
[Jangan lupa bagi vote nya kakak.. Senin kan..?? buat tambahan energi...!!!]
**
Mia sudah berada di hadapan Gani Kuncoro. Duduk berlutut sambil mencium kedua tangan ayah nya itu.
Tangan Gani mengelus kepala Mia. Tampak air mata pria separuh baya itu menetes hingga mengenai rambut Mia.
Garra yang masih berdiri di sana tertegun menyaksikan itu, hati nya tersentuh melihat kedua bapak beranak itu seperti saling memendam rindu karena lama tidak bertemu. Mendadak Garra pun teringat kedua orang tuanya. Ada rindu yang tidak bisa terobati lagi. ' Kau masih beruntung Mia. Sejelek apapun ayah mu ,masih bisa kau temui. Sedang kan aku, sebaik apapun orang tua ku, Ayah ku., aku tidak bisa lagi menemuinya.'
"Mia..!" panggil Gani. Mia mendongak.
"Duduk lah."
Mia beranjak dan duduk di samping Ayah nya.
"Bagaimana kabarmu dan pernikahan mu. Mereka memperlakukan kamu dengan baik kan..?" tanya Gani menatap Mia.
"Baik ayah. Pernikahan ku juga baik baik saja. Mereka memperlakukan Mia dengan baik juga. Ayah tidak perlu khawatir. Mia baik baik saja kok. Malah lebih baik di sana dari pada di sini." jawab Mia polos.
"Maafkan Ayah Mia. Maafkan ayah sekali lagi."
" Tidak usah meminta maaf segala ayah.. Mia sudah ikhlas kok.. Bagaimana kabar Ayah dan kabar perusahaan ayah? Apa sudah membaik dan tidak bangkrut lagi kan?" tanya Mia. Gani terdiam mendengar pertanyaan dari Mia. Tidak menjawab malah semakin terisak.
"Ayah....ada apa? Sepertinya ayah sedang ada masalah?" Tanya Mia melihat ayahnya menangis.
"Memang ada masalah!" tiba tiba Tiara sudah ada di depan mereka menyerobot bicara. Lalu duduk di depan mereka. Sementara Jihan diam di ujung sana tidak jauh dari Garra berdiri.
Mia menatap Tiara. " Memang ada masalah apa Bu?" tanya Mia penasaran. 'Apa ini yang menyebabkan ibu tadi bilang aku kesini ingin menertawakan mereka?' hati Mia tanda tanya.
"Bukan hanya ada masalah. Tapi lebih dari masalah Mia. Perusahaan kami bangkrut. Dan rumah ini juga akan segera di sita!" ucap Tiara.
Mia kaget mendengar ucapan Tiara.
"Masa iya? Kan dulu sudah dapat uang banyak dari hasil penjualan Mia. Di ke manakan uangnya? Itu banyak lho, se'koper malah.." sahut Mia terang terangan, membuat Garra terkikik di dalam hati. Sementara Gani, hatinya terasa nyeri ketika Mia menyinggung kata penjualan atas diri Mia.
__ADS_1
"Ya buat perusahaan kita lah." jawab Tiara.
"Kok masih bangkrut? Uangnya kurang..? Atau bagaimana?" tanya Mia lagi.
"Beberapa bulan yang lalu memang perusahaan ayah mu jaya. Tapi hanya berlaku beberapa bulan saja. Tapi sekarang bangkrut lagi ,malah lebih parah. Rumah saja sampai mau di sita bank. Ini semua karena ayah mu tidak pintar mengurus perusahaan." jawab Tiara.
"Cukup Bu, tidak perlu menceritakan pada Mia." potong Gani.
"Tidak apa apa Ayah, Ibu Tiara kan cuma mau curhat. Kan sudah lama tidak curhat sama Mia. Ayo Bu , curhat lagi.." ucap Mia, bukannya sedih malah memasang wajah biasa saja dan kembali meminta Tiara untuk cerita. Semakin membuat Garra terkikik dalam hati.
'Cih.. siapa juga yang mau curhat kunyuk.. aku tu mau manfaatin kamu.' maki Tiara hanya di hati, kesal. Tapi segera menekan kekesalan demi untuk merayu Mia agar mau menolong nya.
"Mia.. kau kan sudah jadi istri orang kaya. Bisakah kau membantu kami.? Menolong kembali perusahaan ayah mu lagi?" ucap Tiara dengan nada memohon.
"Yang kaya kan suami Mia Bu, bukan Mia. Jadi mana bisa.." jawab Mia.
"Mia, kau kan sudah menjadi istri Tuan muda Garra yang terkenal kaya raya itu. Kau kan bisa meminta padanya untuk membantu kami. Secara kan, sekarang kami adalah mertua nya. Jadi pastinya, tuan muda Garra akan mau membantu kami."
"Aduh... bagaimana ya..?" Mia menimbang.
"Ayo lah Mia , tolong kami. Bantu kami sekali lagi." bujuk Tiara. Gani hanya bisa diam melihat rengekan istrinya itu.
Tiara melongo, " Mia,.. Sekali ini saja. Ibu janji, nanti kalau Mia butuh bantuan, bilang saja. Kami siap kok membantu Mia. Kalau tidak begini saja. Sebagai gantinya Mia boleh membawa salah satu dari mereka." ucap Tiara menunjuk ke arah Jihan dan Yuri. Kebetulan Yuri sudah berada di sana juga.
"Pilih saja, Yuri atau Jihan. Lumayan kan..? Kamu bisa jadiin mereka pelayan pribadi mu di rumah mewah suamimu." sambung Tiara.
Mendengar ibu nya mengatakan itu pada Mia, Jihan langsung cemberut.
"Sialan ibu, masa iya kami di suruh jadi pelayan anak haram itu. Sampai dunia kiamat juga gak bakalan terjadi padaku." batin Jihan. Tapi hanya bisa diam saja, menunggu jawaban Mia selanjutnya.
Tapi lain dengan Yuri yang tiba tiba menyahut.
"Iya Mia.. kau boleh memilih diantara kami. Jika Jihan tidak mau, aku mau kok jadi pelayan mu. Aku akan melayani mu dengan sepenuh jiwa raga." ucap Yuri.
"Cih,.. dasar penjilat." tegur Jihan, memukul kepala Yuri.
__ADS_1
"Loh, memang nya kenapa? Lebih baik jadi pelayan Mia. Ikut ke rumah Mia. Dari pada disini cuma jadi bantalan kalian." sahut Yuri.
"Mau ya Mia.. bawa aku jadi pelayan mu.." kini malah Yuri yang merengek.
"Baiklah, aku akan menyampaikan dulu pada suamiku. Apakah Suamiku bersedia membantu kalian atau tidak. Aku juga tidak bisa menjanjikan." jawab Mia.
"Kau harus bisa merayunya Mia. Kasihan kami. Jika rumah ini di sita., kami harus tinggal di mana coba..?" ucap Tiara kokoh merayu Mia.
"Ckk.. tinggal ngontrak aja kok susah amat. Ada kontrakan murah lho Bu, rumah kontrakan nya besar dan mewah tapi harga nya murah sekali. Seharga Tempe. Nanti Mia bisa kok menunjukan nya. Bila perlu diantar sama Mia. Mau kapan? Besok atau hari ini saja." ucap Mia, hampir membuat tawa Garra meledak. Garra terpingkal dalam hati dan hanya memegangi perutnya yang teras kaku akibat menahan tawa sejak tadi.
"Mia... kau ini ya.?? Kau mendoakan rumah ini di sita!! Mendoakan kami jadi gelandangan, begitu..?? Bukan nya berusaha membantu, malah ngasih tau kontrakan murah." sahut Tiara kesal bukan main menghadapi Mia yang bodoh dan malah ngelawak.
"Tadi bingung mau tinggal di mana. Di kasih tau kontrakan bagus yang murah malah marah... Gimana sih..??" ucap Mia tak kalah kesalnya.
"Mia.. tolong kah kami. Bantu kami ya nak..??" sekali lagi, Tiara harus berpura pura lembut. Sekuat nya menekan amarahnya.
" Ya sudah. Mia akan merayu tuan muda Garra. Semoga saja dia mau membantu kalian. Tapi.."
"Tapi apa Mia..??" Tiara bertanya.
"Tapi, Suamiku itu orang nya pelit. Punya uang banyak saja, bilang nya tidak punya uang. Bagaimana kalau untuk membantu kalian? Mia jadi ragu." ucap Mia, melirik Garra yang melotot padanya, Garra merasa tersindir. Tersindir dengan ucapan Mia, yang mungkin masih mengingat tentang kejadian Mia meminta uang dan tidak di beri nya tempo lalu. 'Kenapa jadi menggibahi ku sih..!!'
"Jangan begitu donk.. ? Kan belum mencoba. Berusaha lah Mia, demi kami. Demi ayah mu dan demi rumah ini." Tiara kembali mengiba.
"Baik, baik. Mia akan berusaha. Tapi sekali lagi tidak janji. Banyak banyak berdoa saja ibu ya.." jawab Mia.
"Ah, iya. Terimakasih ya Mia.. Sekali lagi terimakasih. Ibu akan banyak banyak berdoa."
______
Setelah merasa cukup berada di sana. Sudah bertemu dengan bi Sumi juga tentu nya. Berkangen kangen ria dengan bi Sumi dengan cukup lama, akhirnya Mia berpamitan. Dan langsung bergegas bersama Garra untuk kembali pulang ke rumah Garra.
Garra dan Mia sudah berada di luar, di antar oleh mereka sampai ke mobil.
Tiba tiba, Yuri muncul dengan menarik koper.
__ADS_1
"Mia .. aku ikut???" tanpa menunggu persetujuan, Yuri bergegas masuk kedalam mobil mendahului mereka. Duduk dengan nyaman di samping sang sopir.
bersambung......!!!!