Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Berjalan Sempurna.


__ADS_3

"Baik Tuan muda." Sekretaris Ang terlihat menutup panggilan. Seperti nya Ang, baru saja menerima telepon dari Garra.


Hari ini rupanya Garra benar benar menuruti keinginan Mia untuk tidak pergi bekerja. Dan meminta agar Ang juga ikut istirahat saja.


Sekretaris Ang tersenyum, senyum bahagia mewakili kebahagiaan Tuan muda nya. Lalu sekretaris Ang melangkah menuju kamar seseorang.


Berhenti dan mengetuk pintu.


Sesaat pintu di buka.


"Tuan Sekretaris!" Yuri terbelalak. Tidak pernah mengira jika Sekretaris Ang yang mengetuk pintu nya.


"Ikut aku."


"Ba.. baik Tuan." dengan tergagap Yuri melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya.


"Eh, siapa yang menyuruh seperti ini?" Sekretaris Ang melotot menatap Yuri.


"Lho tadi menyuruh saya ikut?"


"Ganti baju mu dulu, dan berdandan lah yang layak. Aku akan tunggu di bawah." Ucap Ang , melangkah pergi meninggalkan Yuri yang keheranan.


Yuri menggaruk rambutnya , padahal tidak gatal. Lalu kembali masuk ke kamar. Segera berganti baju dan merapihkan wajahnya. Masih bertanya tanya di hati.


"Memang mau mengajak kemana? Kok Tuan sekretaris menyuruh ku berdandan yang layak. Kayak mau mengajak keluar saja. Paling juga ngajak ke halaman belakang. Menyuruhku membersihkan kolam renang. Menyebalkan sekali Sekretaris kejam itu. Tidak bisa sebaik Tuan muda Garra." maki Yuri segera menyelesaikan dandanan nya.


Lalu segera turun menemui sekertaris Ang yang sudah menunggu di bawah.


"Sudah selesai?" tanya sekretaris Ang melirik Yuri.


"Sudah Tuan." jawab Yuri.


'Cantik juga bocah tengil ini kalau dandan.' puji Ang, di dalam hati. Langsung segera sadar. ' Ngomong apa sih Aku.'


"Baiklah, ikut aku sekarang." Sekretaris Ang melangkah. Tanpa bertanya atau sempat menebak Yuri mengekor saja.


Sekretaris Ang melangkah menuju mobil yang terparkir banyak di parkiran luas milik rumah Mahendra.


Yuri sempat terbelalak. 'Jangan bilang kalau menyuruhku untuk mencuci mobil. Sudah dandan cantik begini juga.' gerutu Yuri di dalam hati. Tapi tebakan Yuri sungguh meleset dan diluar dugaan.


Sekretaris Ang membuka pintu mobil dan menyuruh Yuri untuk masuk.


"Tuan.!" menoleh pada sekretaris Ang.


"Masuk lah, dan duduk yang manis."


Masih dengan kebingungan Yuri menurut.


Sekretaris Ang segera menyusul. Menghidupkan mesin mobil dan mulai melaju.


Sepanjang perjalanan Yuri masih diam. Takut bersuara.


Tapi dalam hati terus bertanya tanya. 'Mau kemana ini? Jangan jangan , aku mau di buang.. Tidak !! Mia..

__ADS_1


Tolong tolong aku..!!'


Lalu menoleh pada wajah dingin di samping nya yang menatap lurus ke depan saja.


"Tuan sekretaris kita mau kemana?" tak tahan Yuri akhirnya bertanya juga.


"Terserah Nona Yuri mau kemana. Hari ini Aku sedang baik hati dan berbahagia. Sebagai bonusnya akan menuruti kemauan mu." ucap Ang, langsung membuat Yuri menganga.


"Benarkah..? Tumben sekali."


"Tidak usah banyak cakap. Katakan mau kemana. Dari pada nanti aku berubah pikiran."


"Baik lah baiklah, ke mall. Berbelanja. Di traktir juga kan?"


Sekretaris Ang mengangguk. " Tentu saja. Kau boleh berbelanja apapun untuk hari ini."


Seperti sedang bermimpi, Hati Yuri meledak ledak girang.


Lain hal yang di alami Garra di dalam kamarnya. Sungguh jedag jedug hati Garra saat ini dengan semua perlakuan Mia pada nya pagi ini. Garra sungguh gugup di buat Mia. Dari sarapan yang di suapi tangan manis Mia hingga menyeka ujung bibir nya dengan tisu. Sangat romantis Mia lakukan. Belum lagi rengekan rengekan manja Mia, makin membuat Garra gemes ingin menggigit Mia.


"Bang Garra, sini Mia pijitin." ucap Mia menepuk ranjang di sisi nya. Meminta Garra untuk naik ke atas ranjang.


Garra merasa seperti sedang digoda oleh Mia. Menurut saja. Merangkak dan tengkurap di ranjang.


Mia mulai memijit betis Garra.


"Bang Garra. Mulai detik ini, aku akan menjadi istri yang baik untuk mu. Memanjakan mu, memijit mu dan menyuapimu makan." ucap Mia.


Garra menoleh. "Benarkah? Apa karena Mia sekarang benar benar sudah mencintai ku?"


"Hah!"


"Aku hanya tidak mau jika bang Garra sampai tergoda dengan wanita lain karena Mia tidak bisa menjadi istri yang baik. Jika aku sudah menjadi istri yang baik dan Bang Garra masih menduakan aku


Lihat saja. Aku akan berani menghajar mu dan wanita itu. Tidak pakai berpikir lagi."


Mendengar itu Garra tergelak, segera memutar tubuhnya dan bangun.


"Ku pikir kau melakukan itu karena sangat mencintai ku. Rupanya hanya karena takut di duakan." Garra menarik tubuh Mia ,lalu mendekapnya.


"Tidak ada sejarah nya dalam keluarga Mahendra menduakan pasangannya. Bahkan Abraham yang brengsek saja sanggup setia pada Sintia si ular betina nya. Apalagi bang Garra mu ini. Yang begitu baik dan tulus ini. Tidak mungkin terjadi. Mendua itu sama saja mencoreng nama baik keluarga Mahendra." ucap Garra.


"Benar ya..??"


Garra mengangguk. Lalu mencium pucuk kepala Mia.


Mia sendiri membalas ciuman Garra. Menarik tengkuk Garra lalu mencium keningnya berulang ulang.


Kemudian kedua nya saling tatap. Lama!


Tangan Garra mulai gemetaran ,ketika jari lentik Mia menyentuh ujung bibirnya. Kemudian mengusap nya.


"Bang Garra tampan sekali ya?? Pantas saja Citra tergila gila padamu. Sampai sampai mau menggoda mu. Padahal jelas jelas sudah tau jika kau sudah beristri."

__ADS_1


"Jangan membahasnya lagi."


"Kenapa? Memang benarkan , kalau Citra itu tergila gila padamu."


"Diam Mia. Aku tidak Sudi , mulut indah mu ini menyebut nama wanita murahan itu."


"Bibir indah Ku ini, wajah tampan ku ini hanya milik mu."


Plup...!!! Garra segera membungkam mulut Mia yang hendak terbuka dengan bibirnya.


"Bang Garra...!!!" Mia ingin berontak, tapi segera mengendorkan dorongan tangan nya ketika Garra kembali bersuara.


"Menurut lah Mia. Katanya ingin menjadi istri yang baik."


Mia terdiam, kini menurut. Ketika dengan leluasanya Garra memainkan bibirnya. Mia Merinding, tubuhnya merongsot pelan di tarik Garra. Hingga kini Mia sudah berbaring di bawah tubuh Garra.


Garra kembali dengan aksinya , menciumi wajah Mia ,hingga merambat ke leher nya.


Terdengar Mia meringis, ketika Garra menciumi lehernya dengan keras hingga meninggalkan bekas merah bertubi tubi di sana.


"Bang Garra!!" Mia mulai berontak, ketika Garra sudah berhasil membuat Mia polos dan dirinya polos tanpa sehelai benang pun.


"Mia... Apa masih menginginkan bayi untuk cicit Kakek?"


Mengingat itu, Mia segera mengangguk.


"Kalau begitu menurut saja. Jangan berontak lagi."


Mia kembali mengangguk.


"Kau akan menahannya kan.?"


Mia mengangguk lagi.


"Baiklah. Ingat Mia. Kali ini ,meskipun kau menjerit dan menangis sekalipun. Aku tidak akan melepaskan mu lagi. Untuk hasil yang baik, harus dengan Kerja sama yang baik dan usaha yang keras juga." bisik Garra di telinga Mia.


Mia lagi lagi hanya bisa mengangguk , lalu terdiam. Hanya bisa mencengkeram sprei. Menarik nya , menggulung gulung nya dengan tangan dan kaki nya. Sesekali menjambak rambut Garra. Lalu meremas kuat lengan Garra. Hingga gigitan keras nya tak sadar mendarat di bahu Garra.


Pagi yang panjang dan panas akhirnya di mulai.....!!!


Berjalan sesuai rencana dan sempurna.


Tanpa ada yang mengganggu satu pun.


Seperti nya dunia mengerti. Dan sengaja memberi kesempatan untuk Garra memulai perjuangannya.



Garra Mahendra.


___________


Bersambung......!!!!!

__ADS_1


[ Judul nya ini, pagi pertama...Bukan malam pertama.]


__ADS_2