
Di hari di mana Garra di periksa oleh sang dokter, di hari di mana Mia dinyatakan positif hamil oleh Dokter spesialis kandungan , di hari itu juga mereka sudah di perbolehkan pulang. Tak perlu menginap , tak perlu di rawat inap kata sang dokter. Sebab keadaan Garra murni dinyatakan sebagai Sindrom Suami Ngidam atau Sindrom Couvade.
Garra mengalami kehamilan simpatik, dimana istrinya yang tengah hamil namun Garra yang menanggung masa ngidam istri nya.
Sejak hari itu, sejak masuk ke dalam kamar mereka, Garra yang tadinya laki laki tangguh dan kuat mendadak menjadi laki laki lemah yang sensitif.
Manja melebihi balita.
Mual dan muntah pun terus berlanjut. Bukan hanya itu, Garra mulai tidak menyukai bau bau wangi, seperti sabun , parfum , dan pewangi ruangan. Hari harinya juga terlihat menyedihkan karena Garra hanya bisa meminum air teh manis hangat dan memakan buah saja. Jika ada minuman atau makanan lain yang ia telan, perut Garra langsung menolak.
Bukan hanya itu, baik kamar dan seluruh ruangan yang biasa Garra lewati harus diganti aroma jeruk untuk pengharum ruangan nya. Hanya aroma jeruk yang bisa Garra cium. Hanya aroma jeruk yang bisa membuat perut Garra tak berontak lagi.
Bahkan seluruh pelayan maupun karyawan kantornya sudah di beri peraturan baru untuk mengganti parfum mereka dengan aroma jeruk. Jika ada yang berani memakai parfum aroma lain maka akan di pecat. Itu saja ancaman sekretaris Ang saat mengutarakan titah dari Tuan muda Garra Mahendra.
Awal nya mereka sempat bingung. "Kenapa begini? Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi pada Tuan muda Garra?"
Tapi setelah sekretaris Ang menjelaskan alasannya jika saat ini Tuan muda Garra sedang mengalami Sindrom Couvade karena kehamilan Nyonya muda mereka, mereka mengerti. Mereka senang, bahkan ikut bahagia dengan kabar kehamilan Nyonya Mahendra dan dengan rela mengganti parfum mereka demi kenyamanan pemimpin mereka.
Banyak di antara mereka berbisik bisik kagum.
[ Tuan muda benar benar pria sejati. Begitu mencintai istrinya sehingga tuan muda yang mengalami Morning Sickness.]
[ Ikatan batin yang sangat kuat.]
[ Sungguh bahagia dan beruntung menjadi Nyonya Mahendra.]
[ Iya, kau benar.]
Mia yang hamil, Mia yang sedang berbadan dua malah terlihat sehat wal'afiat. Tidak ada keluhan sedikitpun. Tidak mual, tidak pusing , enjoy saja. Makan pun semakin banyak.
Mia merasa kasian melihat Garra, Mia tidak tega.
"Bang Garra? Makan ya? Mia membuat bubur ayam khusus buat bang Garra . Enak lho?" rayu Mia di suatu sore, menghampiri Garra yang lesu di sofa.
"Mia.. Seenak apapun bubur itu, pasti akan keluar lagi. Jadi percuma!"
"Tidak apa apa keluar lagi, yang penting sudah tertelan. Setidaknya ada nutrisi buat tubuh bang Garra."
"Aku tidak mau Mia.. Aku tidak berselera." sahut Garra.
"Bubur buatan Mia enak lho. Siapa tau perut bang Garra menerima makanan yang di buat oleh tangan Mia sendiri. Ayo makan lah tidak apa apa jika nanti dimuntahkan kembali."
"Kau mau menyiksaku ya? Muntah itu tidak enak Mia. Perut sakit, tubuh lemah dan mulutku pahit. Tenggorokan ku juga panas!" bantah Garra dengan nada kesal.
"Eh, tidak boleh marah ya? Bukan kah bang Garra bilang akan rela menderita meskipun harus setahun lamanya. Baru juga beberapa hari sudah mengeluh?"
"Oh iya ya. Maafkan aku. Aku melupakan janjiku. Kalau begitu kesini kan buburnya, aku akan memakannya walaupun nanti akan keluar lagi." jawab Garra merasa malu karena sudah mengeluh.
Mia terlihat senang, segera meraih mangkok buburnya dan menyuap Garra.
Satu suap, dua suap. Belum ada tanda tanda Garra akan muntah.
Mia menyuap lagi. Sudah separuh mangkok habis. Garra belum juga merasakan mual seperti biasanya jika menelan makanan.
"Apa mual?" tanya Mia.
Garra merasa rasa perutnya lalu menggeleng, merasa heran.
"Tidak!"
__ADS_1
"Tuh kan, mungkin sudah sembuh!" seru Mia girang.
"Habiskan kalau begitu." Mia menyuap Garra kembali.
Suapan demi suapan dengan telaten sampai bubur di mangkok habis.
"Beneran tidak mual?" Mia kembali bertanya.
"Tidak Mia, tidak mual sedikitpun. Apa mungkin sudah sembuh masa ngidam ku?"
" Mungkin iya bang Garra. Syukurlah kalau begitu." ucap Mia.
"Ah, hanya sebentar rupanya, tidak sampai Tiga bulan." sahut Garra girang dengan kesembuhannya.
Mia pun bernafas lega.
"Kalau begitu aku mau mandi dulu Mia. Sudah lama aku tidak mandi dengan sempurna."
Memang benar, Garra yang tidak bisa mencium aroma Sabun beberapa hari ini terpaksa harus mandi hanya memakai sampo untuk tubuhnya. Itu pun sampo khusus baby beraroma jeruk pula.
Garra pun mandi sebersih bersihnya dengan sabun. Tapi setelah mandi entah kenapa , aroma Sabun membuatnya kembali mual dan memuntahkan kembali isi perutnya.
Garra keluar dari kamar mandi dengan keadaan lemas.
"Ya Allah bang Garra, kumat lagi ya?" keluh Mia , segera membantu Garra ke ranjang dan menelepon Sekretaris Ang.
Tak lama kemudian sekretaris Ang sudah berada di kamar mereka.
"Nyonya!"
"Ang.. Bagaimana ini? Tuan muda memuntahkan makanannya kembali!"
"Tuan Muda! Anda baik baik saja?" Sekretaris Ang menghampiri Garra yang tengah lemas bersandar di sisi ranjang.
"Baik baik saja kepalamu! Kau tidak melihat, aku sampai pucat begini hah!"
"Maafkan saya Tuan Muda. Maksud saya , apakah perlu saya memanggil dokter kembali?" sahut Ang.
"Ck, tidak perlu Ang! Buat apa?? Yang ada mereka cuma mengatakan jika ini hanyalah efek dari Sindrom itu. Itu itu saja jawaban mereka."
"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk bisa membantu Anda Tuan muda?"
"Bisa tidak kau membantu ku merasakan nya. Aku benar-benar tersiksa Ang. Tiap saat aku harus mual dan muntah hanya mencium aroma Sabun saja. Aku tidak bisa makan apapun selain buah, aku juga tidak bisa mandi menggunakan sabun. Huh! Bagaimana nasibku tiga bulan ke depan kalau begini terus?"
"Apa Anda ingin kita tukar posisi begitu? Baiklah, saya setuju. Anda menjadi saya dan saya menjadi anda."
Mendengar ucapan Ang, Garra langsung menoleh dan melotot.
"Apa??? Jadi maksudmu, kau jadi suami Mia dan aku jadi tunangan Yuri!!"
" Saya tidak mengatakan itu, tapi jika anda ingin begitu, tidak masalah. Demi Tuan muda , saya akan melakukan apapun! Saya akan sangat senang, tidak harus bersusah payah, saya sudah akan mendapatkan bayi."
"Dasar, Gila kau Ya? Kau pikir sapi atau bagaimana? Kau ini, sudah dapat adiknya mau kakaknya juga. Langkahi dulu mayat ku, Ang!"
Ang tergelak melihat emosi Garra yang meluap.
"Kau tau tidak, aku sudah payah menanam benih, kau yang enak mau mengambil untungnya. Aha.. tidak mungkin terjadi. Mia dan bayinya itu milik ku. Jika kau mau bayi, usaha sendiri. Cepatlah menikah dan membuatnya, kau akan mengalami seperti ku juga." Garra menendang tangan Ang yang masih tergelak.
"Hanya bercanda Tuan Muda! Mana saya berani. Mendapat kan Yuri saja sudah membuat saya beruntung. Habisnya Tuan muda tidak bisa bersabar. Padahal tadinya Tuan muda sendiri yang mengatakan jika akan rela menanggung derita ini setahun sekali pun." jawab Ang, masih dengan tertawa.
__ADS_1
"Diam bedebahh..! Kau terus saja tertawa! Kau senang melihatku menderita ya??"
"Bang Garra, tidak boleh seperti itu!" Mia menegur Garra yang bicara kasar pada Sekretaris Ang.
"Tidak apa Nyonya. Kita harus memaklumi Tuan muda. Bukan kah kata dokter juga begitu? Bukan hanya fisik Tuan muda yang terganggu , tapi psikologi nya juga." jawab sekretaris Ang.
"Ah iya. Tidak mengapa Bang Garra. Kalau begitu caci maki saja sekretaris Ang sepuas mu. Siapa tau dengan memaki sekretaris Ang , Mual bang Garra akan berkurang." sahut Mia ikut tergelak.
Mendengar ucapan Mia , Ang langsung berhenti tertawa.
"Jangan begitu juga Nyonya. Jika Tuan Muda memaki saya terus, dan saya putus asa , bagaimana nasib pernikahan saya nanti."
"Ah iya, aku lupa. Bang Garra, sekretaris Ang kan sebentar lagi akan menjadi pengantin baru. Kau jangan kasar kasar lagi padanya . " seru Mia.
"Baiklah, Aku akan mendoakan agar nanti jika Yuri hamil, Ang juga akan merasakan seperti diriku ini..!!!" Teriak Garra.
Sekretaris Ang dan Mia malah tertawa mendengar Garra berteriak.
"Diam!!!" bentak Garra. Mia dan Ang langsung menghentikan tawanya, menatap Wajah Garra yang terlihat sangat marah.
Kali ini giliran Garra yang terpingkal melihat wajah mereka yang takut melihatnya marah itu.
"Hahaha.. lucu sekali wajah kalian!"
"Bang Garra!" Mia marah dan mencubit pinggang Garra.
"Aah, sakit Mia! Maaf. Habis nya muka kalian lucu kalau tegang begitu." ujar Garra.
"Ambilkan bubur lagi sayang, aku ingin memakannya. Biarlah, meskipun nantinya muntah lagi. Demi mu dan buah hati ku, aku rela." sambung Garra.
Mia pun akhirnya beranjak untuk mengambil sisa bubur buatan nya tadi yang masih ia simpan di dapur.
Sepeninggal Mia, Garra bertanya serius pada sekretaris Ang.
"Ang, bagaimana? Apa persiapan pernikahan mu sudah selesai?"
Ang terdiam, lalu menggeleng.
"Ada apa Ang? Bukankah hari pernikahan kalian tiga hari lagi?" tanya Garra kembali.
Ang menghela nafas, lalu menarik kursi dan duduk.
"Saya memundurkan hari nya."
"Apa kau bilang? Kenapa Ang?"
"Saya tidak mungkin menikah dengan keadaan Tuan muda seperti ini. Saya tidak mungkin berbahagia sementara Tuan Muda sedang menderita seperti ini." jawaban Ang, begitu menyentuh hati Garra. Betapa Ang sangat peduli padanya. Bahkan rela mengundurkan hari pernikahannya demi Garra, karena bagi Ang tidak mungkin ia akan bersenang-senang sementara Tuan Muda nya tengah kesusahan dengan masa ngidamnya .
Garra tersenyum. "Aku tidak menderita Ang, sungguh. Aku bahkan sangat bahagia bisa menggantikan penderitaan yang seharusnya Mia rasakan ini. Aku juga tidak tau saat aku tidak bisa mengontrol emosi, mungkin benar kata Dokter Sinta. Jika psikologi ku juga akan terganggu begini. Jika aku marah, atau membanting kursi sekalipun kau jangan mengambil hati. Itu sungguh di luar kemauanku."
"Tidak mengapa Tuan , saya sudah memutuskan untuk menikah tiga bulan lagi. Saya hanya ingin memastikan sampai keadaan Tuan Muda kembali sehat. Saya ingin menemani masa-masa sulit Tuan muda ini. Percayalah, semua akan baik baik saja. Setelah tiga bulan ke depan, jika Tuan Muda masih seperti ini, saya akan tetap melangsungkan pernikahan saya." ucap sekretaris Ang.
Garra semakin tertegun. Dia tidak bisa lagi berbicara apapun untuk menanggapi ketulusan dan ikhalasan hati sekretaris Ang.
Ang, benar telah menunda hari pernikahan nya untuk tiga bulan ke depan. Dan Yuri pun sudah menyetujui nya.
Semua Ang lakukan karena keadaan ngidam Garra yang pastinya akan sangat membutuhkan Ang untuk tetap di sisinya dulu.
___________________
__ADS_1
Bersambung....!!!