Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Salah paham.


__ADS_3

Bu Asri yang saat ini sudah menjadi kepala pelayan di rumah keluarga Mahendra itu melangkah mendekati Yuri yang masih dalam keadaan syok terpojok bersandar di sudut tembok.


"Nona Yuri.!" sapa Bu Asri.


"Eh, iya. Iya Bu." menoleh.


"Mari saya bantu membereskan barang-barang nya."


"Iya Bu, terimakasih." jawab Yuri. Berdiri, berusaha menguatkan diri. Setelah ini entahlah, Yuri sendiri belum bisa memastikan nasib diri ke depan nya bagaimana.


"Nona Yuri, bisa memanggil saya Bu asri. Saya adalah kepala pelayan di rumah ini. Semua peraturan di rumah ini yang membuat adalah sekretaris Ang, selaku orang kepercayaan Tuan Muda Garra. Dan saya yang bertugas menerapkan pada seluruh pelayan di sini. Saya juga yang mengatur semua kebutuhan di dalam rumah ini. Termasuk kebutuhan Nyonya muda Mahendra." jelas Bu asri.


Yuri semakin ketar ketir mendengar penjelasan dari Bu Asri. Tentang pak sopir tadi. Sekretaris Ang, Ah... dia seorang sekretaris kepercayaan Tuan muda. Yang membuat seluruh peraturan di rumah ini.


'Aduh bagaimana ini? Mia.. Mia.. aku butuh Mia.'


"Nona Yuri. Anda kenapa?"


"Tidak Bu, tidak. Hanya.. Bisakah saya bertemu dengan Nyonya muda. Ah, maksud saya, mengantar baju nya mungkin?"


Bu Asri tersenyum. Tidak menjawab pertanyaan dari Yuri.


Sebenarnya sebelum menemui Yuri, Bu Asri sudah bertemu dengan Mia. Mia memberi tahu nya jika Yuri adalah adik Mia , satu bapak lain ibu. Mia juga berpesan agar Bu Asri memperlakukan Yuri dengan baik. Dan meminta Bu Asri untuk sekali kali mempertemukan Yuri dengan nya. Bila perlu, membuat agar Yuri bisa berada didekat Mia.


Bu Asri segera membantu Yuri membereskan barang barang nya.


"Berhubung ini sudah malam, nona Yuri beristirahat lah dulu. Nanti saya akan menyuruh pelayan lain untuk mengantar makan malam untuk mu. Besok pagi, baru saya akan menunjukkan pekerjaan untuk nona Yuri." ucap Bu Asri.


"Bu, tapi bagaimana cara saya bisa bertemu dengan Nyonya muda. Saya ini sebenarnya saudara Nyonya muda. Bu Asri percayakan?" Yuri kembali bertanya.


"Saya tau Nona.!"


"Hah.. Bu Asri tau? Kalau begitu bisa kan bantu saya bertemu Mia.?"


"Nyonya muda sudah memberi tau saya. Tapi Tuan muda tidak ingin Nona Yuri dekat dekat dengan Nyonya muda. Saya pasti akan membawa Nona menemui nyonya muda. Tapi anda harus bisa menjaga jarak dengan Nyonya muda. Harus bisa menjaga diri, jangan terlalu dekat dengan Nyonya. Jika tidak, Tuan muda Garra akan marah dan bisa jadi Anda akan mendapatkan hukuman dari sekretaris Ang." ucap Bu asri.


Mendengar itu, Yuri lega. Mengangguk setuju, dan berjanji akan menjaga jarak dengan Mia walau nanti bisa bertemu dengan Mia.


Bu Asri pergi, setelah berbicara panjang lebar pada Yuri mengenai semua peraturan yang ada di rumah keluarga Mahendra. Dan mengenai peraturan tentang Nyonya muda Mahendra. Jika sebenarnya, setiap pelayan di larang berbicara dengan Nyonya Muda. Dan peraturan itu memang sudah di buat sejak pertama kali Garra sembuh. Siapa yang melanggar maka hukumannya adalah di pecat!


'Apalagi berani dekat, berbicara pun tidak boleh, di larang? Segitunya.' Yuri heran.


'Jangan jangan, Mia pun tidak bahagia di rumah ini? Jangan jangan tuan muda Garra itu ada kelainan. Menyiksa dan mengurung Mia di kamar. Jangan jangan.. jangan jangan.. Kali ini aku harus membantu Mia. Mia, tunggu aku. Aku tidak akan meninggalkan mu lagi.' Yuri menebak. Berpikir jauh.


Tidak tau, jika peraturan itu di buat bukan karena ingin membelenggu Mia. Tapi alasan Garra melakukan itu semata ingin melindungi Mia. Bukan melindungi dari bahaya, tapi bisa jadi melindungi Mia dari malu.


Ya, Garra tidak ingin penghuni rumah ini yang banyak terisi para pelayan itu mengetahui jika Mia istrinya, Nyonya muda mereka adalah wanita yang tidak pintar alias bodoh. Bodoh yang kadang kadang bisa luar biasa.


Garra tidak ingin, ketidak pintaran Mia di lihat orang lain kecuali dia. Garra sengaja hanya mengijinkan Mbak Endang dan Bu asri saja yang boleh dekat dan berbicara pada Mia. Garra pun tidak menginginkan ini berjalan selama nya. Garra sudah mempercayakan Mbak Endang sebagai pelayan pribadi Mia, sekaligus guru privat untuk mengajari Mia segala hal. Segala hal kecuali...? Masih ingat kan apa?


Garra yakin, sedikit demi sedikit Mia akan pintar dan tidak sebodoh saat ini. Lalu setelah itu, Garra akan membebaskan Mia untuk berkeliaran di dalam rumah ini. Boleh berbicara pada siapapun termasuk para pelayan. Itu lah rencana Garra untuk Mia.


Yuk kita mengintip dulu sejenak keadaan Garra dan Mia di dalam kamar mereka.


Ternyata mereka sudah selesai dengan makan malam yang di antar oleh mbak Endang .


Mia baru saja keluar dari kamar untuk mencuci mukanya sehabis makan malam.


Garra kemudian memanggilnya dan menepuk kasur di sebelahnya, meminta Mia untuk duduk dekat dengan nya.


Mia menurut dan duduk dengan manis.


"Bagaimana, kau senang bisa membawa saudara kejam mu itu kemari?" tanya Garra.


"Jangan begitu, dia tidak sekejam yang kau kira." jawab Mia.


"Sama saja lah, bukan kah Yuri itu juga tidak memperlakukan mu dengan baik."


"Tapi setidaknya, Yuri itu tidak sejahat ibu dan Jihan. Dia pernah membiarkan ku makan coklat dan Snack miliknya."


"Dengan cara melempar mu?"


"Walaupun begitu, tidak apa apa. Jika tidak begitu, mana aku bisa tau rasa nya coklat seperti apa." jawab Mia.


"Kau tidak membencinya?"


Mia menggeleng.

__ADS_1


"Ya Tuhan Mia.. Kau luluh hanya karena lemparan sebuah coklat?" Garra menarik wajah Mia agar menoleh padanya. Sambil merasa heran jika Mia bisa luluh hanya dengan lemparan sebuah coklat dan Snack.


Padahal Garra sendiri sangat marah memikirkan itu. 'Bisa bisa nya mereka memperlakukan Mia dengan keterlaluan. Bahkan untuk bisa menikmati rasanya coklat saja, Mia harus menerima lemparan dulu.


"Aku tidak membenci Yuri."


"Hanya karena coklat lalu kau menganggap nya tidak membenci mu?"


"Aku tau Yuri memang tidak menyukaiku, tapi setidaknya dia tidak membenci ku. Aku juga akan begitu, tidak harus membencinya. Jadi Bang Garra, tolong jangan jadikan Mia lap kaki ya..? Dia sudah mau berbagi Coklat padaku lho.." lagi lagi Mia menyinggung masalah coklat.


"Kau suka coklat?"


Mia mengangguk. "Tapi selama disini aku tidak pernah memakannya lagi."


"Aku akan membeli kan mu pabrik coklat dan Snack besok. Aku akan menyuruh Ang, mencari pabrik coklat dan Snack terbaik di kota ini agar Ang membelinya untukmu Mia. Kau akan puas memakan coklat."


"Tidak, tidak perlu, Suruh Ang membeli coklat di toko saja. Tidak perlu membeli pabriknya segala." protes Mia.


"Ya, baiklah. Besok aku sendiri yang akan membelikan nya untuk mu."


"Benar?"


Garra mengangguk.


Mia terlihat senang. Lalu menggeser duduknya agar lebih mendekat.


"Bang Garra tidak akan menjadikan Yuri keset kan?"


Garra terkekeh mendengar Mia bertanya itu lagi, lalu merangkul pundak Mia, membawa kepala Mia di dada nya.


"Tidak.. Kau tenang saja Mia. Aku tidak mungkin melakukan itu." jawab Garra.


"Benar, mana bisa juga. Manusia hidup di buat keset. Pasti lari lah. Yang benar saja." jawab Mia hampir membuat Garra kembali tertawa. Tapi cepat menahannya. Lalu mengangkat wajah Mia.


"Tapi , aku akan memberinya sedikit hukuman karena sudah berani memukul kepala ku. Dan menuduh istri ku selingkuh." ucap Garra.


Garra meraih ponselnya untuk menghubungi Ang.


Mia bisa menebak jika Garra akan menyuruh sekretaris Ang untuk memberi hukuman pada Yuri.


Mia terperangah,


Mia segera menyusun rencana.


"Bang Garra, boleh meminta sesuatu padamu?"


"Tentu saja. Apa yang tidak untuk mu."


"Jadikan Yuri pelayan kamar ini saja. Seperti Mbak Endang." pinta Mia.


"Apa kau punya alasan tertentu?"


Mia mengangguk.


"Katakan."


"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan ku dengan Yuri. Mungkin dengan begitu hubungan kami jadi semakin baik. "


"Kau yakin, dia bisa baik dengan mu mia.?"


"Bila kita mencoba nya, kenapa tidak."


"Tapi aku membencinya, mana mungkin membiarkan dia dekat dekat dengan mu."


Mia tertunduk, sedih. Dia tau Garra membenci keluarga nya, itu semua salah Mia, yang sudah menceritakan tentang perlakuan mereka padanya. Hingga Garra tidak terima, bahkan pernah mengatakan akan membalas perbuatan mereka


Mia tidak bisa membantah Garra lagi. Tidak menyalahkan Garra.


" Sebenarnya aku merasa kesepian, dan aku butuh teman untuk menemaniku ketika bang Garra tidak ada. Mbak Endang, memang ada mbak Endang sekarang. Tapi aku merasa belum cukup. Ah, tapi baik lah. Maafkan aku. Tidak apa apa jika bang Garra tidak bisa menurutinya. Asal jangan menghukum Yuri saja." Pinta Mia. Mia makin khawatir saja. Memikirkan hukuman Garra untuk Yuri.


Garra menatap Mia yang tertunduk. Ada sedih di hati nya. Istrinya mungkin memang kesepian. Selama hidup nya tidak pernah bisa dekat dengan saudara nya. Padahal satu atap. Lalu Garra ingin mencoba untuk menerima Yuri.


"Sudahlah, kau tidur dulu. Aku perlu keluar menemui Ang." ucap Garra membuat Mia mendongak.


'Pasti akan membicarakan hukuman untuk Yuri.'


"Bang Garra, aku ikut!"

__ADS_1


"Tidak usah Mia. Tunggu sebentar saja."


"Tidak."


"Mia.. hanya sebentar."


"Kenapa tidak menyuruh sekretaris mu kesini saja?"


"Baiklah." Garra mengalah, kembali pada ponselnya dan mengirim pesan untuk sekretaris Ang.


Lama menunggu, " Seperti nya Ang, sudah tidur. Aku harus menemuinya di kamarnya." Garra berdiri dan melangkah. Mia panik.


"Bang Garra!" Mia beranjak cepat. Menyusul Garra yang hampir mencapai pintu. Lalu menarik lengan Garra dengan kuat hingga hampir saja menabrak tubuhnya, beruntung Garra dengan sigap bisa menahan tubuhnya hingga tidak mengenai tubuh Mia yang yang terbentur tembok.


"Mia..! Kenapa ceroboh?"


"Jangan pergi, jangan pergi. Tidak perlu keluar. Tunggu saja disini. Sekretaris Ang, pasti akan datang kemari." teriak Mia.


"Mia..! Kenapa berteriak?"


"Aku tidak mau ditinggal sendirian. Temani aku saja ya..?" rengek Mia masih di bawah kukungan lengan Garra.


"Mia, aku hanya keluar sebentar."


"Tidak, tidak. Aku.. aku .. aku ingin mencium bibirmu." ' Ah.. ngomong apa sih aku..'


"Apa Mia..??" Garra semakin heran menatap Mia dengan seksama.


"Aku, ingin mencium bibirmu. Boleh tidak."


"Nanti saja."


"Sekarang..!!" Kepalang, Mia tidak tau lagi cara untuk mencegah Garra keluar. Lalu menarik wajah Garra dan mencium kilat bibir Garra.


Garra menunduk,tersenyum tipis , menyeka bibir nya yang masih basah karena ulah Mia. Lalu mendongak untuk menatap Mia kembali.


"Kau ini, itu yang kau bilang mencium?"


Mia gemetar, ketika mata Garra menyapu bersih pandangan nya.


"Baiklah, aku akan memberi tahu mu mencium yang benar."


Grep....!!


Garra menarik tubuh Mia.


Dan terjadilah,


Di antara temaram malam. Terjadi adegan dewasa yang sedikit lebih lama. Sedikit tapi terasa sampai di hati. Sesuatu yang membuat Mia tersengal dengan nafas naik turun. Terduduk bersandar di dinding, menutup bibirnya dengan tangan. Ada rasa indah dan getaran lain yang mengalir di tubuhnya, namun rasa malu nya lebih besar dari pada itu. Wajah nya sampai memerah menahan nya.


Garra tersenyum senang, kembali menyeka bibir nya yang masih basah. Lalu beranjak meninggalkan Mia untuk keluar kamar.


"Tunggu sebentar, nanti kita lanjutkan."


Brak... !!


Garra menutup pintu, keluar.


Hanya selang beberapa detik,


Brak...!!!


Pintu di buka kembali.


"Astaga... Mia... Mia...!" Yuri dengan wajah panik, berlari ke arah Mia yang masih meringsut di lantai.


Mia menoleh, dengan tangan yang masih menutup mulutnya.


Yuri memeluk Mia. " Apa yang terjadi Mia.? Apa Suami mu sudah menyiksamu?" Yuri menarik tangan Mia. Meneliti bekas tangan Garra di wajah Mia.


"Tidak ada bekas."


Mia menggeleng. "Tidak apa apa.. Tidak ada yang terjadi. Ini hanya kesalahan. Kesalahan ku."


"Baik lah baiklah. Its okay..!! Mulai sekarang, kita akan menghadapi semua ini sama sama." Yuri membantu Mia berdiri, lalu membimbing Mia ke ranjang.


Yuri, sudah salah paham!

__ADS_1


bersambung.....!!!!!


__ADS_2