
"Ulangi sekali lagi."
Mia ternganga, menutup mulut nya dengan tangan nya. Tak sadar dengan ucapan cinta nya yang terlontar begitu saja. Namun itu sebenarnya tulus dan itu berasal dari hati Mia yang paling dalam.
Garra tersenyum, lalu bangun dan duduk di sebelah Mia. Menarik tengkuk Mia dengan lembut dan menempelkan dahinya pada dahi Mia. Tangan Garra erat menggenggam tangan Mia.
"Ulangi sekali lagi."
Mia menggeleng.
"Baiklah, tidak masalah jika tidak mau." Garra menarik wajahnya. Menatap lekat wajah Mia. Membelai rambut nya.
"Terimakasih... Sudah mau membalas perasaan ku."
Kali ini Mia tersenyum, senyuman manis yang penuh malu. Menunduk meremas jarinya sendiri.
'Aa.... ternyata begini rasanya jatuh cinta. Indah nya.' Hati Mia menjerit tiba tiba. Lalu Mia mengangkat wajah nya , menatap wajah tampan di depan nya itu. Memastikan dirinya. Benarkah ini?
"Kenapa?" Garra bertanya.
Mia menggeleng. "Tidak bang Garra. Mia malu."
"Jatuh cinta pada Suami sendiri. Tidak apa apa. Tidak perlu malu." jawab Garra memeluk Mia dengan mesra.
Mia pun membalasnya, menenggelamkan kepalanya di dada suaminya. Lama mereka terhening. Saling merasakan getaran di hati masing masing. Lalu tiba tiba Mia teringat tentang Junior yang terlupa kan karena kedatangan si pelakor.
Mia segera bertanya, masih di dalam pelukan Garra.
"Bang Garra."
"Iya."
"Katanya mau pulang mengajak junior. Mana? Lupa ya? Kan sudah janji!"
Garra tergelak, ternyata istrinya belum juga lupa tentang Junior yang di bahas pagi tadi.
Garra menarik wajah Mia dari dadanya.
"Benar mau tau sekarang?" tanya Garra.
"Iya.. Mana? Bang Garra memang mengajaknya?" Mia celingukan.
"Tidak ada siapa siapa di sini selain kita. Bang Garra mau menelpon nya dulu ya? Menyuruh nya untuk kemari? Sekarang saja." Mia seperti nya sudah tidak tahan dengan rasa penasaran nya.
"Sebenarnya kau sudah sangat mengenal nya. Sebelum aku sehat dulu, Dia ikut tak berdaya seperti ku dan kau juga yang merawatnya. Hanya saja kau belum mengenal namanya." ucap Garra semakin membuat Mia bingung.
Melihat kebingungan istrinya , Garra semakin tergelak. Menepuk kepala Mia dengan lembut.
"Benar mau tau?"
Mia mengangguk.
"Janji akan menerima nya dengan baik?"
Mia kembali mengangguk.
Garra menghela nafas panjang dahulu, lalu menyuruh Mia untuk memejamkan mata.
Mia sempat merasa bingung, kenapa harus pakai memejamkan mata segala. Tapi Mia segera menurut.
__ADS_1
"Buat kejutan ya bang Garra?"
"Iya. Buat kejutan." jawab Garra.
Mia pun memutarkan tubuhnya membelakangi Garra dan memejamkan matanya.
Sebenarnya Garra merasa konyol, tapi mau bagaimana lagi. Kepalang basah. Mia terlalu penasaran dan sangat ingin tau. Jika ngomong langsung, sudah pasti Mia gak ngerti ngerti pikir Garra.
Biarlah, sekali kali berkonyol konyol ria bersama istri nya. Garra sudah bisa memastikan jika Mia akan berteriak sekuatnya setelah tau siapa itu Junior. Garra sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Perlahan Garra meraih tangan Mia. Menuntut nya dengan hati hati untuk menyentuh anu nya setelah membuka resleting celananya.
Tebakan Garra benar, ketika Mia merasakan sesuatu yang tersentuh oleh tangan nya, Mia membuka mata dan menoleh.
"Aaa...!!!" teriak Mia menarik cepat tangan nya dan mendaratkan tangan nya berkali kali ke tubuh Garra.
"Kau ya!!! Mengerjai Mia..!!! Jahat.. Jahat..!!"
Tak kuat menahan tawa Garra terbahak bahak sambil menahan pukulan demi pukulan Mia dengan tangan nya.
"Mia.. berhenti. Nanti kau bisa mengenai Junior ku dan bisa menyakiti nya."
Mendengar itu Mia langsung berhenti. Menatap Garra kemudian menatap tubuh bagian bawah suaminya. Terlihat oleh Mia sesuatu yang menonjol di dalam sana.
"Jadi..! Junior itu..! Si anu???"
"Itu kau paham." jawab Garra kembali terbahak.
Mia bengong , diam seribu bahasa. Malu juga iya. Merasa menjadi orang terbodoh di dunia. Bisa bisa nya tidak mengerti. Sudah penasaran setengah mati, eh teryata jika Sang Junior yang di maksud Garra selama ini adalah si Anu. Si anu yang memang dulu pernah bahkan selalu ia sentuh ketika Garra belum bisa menyentuhnya sendiri.
Si anu yang setiap hari Mia mandikan.
"Maafkan aku. Sebenarnya waktu itu aku tidak berniat mengerjaimu. Awalnya ingin memberitahumu jika Junior tersiksa setiap saat dekat dengan mu. Tapi Mia malah tidak mengerti dan terus bertanya siapa Junior. Ya...Akhirnya adegan konyol ini terjadi deh."
Mia tetap diam. Menatap Garra dan kembali menatap si anu.
Melihat itu Garra menjadi bingung, semakin merasa bersalah karena sudah mengerjai Mia.
"Mia.. kenapa? Kau marah? Maafkan aku ya? Maafkan Bang Garra. Tidak bermaksud untuk mengerjai Mia."
Mia menggeleng. Masih menatap si Anu, kali ini dengan sangat teliti
Sampai sampai Mia mendekat kan wajahnya.
Diluar dugaan,
"Bang Garra. Si Anu seperti nya berubah. Tidak seperti yang pertama Mia kenal?"
Garra terkejut, ikut meneliti anu nya.
" Masa sih? Tidak Mia. Sama saja, ini sama seperti yang kau kenal dulu. Tidak ada yang berubah." jawab Garra meyakinkan Mia.
"Beda lho. Mia masih ingat kok bentuk nya. Yang dulu itu lemah lembut. Yang sekarang kok kekar??"
glubrak....!!!!
Lagi lagi, Garra hampir pingsan di buat Mia.
Saking gemesnya, Garra menggigit tangan nya sendiri.
__ADS_1
Ingin rasanya Garra menjerit.
'Ini karena sentuhan mu Mia..... dan membuatnya terbangun ....!!!'
Lalu mencoba memberi penjelasan pada istrinya. Semoga kali ini Mia mengerti.
"Mia sayang... Dengar ya. Kalau dulu kan si Junior ini ikut tak berdaya seperti aku, Lemah. Saat aku sudah sehat, dia juga kembali ikut sehat. Jadi Kekar dan kuat!"
"Oh begitu."
"Iya. Kau paham?"
Mia mengangguk.
Garra menghela nafas. Akhirnya Mia paham juga.
"Terus apa hubungannya dengan dia tersiksa. Kenapa kata bang Garra Mia sering menyiksanya? Kapan? Mia tidak pernah menyiksanya. Menyentuh nya saja Mia tidak pernah melakukannya lagi setelah bang Garra sembuh."
Pertanyaan Mia kali ini tidak bisa lagi di jawab oleh Garra.
Percuma menjelaskan nya pikir Garra. Sudah pasti Mia tidak akan mengerti.
"Sudah lah Mia. Kapan nanti, kau akan bisa menjawab pertanyaan mu ini sendiri. Mia kan semakin hari sudah semakin pintar." jawab Garra. Dan beruntung Mia tidak kembali melontarkan pertanyaan pertanyaan yang sulit lagi.
Mia kembali diam.
"Bang Garra, boleh tanya lagi tidak?"
'Aduh, baru saja lega.' Garra menepuk jidat.
Garra berusaha tersenyum.
"Tentu boleh. Bertanya lah."
Mia kembali terdiam, terlihat sedang berpikir ulang sebelum akhirnya bertanya kembali.
"Bukan kah si anu ini juga alat untuk membuat cicit?"
'Aaaa...... ' Lagi lagi Garra kembali menjerit dalam hati.
Lemas!
Namun tidak bisa menyalahkan pertanyaan Mia yang memang benar adanya.
Mia mungkin mengingat , kejadian belah duren yang tertunda waktu itu.
Garra menjawab Mia hanya dengan mengangguk saja.
"Akhirnya, aku paham sekarang. Sang Junior adalah si Anu. Dan si anu adalah alat untuk membuat cicit. Baiklah, mulai sekarang. Mia akan berbaik baik padanya. Dan berjanji tidak akan mengecewakan nya. Biar cicit buat Kakek jadi." ucap Mia.
Garra bernafas lega.
Obrolan yang menyesatkan ini akhirnya selesai juga.
_____________________
Bersambung.........!!!!!!!
[ Note: Hanya ada di dunia Novel kakak! Tahan emosi.]
__ADS_1