


"Mia, kau benar akan mencari mereka? Jika benar, aku tau cara menemukan mereka?"


"Benarkah..Memang kau tau mereka tinggal di mana sekarang?"


Yuri menggeleng, "Bukan aku!"


"Lalu siapa?"


"Tuan Sekretaris!"


________________


__ADS_1


Mia Mahendra.


Bersambung.........!!!!!!


__ADS_2