
Malam ini,
Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga. Ada Garra Mahendra dan Mia serta Gani Kuncoro dan Tiara yang sengaja datang karena dihubungi oleh Yuri. Sudah pasti Sekretaris Ang dan Yuri ada disana karena pertemuan ini memang kehendak mereka berdua.
Sekretaris Ang mengutarakan maksudnya pada Garra dan mertuanya mengenai niatnya untuk menjalani Prosedur Bayi tabung untuk mereka.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kalian, orang tua hanya bisa mendukung niat baik kalian. Toh bayi Tabung jika bibit diambil dari kalian itu sah sah saja dan diperbolehkan oleh Agama. Kecuali jika dari orang lain. Ayah tidak akan setuju. Karena sama saja Yuri akan mengandung anak dari orang lain. Bukan dari suaminya sendiri." ucap Gani Kuncoro.
"Tentu Ayah. Kami bisa menjamin, jika bibit akan dari kami sendiri. Kami sudah pernah melakukan cek kesuburan. Sebenarnya saya dan Yuri tidak ada masalah di tingkat kesuburan. Hanya saja rahim Yuri terlalu jauh. Dan itulah sebenarnya penyebab Yuri kesulitan untuk hamil. Itu adalah pemeriksaan terakhir oleh Dokter yang kami terima." jelas sekretaris Ang.
"Kalau begitu tunggu apa lagi Ang? Kalian harus segera melaksanakannya. Masalah biaya, ku rasa kau tidak perlu bantuanku jika hanya beberapa ratus juta saja." Sela Garra.
"Ah, iya Yuri. Jika kau bisa hamil, aku juga ingin mengikuti cara kalian. Aku ingin hamil lagi." sahut Mia.
"Mia.. Beri kesempatan untuk Adikmu. Kau sudah punya Rayyan. Kenapa kau masih belum juga puas?" potong Garra.
"Bang Garra!" Mia cemberut.
"Sayang... Bayi tabung itu untuk Induk telur yang subur seperti Yuri yang bermasalah karena jauh. Jika kau ini, apa belum mengerti juga?" jelas Garra mengingatkan Mia.
Mia diam, ia baru ingat jika Dokter sudah pernah mengatakan jika ovarium atau sel induk reproduksi di rahim Mia sudah tidak aktif lagi akibat Kanker yang pernah di derita Mia tempo lalu.
Melihat istrinya diam Garra buru buru meraih tubuh Mia dan memeluknya.
"Sayang! Jangan bersedih. Kita kan sudah punya Rayyan. Bukan kah kau sudah setuju jika mereka yang akan berusaha memberi Adik untuk Tuan Muda Rayyan?"
"Ah iya. Baiklah, semoga kali ini Usaha mereka berhasil." akhirnya Mia mengangguk dan tersenyum.
Epilog.
Sekretaris Ang dan Yuri sudah berada di hadapan Dokter Sinta dan Dokter Spesialis kandungan dari Singapura itu.
"Lakukan yang terbaik untuk kami. Aku sungguh berharap jika usaha ini akan berhasil."
"Baik Tuan Sekretaris. Kami akan menyiapkan segala sesuatunya." jawab Dokter dari Singapura itu.
"Tapi sebelumnya, bisa kah kau menjelaskan secara detail bagaimana proses Bayi tabung dan resikonya. Aku juga ingin tau apakah kita bisa memilih jenis kelamin untuk bayi tabung ini?" tanya Sekretaris Ang.
"Baiklah Tuan, kami akan jelaskan."
"Jadi Prosedur ini dilakukan dengan cara mempertemukan sel telur Nyonya Ang dan sel spermaa Anda di luar, yakni di dalam tabung khusus di laboratorium. Setelah sel telur tersebut berhasil dibuahi, bakal janin yang terbentuk akan ditanam di rahim Nyonya Ang untuk menghasilkan kehamilan."
__ADS_1
"Kita akan memulai dengan pemberian suntikan hormon pada Nyonya. Suntikan ini berfungsi untuk memproduksi beberapa sel telur sekaligus. Karena dari beberapa sel telur, kemungkinan hanya akan ada satu yang akan berhasil dibuahi.
Setelah itu, obat-obatan akan diberikan pada Nyonya Ang untuk membantu mematangkan sel telur yang berkembang dan merangsang proses ovulasi atau pelepasan sel telur.
Pengujian melalui tes darah atau USG akan dilakukan untuk menentukan kesiapan tubuh untuk proses pengambilan sel telur."
"Lalu resikonya?" tanya sekretaris Ang.
"Ada beberapa risiko bayi tabung yang bisa saja terjadi. Beberapanya adalah tekanan darah tinggi, preeklampsia, retardasi pertumbuhan, perdarahan, dan tingkat kelahiran prematur. Preeklamsia adalah kondisi yang terjadi dan akibat dari tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol pada ibu hamil. Sementara Retardasi mental adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan nilai IQ di bawah rata-rata dan ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti orang normal. Retardasi mental juga dikenal dengan istilah gangguan intelektual. Dan itu bisa terjadi pada bayi anda nantinya. Namun kita masih bisa berusaha untuk mengurangi resikonya." jelas sang dokter.
Setelah mendengar penjelasan sang Dokter, sekretaris Ang menghela nafas.
Ternyata begitu berat resikonya, tidak semudah yang ia bayangkan.
Sekretaris Ang menoleh pada Yuri.
"Apa kau sudah siap dengan segala resikonya Yuri? Aku.. aku sepertinya.."
"Aku siap! Apa pun itu, aku akan bersedia asal aku bisa hamil." sahut Yuri.
"Tapi..!"
"Kak! Percayalah padaku. Kita tidak boleh lagi merasa takut. Berhentilah dengan ketakutan yang belum tentu terjadi."
"Baiklah!" ucap sekretaris Ang, kembali menatap sang dokter dan bertanya lagi.
"Kalau begitu jelaskan pada kami, bisakah kami memilih jenis kelamin untuk bayi kita?"
"Tentu saja Tuan. Berkat sains dan kemajuan teknologi medis, kini tiap pasangan bisa menentukan jenis kelamin anaknya sebelum terjadi pembuahan. Secara teknis hal ini memang bisa dilakukan melalui prosedur bayi tabung ini."
Sekretaris Ang bernafas lega, menoleh kepada Yuri dan tersenyum.
"Kalau begitu aku menginginkan bayi berjenis kelamin.._"
"Perempuan!" potong Yuri.
Sekretaris Ang terkejut dan seketika menoleh pada istrinya.
"Yuri!"
"Dokter. Tolong usahakan jenis kelamin perempuan untuk bayi kami nanti."
__ADS_1
"Yuri, kenapa?"
"Kak! Yang kita butuhkan hanyalah anak. Tidak harus laki laki juga. Kau tidak memikirkan resiko IQ di bawah rata rata pada bayi kita nanti? Jika itu benar benar terjadi, apa jadinya anak kita nanti jika dia seorang laki laki? Apa kau tidak memikirkan seorang laki laki harus tumbuh menjadi seorang yang bodoh? Aku tau ini belum tentu terjadi. Tapi sebagai calon ibu setidaknya aku sudah bisa berusaha untuk menjaga anakku kelak."
Sekretaris Ang kembali terdiam, kembali membenarkan alasan Yuri. Jika IQ di bawah rata rata benar terjadi pada bayinya kelak, laki laki akan merasa menjadi seorang yang malang. Namun jika perempuan? Itu tidak akan berpengaruh banyak.
"Ada Tuan Muda Rayyan yang akan menjaganya kelak! Kau benar Yuri. Kau benar. Maafkan aku!"
"Baiklah dokter. Persiapkan semuanya dan jaga rahasia jenis kelamin yang kami pinta pada siapa pun juga."
"Baik Tuan Sekretaris. Kami akan segera mempersiapkannya. Besok kita akan memulai tahapan demi tahapannya."
"Terimakasih Dokter. Kami akan siap kapan pun itu. Lakukan yang terbaik untuk kami."
Dokter pun mengangguk.
Sekretaris Ang dan Yuri berpamitan setelah mengucapkan terimakasih pada Dokter Sinta yang sekali lagi berperan penting dalam hidup mereka.
Sekretaris Ang segera membawa Yuri pulang.
Sepanjang perjalanan mereka terdiam, baik sekretaris Ang maupun Yuri tenggelam dalam pikirannya masing masing.
Hingga sampai dikamar mereka.
Sekretaris Ang mendekati Yuri yang duduk melamun di ujung sofa.
"Yuri. Maafkan aku, jika kau tidak nyaman dengan pernikahan kita ini." Sekretaris Ang meraih tangan Yuri.
Yuri tersenyum. "Bukan begitu, aku hanya berpikiran, jika menikahi ku kau hanya mendapatkan banyak beban."
"Ngomong apa sih?"
"Kak Ang! Kenyataannya , rahim ku yang jauh. Meskipun dulu aku tidak ber-KB sekalipun aku tetap akan kesulitan untuk hamil. Jadi ini semua sebenarnya bukan salahmu. Tapi salahku."
Sekretaris Ang langsung merengkuh tubuh Yuri.
"Dengarkan aku. Menikahi mu adalah keputusan ku. Aku tidak pernah merasa terbebani sedikitpun. Semua ujian kita ini ku anggap pemanis dalam rumah tangga kita."
"Aku bahkan bisa menerima mu meskipun tanpa Anak. Hanya saja kita perlu berusaha demi Tuan Muda Rayyan. Demi Kakakmu yang kemungkinan sudah tidak bisa hamil lagi. Percayalah! Aku mencintaimu tanpa syarat apapun. Kau mengerti Yuri? Aku mencintaimu. Aku ingin kita bahagia selamanya. Apapun yang terjadi, jangan sampai merusak kebahagiaan kita."
Sekretaris Ang mendekap erat istrinya. Yuri pun semakin merasa beruntung memiliki suami seperti Sekretaris Ang. Panglima es batu yang dulu pernah ia maki dan akhirnya leleh mencair karena cintanya.
__ADS_1
____________________