
"Tuan Sekretaris??"
"Tidak , aku tidak tau. Tadi itu aku hanya berbohong padamu." jawab Ang, cepat. Sambil menunduk melanjutkan makanannya.
"Tidak mungkin..Anda pasti berbohong??" selidik Yuri.
"Ya, Memang aku sedang berbohong." jawab Ang kembali.
"Tuan Sekretaris...!!"
"Sudah cepat, habis kan makan mu atau ku tinggal kau. Biar kamu yang membayarnya. Memang punya uang hah!" ancam Ang, untuk menyelamatkan dirinya.
"Jangan donk tuan, saya kan memang tidak punya uang." rengek Yuri segera menyantap sisa makanan nya.
"Itu tau."
Akhirnya Yuri menunduk, serius dengan makan siangnya. Sambil sesekali melirik wajah Sekretaris Ang yang berada di hadapannya.
Wajah sinis yang nampak sudah dewasa itu. Jika di lihat lihat Tampan juga pikir Yuri.
Dalam keadaan hening , entah dari mana pemikiran yang muncul, tiba tiba Yuri bertanya pada Sekretaris Ang.
"Emm. Tuan Sekretaris. Ngomong ngomong anda sudah punya anak berapa?"
Bruppp.....!!!
Ang yang masih meneguk minuman langsung menyemburkan air minum nya keluar dari mulut nya tanpa sengaja.
"Uhuk... uhuk...Uhuk..!!" Terbatuk batuk.
"Tuan .. Tuan.. Anda kenapa?" Yuri yang panik melihat Sekretaris Ang langsung mencoba membantu nya dengan memijit tengkuknya.
Ang menepis tangan Yuri, "Diam di tempat bocil. Heh... ini semua gara gara kau!!"
"Lho.. kok bisa. Saya dari tadi diam di sini."
"Diam apa nya... Kau tadi tanya apa? Sengaja mau menyindir ku?" Ang melotot.
Yuri meringsut, duduk kembali ke kursinya.
"Kan cuma tanya anda punya anak berapa? Kok tersindir. Memang anda mandul? Tidak bisa punya anak begitu?" Gumam Yuri pelan.
"Apa kau bilang? Mandul? Kau sedang mengataiku mandul? Mencoba saja belum. Mana mungkin aku mandul."
Yuri terperangah, menatap sorot mata Sekretaris Ang yang penuh dongkol itu. Lalu segera mengerti.
"Oh.. Jadi tuan Sekretaris ini belum punya anak." sahut Yuri baru mengerti.
"Hah!! Belum pernah mencoba, Berarti belum menikah juga ya??"
"Itu kau tau." jawab Ang, terlihat raut suram di wajahnya.
__ADS_1
Melihat itu, Yuri merasa bersalah.
"Maaf tuan. Saya kan tidak tau jika tuan Sekretaris belum menikah. Jika melihat umur, tuan Sekretaris seperti sudah pantas punya keluarga. Jadi saya kira Tuan sekertaris sudah mempunyai istri." ucap Yuri penuh Penyesalan.
"Kau tidak salah. Seharusnya aku memang sudah menikah dan minimal punya anak gak ketang satu. Tapi bagaimana aku mau menikah? Pacar saja belum punya." jawab Ang terus terang, membuat Yuri kembali menatapnya.
"Tuan Sekretaris, Kenapa bisa begitu? Tuan itu tampan dan ber uang. Pasti banyak wanita yang mendambakan mu. Apalagi posisi anda di sisi Tuan muda Garra sangat berpengaruh. Apa ada masalah?" selidik Yuri.
Ang terlihat menghela nafas.
"Masalah nya ada di Tuan Muda Garra. Sebelum aku memastikan Tuan muda Garra hidup dengan baik dan bahagia, aku tidak mungkin melepaskannya begitu saja. Aku sudah berjanji pada kedua orang tua nya yang sudah memberi kehidupan yang layak padaku, untuk mendampingi Tuan muda dan memastikan Tuan muda hidup bahagia. Setelah itu baru aku akan memikirkan hidup ku."
"Apalagi kehidupan Tuan Muda sebelum kehadiran Nyonya muda dulu banyak masalah. Mana aku sempat memikirkan wanita." sambung Ang, terasa begitu lega bisa menuangkan sedikit beban di hatinya. Sampai dia tidak menyadari jika yang di ajak curhat adalah seorang gadis yang selalu ia sebut seorang bocil itu.
Yuri nampak memperhatikan Sekretaris Ang, tak ia sadari ada rasa kagum di hati nya tentang kesetiaan sekretaris Ang pada Tuan Muda Garra.
"Begitu setia nya hati Tuan Sekretaris. Sampai melupakan kepentingan diri sendiri. Pasti yang akan menjadi wanita Tuan akan sangat beruntung mendapatkan Laki laki seperti anda. Sudah tampan, tajir , baik hati dan setia." Yuri tanpa sadar memuji Ang.
Mendengar dirinya di puji, Sekretaris Ang merasa senang. Tersenyum.
"Coba wanita itu adalah saya. Pasti saya akan merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia , bisa menikah dengan Tuan Sekretaris." sambung Yuri.
"Apa kau bilang?"
"Tidak tuan , saya hanya bercanda. Maafkan saya." jawab Yuri, terkejut dengan ucapan tak sengaja nya sendiri.
"Kau ini. Berapa umur mu?"
"Umur, saya.. Em,."
Di luar dugaan Yuri, sekretaris Ang menghampiri nya dan menyeka bekas makanan yang menempel di ujung bibirnya. Membuat wajah Yuri merona merah. Hati nya sudah berdebar tak karuan mendapat perlakuan romantis dadakan dari pria itu.
"Belajar makan yang benar dulu. Baru memikirkan pria." ucap Sekretaris Ang. Melempar tisu bekas itu ke atas meja lalu melangkah meninggalkan meja.
Yuri melongo.
"Tuan.. iih... Kirain mau romantis. Menyebalkan." gumam Yuri , akhirnya ikut melangkah menyusul Sekretaris Ang, karena memang acara makan mereka sudah selesai.
"Mengataiku bocil terus. Aku ini sudah besar, sudah dewasa. Sudah tau rasanya jatuh cinta." gerutu Yuri sambil melangkah.
Kali ini sekretaris Ang tak ingin mendengar gumaman Yuri melangkah menghampiri meja kasir.
Setelah selesai membayar pada kasir, sekretaris Ang melangkah menuju mobil. Melirik Yuri yang malah berdiri di pinggir jalan, berbicara dengan seorang pedagang kerang keliling.
Sekretaris Ang menghampiri Yuri.
"Apa yang kau lakukan Bocil??" tegur sekretaris Ang.
Yuri menoleh, "Tunggu sebentar Tuan. Saya ingin membeli kerang ijo ini untuk Nyonya muda. Saya ingat nyonya muda sangat menyukai kerang ijo seperti ini , pasti Nyonya muda akan sangat senang."
Mendengar itu, Ang tertegun. ' Ternyata Yuri benar benar peduli dengan Nyonya muda.'
__ADS_1
"Baiklah! Aku menunggu di mobil."
Tak lama, Yuri sudah kembali menghampiri Ang yang sudah berdiri di sisi mobil dengan menenteng plastik berisi kerang ijo di tangannya.
Sekretaris Ang membuka pintu mobil.
"Cepat lah, ini sudah hampir sore."
Yuri melangkah terburu menaiki mobil. Terburu sampai kaki nya meleset dan hampir saja tubuh Yuri terbentur badan mobil. Untung saja sekretaris Ang dengan gesit menangkap tubuhnya.
"Ceroboh sekali kau ini!"
"Maaf Tuan. Saya buru buru."
Deg...!!
Dengan posisi tubuh Yuri masih ada di pelukan Sekretaris Ang dan mereka tak sengaja saling menatap. Jantung kedua nya tiba tiba tidak bisa di kondisi kan.
"Terimakasih Tuan." ucap Yuri menarik cepat tubuh nya. Sekretaris Ang pun sempat terkejut. Bukan terkejut dengan posisi Mereka. Tapi terkejut dengan dada nya yang bergemuruh hebat.
"Aduh, kerang ijo nya. Yahhh... Tumpah! Bagaimana ini?" Yuri meratap melihat kerang ijo yang lepas dari tangan nya itu sudah berantakan di bawah ban mobil.
"Masuk lah. Aku akan membelikan yang baru." ucap Sekretaris Ang langsung memutar tubuhnya. Kembali menghampiri penjual kerang ijo yang masih berada di ujung sana. Sambil menenangkan jantungnya yang masih saja berdebar hanya karena tak sengaja bertemu mata dengan Yuri.
Tak butuh waktu lama, sekretaris Ang sudah kembali ke mobil dengan beberapa kantong kerang ijo di tangan nya. Meletakkan di jok belakang dan kemudian melakukan mobil nya untuk pulang ke rumah Keluarga Mahendra.
Sepanjang perjalanan tak terdengar suara dari keduanya. Kedua nya sama sama terlihat canggung.
Sampai mobil berhenti di halaman milik keluarga Mahendra.
Mereka segera turun dan masuk.
"Yuri." panggil sekretaris Ang. Yuri berhenti dan menoleh.
"Jangan menemui Nyonya Muda dulu."
" Terus kerang nya?"
"Simpan saja dulu. Nanti aku akan menghubungi mu jika Nyonya menginginkan nya."
"Memang punya Nomor WA saya?"
Sekretaris Ang menghampiri Yuri, menyodorkan Hp milik nya.
"Simpan nomor mu di Hp ku."
"Ah... dengan senang hati Tuan." jawab Yuri menerima Hp milik sekretaris Ang.
Senang..!!!
____________________
__ADS_1
**Bersambung.............!!!!!!!!!!!!!
( hayo .... bakalan bucin gak mereka**???? )