
"Garra!" sapa seseorang itu. Wanita cantik yang seksi sudah berdiri di hadapan Garra.
Garra terbelalak, langsung berdiri. Sempat mundur selangkah. Tanpa menjawab sapaan wanita itu , Garra Lalu menunjuk kasar sekretaris Ang yang gugup.
"Maaf Tuan muda. Mohon maafkan saya. Saya sudah mencegah nya. Tapi dia menerobos benteng pertahanan saya."
Garra menoleh pada wanita itu, hanya dengan tatapan dingin. Lalu wanita itu mendekati Garra bermaksud untuk memeluk Garra.
"Garra , aku merindukan mu." merentangkan kedua tangan nya.
Tapi sebelum semua terjadi, Garra cepat mencegah. Mundur beberapa langkah.
"Eh, mau main peluk saja. Tidak semudah itu . Gini gini suami orang. Mau jadi pelakor kamu ya?" ucap Garra pada wanita itu yang seketika memerah wajah nya.
Sekretaris Ang pun terlihat kesal dengan tingkah wanita itu.
" Nona, jaga sikap anda. Atau aku akan menyeret mu keluar secara paksa! Anda pikir , tuan muda Garra itu laki laki murahan. Main sosor saja!"
Wanita itu semakin memerah wajah nya di buat dua laki laki dingin di hadapan nya itu.
"Garra. Jauh jauh aku pulang ke tanah air ini demi ingin bertemu dengan mu. Tapi kenapa perlakuan mu begini padaku?" wanita itu memasang wajah sedih nya.
"Nona!"
"Hus...?" Garra mencegah suara sekretaris Ang. Lalu menjentikkan jarinya. Memberi isyarat pada Sekretaris Ang. Yang di beri isyarat mengerti, langsung mengangguk dan keluar ruangan.
Setelah kepergian sekretaris Ang, dua insan itu sama sama terdiam.
Garra masih berdiri, tidak duduk. Juga tidak menyuruh tamu tak diundang nya itu untuk duduk. Membiarkan perempuan itu tetap berdiri di depan nya. Garra juga tetap menjaga jarak. Matanya waspada dengan gerak gerak wanita di hadapan nya itu.
Takut lengah. Takut wanita itu nekad mau memeluk nya lagi. Tidak boleh. Tidak boleh terjadi.
Ingat istri , ingat istri di rumah. Ingat Mia. Mia yang sudah menunggu nya.
Jiwa raganya hanya untuk Mia seorang, tidak boleh tersentuh wanita manapun. Kecuali nenek Sulis saja. Ya, nenek Sulis saja. Sama Bu Asri, itu pun dulu. Sebelum ada Mia yang menyentuh nya. Setelah itu hanya Mia seorang yang diijinkan untuk menyentuh nya.
Pikiran Garra mulai tidak enak, lalu berusaha menenangkan pikirannya. Menoleh pada wanita itu. Berjalan mendekat tanpa menurunkan kewaspadaan nya.
"Bucil." sapa Garra.
"???" wanita itu.
"Bunga Citra lestari.."
"Citra, Garra. Tanpa Bunga tanpa lestari." sahut wanita itu sewot.
"Ya.. itu maksudku."
"Mau apa kemari!" sambung Garra ,ketus.
__ADS_1
"Garra.." wanita itu mendekat.
"Eits.. jaga jarak. Ingat. Suami orang ini. Kau mau menggodaku? Mau jadi pelakor. Istri ku itu galak. Kau bisa di bejek nya nanti. Hus... hus... jauh jauh."
" Iya aku tau... Setidak nya, suruh aku duduk dulu kenapa?"
"Ya.. duduk saja kalau mau. Kalau tidak malu." jawab Garra semakin ketus.
Wanita yang bernama Citra itu tak peduli, walau dengan raut kesal melangkah ke sofa dan duduk begitu saja.
Garra mengikuti, ikut duduk tapi masih dengan menjaga jarak. Memilih duduk di ujung sofa sana yang ada di depan Citra. Menyandarkan pinggang nya dan mengangkat satu kaki nya bertumpu di lutut.
"Katakan! Mau apa!" Garra bersuara lagi, tanpa menoleh blas.
"Garra, maafkan aku. Selama ini tidak menemani masa sulit mu. Sebenarnya di sana aku kepikiran keadaanmu . Tapi mau bagaimana lagi. Ayah ku tidak mengijinkan aku pulang sebelum aku menyelesaikan studi ku. Aku berjuang keras menyelesaikan nya demi kamu. Dan aku segera pulang setelah studi ku kelar." Ucap Citra menyeka air mata nya.
Garra tidak bergeming.
"Garra.."
"Kalau kau sudah selesai, keluarlah. Aku masih banyak pekerjaan."
"Garra.. Kau tidak boleh memperlakukan aku seperti ini. Aku ini kekasihmu."
"Hah! Mantan kali. Bukan. Baru mau jadian. Tapi tidak jadi juga. Jadi kau ini adalah mantan calon kekasih ku. Sudah sana keluar." usir Garra.
"Garra. Aku kesini mau meminta maaf pada mu."
"Tapi aku ingin memperbaiki hubungan kita dan berjuang untuk meminta restu Kakek dan Nenek mu. Aku janji tidak akan meninggalkan mu walau selangkah lagi."
Garra menarik nafas, lalu berdiri. Berjalan.
Memutar tubuhnya untuk menghadap Citra lagi. Masih menjaga jarak.
"Kau tidak perlu mengejar restu Kakek dan Nenek ku lagi. Mereka sudah memberikan restu itu."
"Benarkah?" Mendengar itu, Citra terkejut merasa tak percaya.
"Benar. Memberi kan restu pada seorang wanita yang kini sudah menjadi istri ku."
Citra semakin terkejut.
Garra tersenyum. "Apa kau belum mendengar jika aku sudah menikah?"
"Ya. Aku dengar itu. Tapi itu hanya perjodohan bukan.? Kesepakatan yang di buat paman Abraham. Hanya untuk syarat agar seluruh harta Ayah mu teratas namakan nama mu.? Kau tidak mungkin menyukai wanita pilihan paman Abraham itu kan Garra.?" tanya Citra, penuh khawatir.
"Siapa bilang dia pilihan Abraham. Wanita itu adalah pilihan ku sendiri. Pilihan Kakek ku. Aku bukan hanya menyukainya. Tapi mencintai nya." Sergah Garra.
"Tapi Garra. Bukankah kau dulu menyukai ku. Dan berjanji akan mencintai ku seorang." Citra kini menangis.
__ADS_1
"Kau salah dengar mungkin. Atau kau sengaja Menyalah nyalahkan pendengaran mu. Aku hanya sebatas menyukai mu. Memang, dulu aku suka padamu. Dan berniat untuk belajar mencintai mu. Tapi sebelum aku berhasil, Kakek sudah menolak mu. Aku bisa apa Citra!! Untuk memperjuangkan mu , untuk apa?
Cinta aku belum. Restu, memang tidak dapat. Lalu kau pergi begitu saja ketika aku sedang dalam kesulitan. Ya sudah, semua jadi ambyar... Tinggal kenangan." ucap Garra , semakin membuat Wanita yang bernama Citra itu lemas.
"Tapi aku mencintaimu Garra. Tidak ada yang lain. Tolong jangan berlaku seperti ini padaku. Aku mencintaimu Garra!!" ratap Citra.
Garra tersenyum, kali ini sinis.
"Sekarang aku bertanya padamu. Kemana kau selama ini. Saat masa masa tersulit ku. Apa kau ada? Setidak nya menanyakan kabar ku pada Sekretaris Ang. Padahal saat aku jatuh sakit, kau masih ada di negara ini. Tapi kau memilih untuk pergi keluar negeri. Sengaja menghindari ku. Menghindari laki laki cacat yang dulu pernah kau gilai..!! Kau bilang itu cinta...!!!" bentak Garra.
"Sekarang pergi lah. Jika kau ingin hidup mu baik baik saja. Jangan pernah mengganggu hidup ku lagi. Dengar baik baik, Citra. Aku sudah menikah. Menikah dengan wanita yang aku cintai dan wanita yang di senangi oleh Kakek dan Nenek ku." sambung Garra, melangkah membuka kan pintu.
"Tidak Garra. Aku mencintaimu. Aku tidak masalah jika kau sudah menikah pun. Kau bisa menjadi kan aku yang kedua. Istri kedua mu, bagaimana? Aku siap menjadi istri muda mu. Atau istri simpanan mu sekali pun." ucap Citra tidak mau menyerah begitu saja.
"Kau sudah gila ya?? Kau menyarankan aku untuk mengkhianati istri ku? Kau pikir aku ini laki laki macam apa? Cepat keluar!!"
"Garra, ku mohon Garra.. Kau pasti bisa adil dengan dua istri. Kau bisa membagi cinta mu." rengek Citra, lagi lagi tidak mau menyerah begitu saja.
"Huh, sayang nya aku tidak berniat beristri dua. Istri satu saja sudah membuat ku hampir gila. Apalagi dua. Mau jadi apa hidup ku ini. Sudah lah, aku tidak mungkin menduakan istriku. Tidak mungkin. Aku hanya perlu satu istri. Dan itu, adalah Mia. Mia istriku. Tidak mau yang lain."
"Garra..!!"
"Ang...!!!" Garra berteriak memanggil sekretaris Ang.
"Baiklah, aku pergi. Tapi ingat Garra. Aku akan merebut hatimu. Aku akan merebut mu dari siapa tadi nama istrimu..??"
"Mia..!"
"Iya.. Mia. Lihat saja. Aku akan menyingkirkan Mia mu itu dari hati dan pikiran mu!" Ancam Citra.
" Coba saja. Semoga beruntung." sahut Garra, mendorong tubuh Citra agar keluar.
Mau tidak mau Citra pun akhirnya melangkah, walau dengan perasaan hancur.
"Citra!" panggil Garra. Citra menghentikan langkah nya mendadak. Hatinya berdebar. Tidak menyangka Garra akan memanggil nya. 'Dia pasti menyesal sudah mengusir ku.' Citra menoleh dengan senyuman yang di buat semanis manisnya.
"Ingat .. Ada kakek dan nenek ku di belakang istri ku. Mereka tidak mungkin membiarkan mu sedikit pun untuk bergerak. Satu lagi. Ada Garra Mahendra yang akan bertaruh apapun demi istrinya.!"
'Cih, menyebalkan.' Citra tak menjawab. Kembali melanjutkan langkahnya. Sambil terus menggerutu dalam hati.
Garra menutup pintu nya. Kembali duduk di kursi nya.
"Membuyarkan lamunan ku saja. Dasar bucil." gumam Garra, melanjutkan kembali lamunan yang tadi sempat tertunda.
Tak lama, mendengus. Meraih kertas yang menumpuk di hadapan nya.
Menfokus kan pikirannya.
"Harus selesai dalam waktu kurang dari dua jam."
__ADS_1
bersambung.....!!!!