Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Meminta bekal.


__ADS_3

Sekretaris Ang sudah berada di kamarnya. Terlentang di ranjang menatap langit langit kamar.


Lalu meraih guling dan memeluknya.


"Bisa bisa nya bocah itu mengelabuhi ku dengan mengganti kontak Nyonya Muda dengan nama Sampluk itu. Dasar!"


Lalu Ang tersenyum, memyentuh bibirnya sendiri.


"Aku benar benar sudah gila. Kenapa Yuri bisa begitu menggoda. Padahal banyak wanita dewasa yang lebih cantik dari pada si bocah. Tapi kenapa aku bisa tertarik padanya. Ya Tuhan... Aku seperti nya ingin menyelinap ke kamarnya saja."


Ang, memukul kepalanya sendiri. "Hus!! Pikiran macam apa ini sih?"


Ang, membalik kan badannya, kemudian terdiam. Ang bangun dari ranjang, berjalan kearah pintu. " Apa dia sudah tidur ya? Aku ingin mengintip nya."


Hampir saja menyentuh gagang pintu, Ang berhenti.


"Aku benar benar gila!" memutar langkah nya dan kembali ke ranjang.


Lalu menutup wajahnya dengan bantal, mencoba melawan bayangan Yuri yang terus mengobrak abrik otak waras nya.


Sampai pagi tiba, semua penghuni rumah itu sudah terbangun untuk aktivitas mereka masing masing. Begitu juga Yuri.


Bangun dengan semangat yang tidak seperti biasanya. Bangun bukan nya langsung ke kamar mandi untuk mandi dan bergegas ke dapur seperti biasa. Tapi malah menghampiri cermin dan berlama lama berdiri di situ.


"Hihi.. Apa aku dan Tuan Ang sudah resmi pacaran ya?" kembali terbayang yang semalam.


"Aduh. Aku jadi malu ketemu dia. Tidak tidak. Aku tidak mau ketemu dia dulu. Aku kan malu. Dia sudah menyerobotku dua kali."


Clink..!!


Pesan masuk.


"Hah. Tuan Ang! Kok bisa tau sih kalau aku sedang memikirkan dia."


Mata Yuri terbelalak membaca pesan dari sekretaris Ang.


"Bocil. Sedang memikirkan aku ya?"


"Tuh kan bener dugaan ku. Kok dia bisa tau sih?" ngomong sendiri. Lalu segera membalas pesan Sekretaris Ang.


"Tidak. Tuan jangan GR ya?"


Hening , tak ada balasan dari sekretaris Ang. Namun tiba tiba hp Yuri berdering.


Sekretaris Ang melakukan panggilan suara.


Yuri masih dengan ragu mengangkat nya.


Belum juga sempat menghalo, yang di sana sudah berbicara.


"Benar, kau tidak sedang memikirkan aku?" suara sekretaris Ang.


"Tidak. Siapa juga yang memikirkan anda Tuan Ang?"


"Kau membuat ku sedih bocah. Padahal aku memikirkan mu sepanjang malam sampai saat ini. Tapi kau ternyata tidak." terdengar menghela nafas kecewa.


Yuri merasa salah karena sudah berbohong. Padahal Yuri memang sedang memikirkan nya.


"Eh, iya kok. Iya."


"Iya apa? Apanya yang iya?"


"Maksud nya iya. Iya. Iya memikirkan Tuan. Hehe."


"Baik lah, lalu kau sedang apa? Ini sudah siang , kenapa tidak turun juga. Cepat lah kemari. Aku menunggu mu di meja makan. Atau aku akan menyusul mu ke kamar.!"


"Eh, eh jangan. Saya. Saya mandi dulu sebentar Tuan."

__ADS_1


Yuri segera menutup panggilan itu dan melempar hp nya ke kasur.


Masih dengan jantung yang berdebar hanya karena mendengar suara sekretaris Ang dari hp saja.Yuri memasuki kamar mandi dan mandi dengan kilat.


Hanya dengan mengenakan jubah mandi Yuri keluar. Baru saja membuka pintu Yuri terkejut melihat sekretaris Ang sudah ada di dalam kamarnya. Berdiri menatapnya.


"Tuan!! Kenapa anda bisa masuk?" teriak Yuri. Merasa bingung, seingat Yuri, dia mengunci pintu nya sebelum tidur.


"Kau mungkin lupa menguncinya." Jawab Ang, mendekat.


"Stop! Berhenti! Diam di tempat." teriak Yuri.


Namun Ang tetap melangkah mendekati Yuri. Gadis itu mundur hingga membentur tembok.


"Tuan mau apa?" tergugup ketika Sekretaris Ang sudah tak berjarak di depan nya. Tubuhnya sudah berada di antara tangan Sekretaris Ang yang mencengkram tembok.


"Aku mau berangkat ke kantor." ujar sekretaris Ang.


"Lalu? Kenapa malah kesini?"


"Menemui mu."


"Iya. Saya tau tuan. Tapi untuk apa?"


"Karena kau lama sekali. Aku menunggu mu di bawah. Tapi kau tidak kunjung turun."


"Saya kan sudah bilang, mau mandi dulu?"


"Maaf. Aku tidak sabar. Aku harus ke kantor. Dan tidak bisa menunggu lama. Aku butuh bekal Yuri. Agar aku bisa konsentrasi di sana." ucap Ang, merapatkan tubuhnya.


"Be.. bekal. Maksudnya Tuan Ang ingin saya menyiapkan bekal nasi untuk anda?" Yuri semakin gugup. Apalagi saat tangan Ang kembali menarik tengkuk nya.


Plup...!!!


"Em.. em..!"


"Tuan.. Sudah..!!" mendorong tubuh Ang kuat kuat.


"Maafkan aku. Maafkan aku Yuri.. Kau jangan marah ya. Aku.. aku hanya ingin mengurangi nya."


"Mengurangi apanya. Anda jangan membual tuan. Ini namanya menambahi bukan mengurangi." bantah Yuri masih di dalam kukungan tangan sekretaris.


Ang tergelak. "Eh iya. Menambah ya. Berapa kali sudah kita melakukan nya?"


"Diam..! Kau yang melakukan nya bukan kita!"


"Oh, baiklah. Kalau begitu di ulang saja. Kali ini Kita lakukan bersama."


"Tidak mau...!! Pergi..!! Aku mau berganti Tuan Ang. Keluar lah!" Yuri berlari mendekat lemari. Yuri menoleh pada sekretaris Ang yang masih berdiri di sana menatapnya.


"Kenapa masih di situ?"


"Aku ingin menunggu mu berganti."


"Aaa... mana bisa. Kau ini ternyata mesum ya. Kau mau mengintip anak perawan ganti? Keluar tidak!!! Sudah mencium ku terus terusan malah mau melihat ku berganti." Yuri berseru menghampiri nya , lalu mendorong tubuh sekretaris Ang agar keluar dari kamarnya.


"Baik lah baiklah, jangan kasar begini padaku. Kau lupa ya kalau aku ini sudah menjadi kekasih mu hah! Kau tidak boleh kasar padaku bocah!"


Yuri menghentikan dorongan nya. "Tuan bilang apa? Kekasih?"


Sekretaris Ang hanya mengangguk.


"Hihi, saya lupa Tuan. Kita sudah jadian ya? Kalau begitu maaf ya.. Sudah kasar padamu." menggaruk kepalanya sambil tersipu.


"Ya sudah. Aku mau berangkat sekarang. Baik baik di rumah!" Sekretaris Ang menepuk kepala Yuri.


"Jangan lakukan itu! Sudah ku bilang jangan lakukan itu lagi. Aku tidak suka. Aku tidak suka...!!"

__ADS_1


"Yuri. Begitu bukan berarti menganggap mu anak kecil. Tapi karena sayang."


"Pokoknya tidak mau! Tidak perlu menyayangku dengan cara seperti itu."


Sekretaris Ang hanya mendengus.


"Baiklah, lain kali aku akan mengingat nya. Aku berangkat. Terimakasih untuk bekal nya." sekretaris Ang masih saja sempat menyambar bibir Yuri. Tapi hanya sekilas saja. Kemudian keluar dari kamar Yuri.


"Bekal?? Bekal apa an sih. Mencium ku untuk bekal? Aneh sekali!!" gumam Yuri.


"Kenapa es batu jadi gila begitu sih? Apa pelet ku manjur ya? Tapi kan baru rencana , itu pun tidak jadi." Yuri berpikir jika sekertaris Ang sudah gila. Mencium nya berkali kali pagi ini. Dan mengatakan untuk mengurangi. Padahal bagi Yuri , itu malah menambah. Menambah dosa maksud nya.


Untuk bekal juga. Bekal apa coba?


Tapi Yuri tersenyum. Tersenyum bahagia.


"Aku punya kekasih. Panglima es kekasih ku sekarang. Aduh... senang nya. Aku harus memberi tahu Mia segera."


Yuri cepat berganti dan segera ke dapur untuk menemui mbak Endang. Mengatakan pada Mbk Endang jika dia yang akan mengantar sarapan untuk Nyonya muda.


"Baik lah Yuri. Bawalah segera. Aku sudah menyiapkan nya." ujar mbak Endang.


Yuri mengangguk dan meraih nampan berisi makanan sarapan untuk Mia.


"Yuri." Mbk Endang memanggil nya sebelum Yuri melangkah.


"Iya. Ada apa ya?" menoleh.


"Apa aku boleh bertanya?"


Yuri menyerngitkan alis ya. "Apa mbk Endang?"


"Sebenarnya, kau ini ada hubungan apa dengan Nyonya muda dan Tuan sekretaris? Seperti nya kau dekat sekali dengan mereka?"


Yuri bingung mau menjawab. 'Aku ini adik Nyonya muda Mahendra. Aku ini sekarang kekasih Tuan Sekretaris!!'


"Yuri!"


"Eh, iya. Tidak kok. Tidak ada . Aku... Aku hanya mengenal mereka sebelum menjadi pelayan di sini. Baik lah Mbk, aku harus ke kamar Nyonya muda dulu ya?" Yuri cepat bergerak pergi.


Mbak Endang merasa tidak puas dengan jawaban Yuri. "Seperti nya bukan begitu. Semalam saja Tuan sekretaris menyuruh ku memesan makanan bukan nya untuk Yuri? Kalau tidak ada hubungan spesial nama mungkin, masa iya hanya karena Yuri pelayan kesayangan Nyonya muda. Tapi biarlah. Yuri memang gadis baik dan manis. Wajar jika mereka menyukai nya." Mbk Endang tak ingin banyak penasaran walau sebenarnya masih penasaran. Memilih pergi untuk mengerjakan tugas lain nya.


Sementara di kamar Mia. Satu pukulan tangan Mia mendarat mulus di kepala Yuri. Walau pukulan ringan karena tanda kasih sayang dari Mia.


"Kenapa memukul ku Mia..!!"


"Kau ini nakal sekali . Kenapa membuat kami khawatir semalam hah! Ada apa sebenarnya?"


Yuri tertawa, lebih kali Mia. Mia tertawa terbahak ketika Yuri bercerita yang sebenarnya. Menghadiahi Yuri beberapa kali pukulan lagi.


"Jadi kau sudah jadian dengan Panglima es?" tanya Mia.


Yuri tersenyum tersipu saja. Dan Mia sudah paham dengan melihat nya tanpa Yuri menjawabnya.


"Yuri, bisa tidak nanti membantu ku masak . Dan siang nanti kita pergi ke tempat kerja Bang Garra dan panglima es membawakan makan siang untuk mereka." usul Mia.


"Kau jangan gila Mia. Tuan muda akan marah padaku. Kau mau aku di pecat nya? Nasib percintaan ku bagaimana jika itu terjadi?" protes Yuri dengan nada peringatan keras.


"Tidak akan Yuri. Bang Garra tidak akan pernah marah pada kita. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku sangat penasaran dengan tempat kerjanya. Kita bisa meminta pak Abu untuk mengantar kita. Sekali kali aku ingin memberi kejutan buat Suamiku. Kau mau kan.. ? Ayo lah Yuri!!"


Yuri berpikiran sejenak, jika mau Yuri juga bisa punya kesempatan bertemu dengan pujaan hatinya. Makan siang berdua dengan kekasih nya di ruangan kerjanya. 'Aduh.. Romantis sekali mungkin."


Akhirnya Yuri mengangguk , setuju dengan permintaan Mia.


________________


Bersambung...!!!!!

__ADS_1


__ADS_2