
Warning.....!!!
[ Ada bagian yang sedikit Fulgar. Mohon persiapkan otak untuk ikut Traveling. ]
****
Sekitar jam tujuh malam,
Ang terlihat gusar, memegangi Hp nya. Menatap , Menggeser , kemudian mematikan kembali layar Hp nya.
"Hubungi tidak ya? Ah.. Nanti mengganggu." bergumam sendiri. Seperti sedang terselip keraguan yang cukup dalam di hati Ang.
Kemudian menaruh kembali Hp nya diatas meja. Orang nya duduk di sofa. Menghidupkan sebatang rokok, menghisapnya lalu memainkan asapnya.
Sambil pikiran nya jauh traveling.
Terdengar mendengus, lalu meraih kembali Hp nya. Kali ini dengan yakin membuka nya, lalu menekan kontak bernama Yuri.
"Begini saja kan aman. Jangan mengganggu Tuan Muda dulu pokoknya untuk malam ini. Pasti Tuan muda sedang berusaha keras untuk mencetak penerus Keluarga Mahendra. Jangan sampai mengganggu nya ." gumam Ang, lalu dengan cepat menulis pesan singkat dan mengirim nya pada Yuri.
Yang di sana.
Clink.....!!!
Pesan masuk.
Yuri menjingklat, kegirangan. Sambil berteriak.
"Aaa..... akhirnya... Tuan Sekretaris mengirim pesan padaku. Padahal aku baru saja ingin chat padanya. Tapi takut di kira ganjen. Ternyata dia malah mendahului. Pasti kangen padaku." Yuri senang segera memeriksa enam pesan sekaligus dari sekretaris Ang.
"Yuri!"
"Kerang ijo nya di panasi."
"Takut basi."
"Besok pagi, baru kau antar pada Nyonya muda."
"Ingat, besok pagi."
"Jangan membantah."
Seketika raut wajah girang Yuri mendadak berubah masam.
"Sialan.. Ku pikir pesan apaan. Malah membahas kerang ijo. Dasar tidak berhati. Tidak tau apa kalau aku..."
"Hah!! Yang benar saja. Kenapa aku jadi memikirkan Tuan Sekretaris terus sih?? Jangan jangan aku jatuh cinta pada nya!"
"Kalau iya, bagaimana ini??"
Yuri mendadak frustrasi, menepuk nepuk pipi nya sendiri.
"Dia itu kan galak, mana terlihat tidak menyukai wanita yang lebih muda."
"Tapi .. Tampan , kaya , mana setia lagi."
"Huh senang nya .. kalau bisa jadi pacarnya."
"Tapi mana mungkin? Bagai pungguk merindukan bulan."
"Tidak. Ini kesempatan ku. Aku harus berjuang mendapatkan hatinya. Siapa tau jodoh ku. Tapi kalau di tolak?"
"Hiks.. hiks.. pasti sakit."
"Nama nya juga usaha. Tidak ada salahnya. Jatuh bangun, dan gagal , sudah lumrah."
Yuri dengan malas berjalan menuju dapur dengan membawa kerang ijo nya, masih sambil mengobrol. Mengobrol sendiri. Dengan dirinya sendiri. Bertanya dan di jawab sendiri, seperti sedang terkena gangguan mental. Bukan, lebih tepatnya sedang terpapar virus cinta.
Haha... Selamat menderita Yuri!
Sementara di kamar Garra,
Mia terlihat sedang asyik dengan Hp nya.
Garra hanya bisa menatapnya, tepat di samping Mia yang selonjoran di atas ranjang.
"Apa yang sedang kau lihat sayang?" tanya Garra , merasa di cueki Mia.
__ADS_1
"Drakor bang Garra. Lihat lah, pria nya tampan ya?"
"Mia.. kau ini!" Garra langsung merebut hp itu dari tangan Mia. Dan menyimpan di balik bantal.
"Bang Garra!! Kenapa?"
"Bang Garra cemburu. Masa Mia memuji pria lain di depan suami sendiri." sahut Garra dengan bibir manyun.
"Ya ampun.. bang Garra cemburu? Masa cemburu sama artis sih?"
Mia langsung menarik tangan Garra.
"Sini Mia peluk."
Garra langsung sumringah, menggeser tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada Mia. Mia mendekap kepala Garra, mengelus ngelus rambut Garra.
"Yang paling tampan tetap bang Garra Mia kok, serius. Jangan cemburu lagi ya?" bujuk Mia.
"Benar?" Garra mendongak, menatap istrinya.
"Benar."
"Mia cinta juga kan sama bang Garra?"
"Ya iya lah, masa enggak." jawab Mia enteng.
Mendengar itu Garra semakin senang. Lalu mendekap Mia, menghujani pucuk kepala Mia dengan ciuman nya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita mengulangi yang tadi pagi?"
"Yang mana?" tanya Mia, polos.
"Membuat cicit buat kakek!" bisik Garra.
"Tidak mau."
"Mau lah."
"Tidak mau bang Garra!!" Mia mulai merengek.
"Ya sudah , ya sudah. Tidak mau juga tidak apa apa. Tidak usah menangis. Peluk saja kalau begitu." jawab Garra cepat.
Sekali lagi, Garra harus menahan perasaan nya. Garra sadar, Mia mungkin masih trauma dengan rasa sakit nya. Masih harus ekstra sabar mengajari Mia rasa yang sebenarnya.
"Mau melanjutkan menonton lagi?" tanya Garra.
Mia mengangguk.
Garra lalu mengambil kembali Hp Mia dan memberikan nya pada Mia setelah memutar kan video Drakor yang di tonton Mia tadi.
Mia kembali asyik menonton dan Garra memilih untuk tiduran di samping Mia. Menutup wajah frustrasi nya dengan bantal.
Melihat itu Mia merasa bersalah , sudah mementingkan Drakor dari pada suaminya. Padahal hari ini kan, Mia sendiri yang meminta Garra untuk tidak bekerja karena ingin mengajak nya berusaha membuat cicit untuk kakek.
Mia terlihat menimbang. Lalu mematikan hp nya. Menyusul Garra berbaring, menghadap pada Garra dan menarik bantal dari wajah Garra.
Garra membuka matanya. " Tidak jadi menontonnya?"
Mia menggeleng, masih memandang wajah suaminya.
"Kenapa?"
Plup...!!!
Siapa sangka , Mia mencium bibir Garra.
"Mia..!" Garra terperangah, seperti sedang bermimpi sambil mengusap bibirnya yang basah.
"Kenapa? Tidak boleh ya kalau Mia mencium suami sendiri. Bang Garra saja sering melakukan nya pada ku?"
"Oh.. Tentu boleh. Boleh sekali. Ulangi lagi." pinta Garra tersenyum bahagia menarik cepat tengkuk Mia.
"Ayo ulangi lagi."
Mia menggeleng dengan wajah yang memerah karena malu.
"Mia.. Ayo ulangi. Kalau tidak bang Garra nih yang mengulangi. " paksa Garra. Mia tetap menggeleng.
__ADS_1
Rupanya Garra tidak tahan lagi melihat wajah menggemaskan istrinya. Segera menarik cepat wajah Mia dan menyeruput bibir Mia.
Mia sempat menahan tubuh Garra dan berusaha mendorong nya. Tapi sayang, tangan Garra menahan kedua tangan Mia dengan kuat. Terus saja menguasai bibir Mia.
Pertahanan Mia mulai melemah, ketika Garra berhasil membuat nafas Mia tersengal. Garra melepaskan ciuman nya, memberi kesempatan untuk Mia bernafas.
Lalu dengan perlahan, Garra mendorong tubuh Mia hingga kini terbaring di bawah tubuhnya.
Garra kembali mencumbuu Mia, kali ini dengan penuh perasaan dan sangat lembut. Garra ingin , Mia menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Dan ternyata apa yang diharapkan Garra benar terjadi.
Satu desahann halus terlepas dari mulut Mia. Mendengar itu, Garra tak lagi bisa mengontrol tangannya. Terus menggerayangi tubuh Mia.
Masih dengan lembut dan lambat. Pelan tapi pasti, sampai pada titik di mana Mia sudah tidak sadar jika dia dan suaminya sudah dalam keadaan polos.
Garra masih dengan cumbuaan mautnya, tak berhenti menyentuh semua yang ada tubuh istrinya dengan bibirnya. Mia sampai terlihat menggigit bibir nya sendiri , menahan sesuatu yang ia belum mengerti untuk mengartikan nya. Tapi saat ini Mia bisa merasakan nya. Rasa yang indah dan membuat nya melambung. Saat itu juga Garra sudah memposisikan tubuh nya di antara kaki Mia. Tanpa Mia sadari, Garra sudah bersiap.
Dan ...
"Ah...!!" Mia membelalak, membuka matanya yang sempat terpejam. Dengan nafas tersengal, Mia menatap wajah Garra yang hampir tak berjarak dari wajahnya.
"Bang Garra."
"Sakit??"
Mia mengangguk.
Garra tak bergerak. Mencoba mengalihkan perhatian Mia dengan kembali mencumbuu Mia.
Sampai melihat Mia yang sepertinya sudah mulai lupa dengan posisi mereka.
"Apa masih sakit?" bisik Garra.
"Sedikit. "
"Kalau begitu, boleh bang Garra bergerak?" tanya Garra. Mia mengangguk.
Melihat itu, hati Garra bersorak.
"Tahan sebentar." bisik Garra dengan suara serak yang tertahan.
Tangan pria itu mulai gemetaran. Kini mencengkeram sprei dengan kuat, sambil menahan tubuh nya agar tidak menimpa istrinya.
Garra bergerak, pelan. Dengan hati hati. Tidak masalah, asal Mia tidak merasa sakit lagi. Asal bisa sama sama merasakan. Sambil terus memandangi wajah Mia yang juga menatapnya.
"Bang Garra??" Mia mulai mengeluh. Suara Mia terdengar begitu merdu di telinga Garra.
Sungguh, ini adalah malam panjang yang paling indah dalam hidup Garra.
Begitu juga dengan Mia, pertama kali nya Mia merasa angan nya melambung tinggi. Dengan rasa asing yang indah dan mampu membuat nya merintih bahagia.
Garra mendekap tubuh Mia yang melemas, masih terasa tubuh Mia bergetar di pelukan Garra.
"Terimakasih Mia!!" kecupan panjang dan dalam, mengakhiri pergulatan Garra.
Dan malam ini adalah benar, malam pertama bagi Garra.
Kemudian.
Clink....!
Pesan masuk di Hp Garra.
Garra sempat meraihnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.
"Tuan muda. Apa saya mengganggu?"
Pesan dari Ang.
"Tentu saja." balas Garra.
"Baik lah Tuan. Di mengerti." Ang membalas kembali.
Garra tersenyum. Mematikan Hp nya. Lalu masuk ke dalam selimut milik Mia.
Terlelap, menyusul Mia yang sudah duluan bermimpi.
___________
__ADS_1
Bersambung..........!!!!!!!!