
Belum juga satu jam setelah kelahiran Penerus Keluarga Mahendra, kabar sudah tersebar luas. Bahkan puluhan wartawan dari stasiun TV dan Media Media Peliput berita sudah merapat di depan Gedung Rumah Sakit dengan Kartu Tanda Pengenal mereka yang menggantung di leher mereka masing masing.
Rupanya sejak pagi tadi mereka sudah berada di sana. Dari mulut ke mulut mendengar kabar jika Nyonya Mahendra akan melahirkan hari ini.
Setiap Stasiun Televisi sudah mengirim lebih dari dua Reporter unggulan mereka untuk mendapatkan kabar terkini dari Kelahiran Sang Penerus Perusahaan Mahendra Group.
Mereka hanya bisa berdiri di luar saja. Karena penjagaan saat ini begitu ketat, dan tidak sembarang orang yang diperbolehkan untuk masuk.
Apalagi di arah yang menuju lantai VVIP, penjagaan dua kali lipat dari pada diluar.
Apa boleh buat. Bisa apa mereka?
Hanya bisa bersabar.
Mengamati setiap mobil yang keluar masuk dari Rumah sakit. Saat beberapa orang yang diduga adalah orang orang berpengaruh milik Perusahaan Mahendra Group keluar dari arah lantai VVIP langsung diserbu pertanyaan.
"Tuan, Tuan! Tolong beri kami jawaban. Bagaimana keadaan Nyonya Mahendra?" memposisikan diri sebaik mungkin.
Yang satu mendesak maju, mengarahkan Handycam kearahnya.
"Yang jelas Nyonya Mahendra dan Tuan Muda Garra saat ini sedang sangat bahagia." tersenyum bangga.
Minggir, melipir.
Sepertinya seluruh manusia yang berhubungan dengan Perusahaan Mahendra Group sudah diatur, agar jangan berbicara sembarangan.
"Tuan! Apa jenis kelamin penerus keluarga Mahendra. Apakah Tuan Muda atau Tuan Putri kah??" sambil mundur.
"Hahaha, iya iya. Tuan.._!"
"Heh, kau cari mati!" temannya menyenggol.
"Oh, iya. Tuan Putri..Tuan Muda. Bisa ,bisa jadi. Nanti. Nanti semua pasti akan kebagian beritanya. Harap bersabar untuk beberapa hari ini."
"Benar benar,. Tuan Muda Garra dan Nyonya Mahendra sedang menikmati detik detik kebahagiaan mereka."
"Tuan .. Tuan , setidaknya beri kami bocoran sedikit saja." berteriak, berlari menyusul.
"Ah, sial!" mengumpat, ketika para orang orang berkuasa itu sudah berhasil memasuki mobil mereka.
"Eh, itu itu. Siapa yang datang?" menunjuk setelah mobil mewah yang memasuki area parkir khusus. Langsung berlari menyerbu.
Penjaga dengan sigap mencegah mereka.
"Nona! Nona. Siapa dia?"
"Kerabat Keluarga Mahendra. Nona Jihan! Nona Jihan!" salah satu dari Reporter mengenali, tapi segera di dorong penjaga.
Seorang wanita dengan sigap menuruni mobil dan berjalan cepat ke arah dalam, setelah menyodorkan tanda pengenal pada penjaga baru mereka menyisih, itupun karena seseorang dari mereka ada yang kebetulan mengenalnya.
Harus melewati satu gerombolan keamanan lagi. Yang mungkin bisa jadi tidak mengenalinya. Dan terbukti.
"Minggir!"
"Nona! Anda tidak boleh masuk. Hanya orang orang yang berkepentingan yang di perbolehkan! Pergilah!" seorang penjaga mengusir.
"Hei, aku juga ada kepentingan!" berteriak.
"Maaf Nona. Saat ini, Rumah Sakit ini menjadi milik pribadi Tuan Muda Garra. Tidak ada yang boleh masuk selain orang-orang terdekatnya."
"Brengsek kalian! Mau kalian aku adukan pada Tuan muda Garra hah atas perlakuan kalian pada adik ipar Tuan Muda Garra! Kalian akan dipecat!" menuding.
"Minggir! Aku ingin segera melihat keponakan yang baru lahir!"
"Hah! Apa, apa? Nona ini bilang apa tadi?"
"Adik ipar Tuan Muda katanya?"
"Mana mungkin? Adik Ipar Tuan Muda, adik Nyonya Mahendra adalah Nyonya Ang. Dia siapa?"
"Aku tidak mengenalnya."
"Aku juga."
"Ah, dia hanya seorang reporter yang ingin menyusup. Usir saja. Cepat usir. Jika tidak kita akan mati!"
__ADS_1
"Hei, apa yang kalian bicarakan? Cepat beri aku jalan!!"
"Nona! Pergilah Nona, jangan membuat masalah disini?"
"Kepala mu itu, kalian yang berbuat masalah!!!" berkacak pinggang.
"Nona maafkan kami!" menarik dengan paksa.
"Apa yang kalian lakukan sialan! Aku ini Nona Jihan!! Kakak Nyonya Ang!! Lepas , lepas!"
Menghentikan aksinya, menoleh pada temannya.
"Nona Jihan? Kau mengenalnya?"
Yang ditanya menggeleng.
"Dasar Reporter Gila. Kau mau mengelabuhi kami rupanya!" menarik lagi.
"Nona Jihan. Eh, tunggu. Aku pernah mendengar jika Nyonya Ang mempunyai satu kakak perempuan lagi." teriak kawannya.
"Hah!" melepaskan tangan Jihan.
"Yang benar kau!" terkejut.
"Ya, seperti nya benar."
"Sudah ku bilang! Aku ini Nona Jihan. Anak Kedua Tuan Gani Kuncoro. Adik Nyonya Mahendra sekaligus kakak Nyonya Ang. Jangan cari mati kalian berlaku kurang ajar padaku!" teriak Jihan kembali.
"Aduh! Bagaimana ini?" menoleh ragu pada temannya yang juga ragu.
"Benar tidak?"
"Tidak tau."
Untung di ujung sana muncul Pak Abu yang berlari kecil kearah mereka.
"Bodoh kalian!"
Plak...Plak..!
" Minta maaf sekarang, dan biarkan Nona Jihan masuk!"
Menunduk takut.
'Aduh, bagaimana bisa kita tidak mengenali adik ipar Tuan Muda. Bisa di pecat kalau begini.' menyesal sudah memperlakukan wanita itu dengan tidak baik.
"Nona Jihan, silahkan masuk. Mereka sudah menunggu Anda. Maafkan saya terlambat menyambut Anda." pak Abu mempersilahkan.
"Pecat mereka. Dia, dia , dia."Jihan menunjuk beberapa penjaga sambil mendelik. Berlalu sambil mengumpat umpat.
Dua penjaga tadi saling melempar pandang.
"Maafkan kami Pak, kami tidak bisa mengenali Nona Jihan!" merengek.
"Pak tolong kami. Jangan adukan pada Tuan Muda. Tolong sampaikan maaf kami pada Nona Jihan." memohon.
"Selamat diri kalian masing masing. Mana bisa saya menolong!" pak Abu berlalu. Menyusul langkah Jihan.
Sementara di dalam ruangan sana, Garra yang nyawanya belum sepenuhnya kembali ke raganya dengan utuh, masih terlihat sedikit gemetaran pasca menemani Mia melahirkan tadi masih saja menciumi Mia. Seluruh wajah Mia tak luput dari kecupannya.
"Terimakasih Mia.. Terimakasih sayang!!"
"Maafkan aku, maafkan aku. Kau tau, aku sungguh takut tadi. Aku takut sekali!"
Mia hanya tersenyum. Dengan tenaganya yang tersisa membelai rambut suaminya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu dipenuhi rasa haru, bahagia dan masih tersisa air mata di ujung mata mereka.
Setelah perjuangan Mia yang menegangkan , bayi Mia akhirnya keluar dengan selamat.
"Selamat Tuan Muda. Selamat Mia! Terimakasih sudah melahirkan Cucu pertama Ayah!" Gani mendekat. Garra menyisih sedikit memberi kesempatan untuk Mertuanya.
"Iya Ayah, Terimakasih sudah memberi dukungan untuk kami."
Gani mengangguk, mengusap air matanya. Sungguh hatinya bahagia bercampur sedih. Ia teringat Ibu Mia. Berbisik dalam hati.
__ADS_1
"Semoga kau ikut bahagia menyaksikan Kebahagiaan Putrimu."
Seorang perawat masuk. Menggendong seorang bayi.
Garra, masih dengan sedikit gemetaran menyambut jagoan kecilnya.
"Jagoan Papa! Jagoan Papa. Selamat datang Nak! Selamat datang."
"Mia.. Lihatlah! Bayi mu seorang Tuan Muda!" mendekatkan pada Mia.
Mia yang belum boleh bangun hanya bisa mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi gembul bayinya.
"Apa dia seorang laki laki?"
Garra tergelak."Tentu saja. Bukankah aku menyebutnya Tuan Muda!"
"Kalau begitu artinya Bang Garra bukan Tuan Muda lagi?"
"Tentu saja. Sekarang dialah Tuan Muda Mahendra. Dan kau bukan lagi Nyonya Muda melainkan Nyonya Tua."
Semua tertawa mendengar ucapan Garra.
"Mia..!!" suara melengking dari arah pintu mengejutkan mereka.
Jihan langsung pucat ketika mata Garra sudah melotot kearahnya.
"Nenek lampir! Kecilkan suaramu! Kau mengejutkan bayiku!!"
"Maaf Tuan Muda. Ah.. kakak ipar. Saya sangat senang sampai lupa. Hihi." tak peduli lagi, Jihan mendekati Mia.
"Mia.. kau baik baik saja?"
"Iya Jihan! Aku baik baik saja."
"Oh syukurlah. Maaf aku terlambat. Saat Ibu memberi kabar, aku masih di kantor. Dan penjaga tadi sempat tidak mengenaliku dan malah mengusirku. Untung saja Sopir mu datang untuk menyambut ku. Jika tidak mungkin aku tidak bisa masuk kemari." gerutu Jihan.
Kembali mereka terbahak mendengar aduan Jihan.
"Kau payah! Masa iya sampai penjaga tidak mengenali mu sebagai bagian dari keluarga Mahendra!" ledek Yuri.
"Aku kan memang tersisih!" jawab Jihan merengut.
"Jangan begitu, kau tetap bagian dari keluarga ini. Karena kau sekarang terlalu sibuk dengan perusahaan Ayah, jadi kau jarang bersama kami. Wajar mereka tidak mengenalimu." ucap Mia.
"Mau bagaimana lagi. Resiko jadi anak yang tertinggal yang begini. Memikul beban." sahut Jihan.
"Makanya cepat menyusul biar tidak disuruh suruh Ayah membantunya mengurus perusahaannya." ucap Yuri.
"Kau ini. Jika semua menikah dan pergi, siapa yang membantu Ayah?"
"Hahaha, iya juga."
"Berarti Jihan tidak akan menikah donk selamanya!" sambung Mia.
"Enak saja! Aku akan menikah! Aku akan menikah. Masa iya harus sendirian sampai tua."
Mereka kembali terbahak.
Di tengah gelak bahagia mereka, tiba tiba Mia meringis.
"Mia.. Kau kenapa?" tanya Garra. Segera memberikan Bayinya pada Sekretaris Ang yang memang menyambutnya.
"Sakit, perutku sakit."
Garra tersentak melihat darah mengalir banyak dari bawah paha Mia.
"Panggil dokter, panggil Dokter!" Garra menjerit.
Sekretaris Ang segera berlari keluar sesaat setelah Tiara menyambut bayi Mia.
Tak lama Beberapa Tim Medis datang. Semua keluar ruangan!
Dan Mia segera diperiksa!
_________________
__ADS_1