
Yuri masih terpuruk di dalam ke salah pahaman nya. Menepuk halus punggung tangan Mia. Mencoba memberi kekuatan. Mencoba menghibur Mia.
Mia sendiri bingung, kenapa tiba tiba Yuri bisa masuk ke sini. Apa Yuri menelusup untuk bisa masuk kemari? Tapi , mana mungkin? Garra baru saja keluar kamar. Hanya selang beberapa detik. Apa Garra tidak melihat Yuri? 'Gawat! Ini gawat. Kalau Garra tau, hukuman Yuri akan bertambah.' Mia ketar ketir.
Sementara pikiran Yuri di penuhi rasa iba dan kasihan pada Mia.
"Mia.. ku pikir hidupmu bahagia bersama tuan muda Garra yang terlihat menyayangi mu. Tapi ternyata kau menderita di sini. Hiks.. hiks... Tuan muda itu pasti sudah menyiksamu. Hiks..hiks...!"semakin pilu.
Sedangkan Mia, dia mengerti kenapa Yuri berbicara seperti itu. "Kamu salah paham Yuri..!"
"Salah paham bagaimana, jelas jelas kau di siksa sampai mojok di situ. Sudah Mia, jangan terlalu menahan diri. Jika tidak bahagia sebaiknya pergi. Aku janji akan menolong mu. Kita bisa kabur diam diam dari sini. Aku akan mencari jalan keluar. Sejahat apapun aku di pemikiran mu. Tapi sejatinya, aku tidak tega juga melihat mu tersiksa. Makanya dulu aku mendukung mu keluar dari rumah karena tidak mau melihat ibu dan Jihan terus menyiksa mu. Hiks... hiks..!"
"Mia, kita akan kabur dari sini.. Bertahan lah..!! Aku akan membawa mu keluar dari neraka kedua mu ini.. Bertahan lah Mia..!!"
"Ngomong apa sih anak ini??" menampol kepala Yuri.
"Mia.. aku tau kau sudah jatuh cinta sama tuan muda itu. Dia ternyata memang lah sangat tampan dan mempesona. Tapi buat apa Mia..?? Tampan dan kaya pun tidak cukup jika hanya membuat kita menderita. Kau tidak boleh menyerah hanya karena cinta buta yang akan menyesatkan hidup mu Mia. Meskipun kita sudah menjadi orang miskin, jangan mau menjadi budak cinta.. Kau harus kuat. Kita harus pergi dari sini. Menyelamatkan masa depan dan harga diri kita sebagai wanita.."
"Yuri!!! Stop!"
"Mia..! Kita akan mencari kesempatan untuk kabur...!!"
"Anak ini?? Diam. Kalau tuan muda dengar, hukuman mu akan bertambah satu lagi. Mengajak ku untuk kabur, itu akan membuatnya marah besar."
"Tidak mengapa Mia. Aku akan menerima segala resikonya, kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun menyiksamu lagi. Aku ingin menebus segala kesalahanku di masa lalu.. Kau percaya padaku kan Mia.. Gini gini juga , aku ini masih sayang padamu..!!"
"Hiss dah.. Yuri!! Kau ini salah paham!!!"
"Aku tau, aku tau Mia.. Kau Frustrasi. Kau ke makan cinta buta. Sadar Mia .. sadar." semakin masuk ke dalam kesalah pahaman.
"Ck, diam. Yuri , kau salah paham!!!" Mia kali ini menjerit di telinga Yuri.
Yuri bengong, "Maksudnya..!!"
"Tuan muda Garra tidak pernah menyiksaku...!! Jadi jangan sekali kali mengajak ku untuk kabur..."
Yuri masih belum mengerti juga.
"Yang tadi..??"
"Tadi itu, aku bermaksud untuk membujuk nya agar tidak menghukum mu karena kau sudah memukul kepalanya dan menuduhku selingkuh di depannya. Karena aku tidak punya cara lagi untuk mencegah nya, aku merayunya dengan cara mencium nya.!"
"Terus...!!"
"Dia malah menyerobot gak karuan. Syok deh aku. Makin syok melihat mu masuk tiba tiba."
Yuri terdiam , untuk beberapa saat otak nya berputar mencerna penjelasan dari Mia.
"Jadi, tuan muda Garra tidak menyiksamu?"
Mia mengiyakan.
"Jadi suamimu, benar benar menyayangi mu?"
Sekali lagi Mia mengiyakan.
Yuri bernafas lega.
"Yuri.. ngomong ngomong, dari mana bisa tau kamar ini?" tanya Mia.
__ADS_1
"Aku memang ingin bertemu dengan mu!" jawab Yuri.
"Sebaiknya kau cepat keluar dari sini. Kembali ke kamarmu. Nanti jika suamiku tau kau ada di sini. Dia akan semakin marah padamu." Mia mengusir.
"Tadi, tuan sekretaris itu yang menjemput ku ke kamarku. Lalu mengajak ku menemui mu. Dan tiba tiba, kami bertemu tuan muda Garra di depan kamar ini. Dia sendiri yang menyuruh ku untuk masuk menemui mu." jelas Yuri.
Yang di katakan Yuri memang benar. Ketika Garra mengirim pesan pada sekretaris Ang, menyuruh Ang membawa Yuri untuk menemui Mia, dan pada saat Garra keluar kamar , sekretaris Ang sudah ada di depan pintu bersama Yuri. Garra sengaja menyuruh Yuri untuk masuk, dan sengaja pergi untuk memberi waktu sebentar pada mereka.
"Oh , begitu." Mia akhirnya mengerti, tadi Mia mengira jika Garra menghubungi Sekretaris Ang untuk membahas hukuman yang akan di berikan pada Yuri. Ternyata tidak. Malah menyuruh sekretaris Ang membawa Yuri untuk menemuinya.
"Kalau begini ceritanya, kau tidak ingin kabur kan dari sini??" tanya Yuri.
"Tidak. Untuk apa? Di sini lebih aman dari pada di rumah ayah. Ku rasa kau juga akan betah jika tinggal di sini." jawab Mia.
"Benarkah? Tapi jika kau mau kabur, bilang padaku. Aku akan menemanimu." ucap Yuri.
"Apa kalian sudah selesai??" Garra sudah berdiri di belakang mereka bersama sekretaris Ang.
Mereka menoleh. Yuri menutup mulutnya. 'Gawat.. Apa dia mendengar pembicaraan kami tadi ya.?' perasaan lega Yuri kembali berubah ketar ketir.
"Bang Garra?? Sejak kapan di situ.?" tanya Mia menghampiri suaminya.
"Sejak lima belas menit yang lalu. Kalian sama sekali tidak melihat ku karena asyik membahas masalah kabur dari sini." jawab Garra, membuat Mia kaget. Lebih kaget lagi Yuri, tubuhnya sempat panas dingin ketika menangkap sorot mata Garra yang tajam menatapnya penuh kebengisan.
"Kau,... berani nya mengajak istriku kabur dari ku!!" menunjuk ke arah Yuri.
"Bang Garra sayang... bukan begitu. Maafkan Yuri ya.. Yuri itu hanya salah paham tadi. Sekarang tidak kok. Yuri sudah mengerti.!" Mia berusaha menjelaskan pada Garra.
"Maafkan saya Tuan muda. Ampuni saya.Benar Tuan muda. Saya ternyata hanya salah paham. Saya tidak jadi mengajak Mia kabur.." Yuri menunduk.
"Kau panggil apa pada istri ku?"
"Ampuni saya Tuan muda. Maksud saya... Nyonya. I..iya Nyonya muda. Saya tidak akan mengulangi nya lagi."
Garra menoleh pada sekretaris Ang.
"Ang.. Urus bocah tengil ini."
"Baik tuan muda. Nona Yuri , mari..!!" Ang segera mengajak Yuri untuk keluar. Yuri mau tidak mau menurut.
"Yuri..!!" Mia memanggil, ingin menyusul langkah mereka.
Tapi Garra langsung mencegahnya.
"Sudah. Kita lanjutkan yang tadi." menarik lengan Mia.
Sekretaris Ang tersenyum di balik pintu.
Menoleh pada Yuri yang langsung kecut.
"Tau kesalahan mu?"
Yuri cepat mengangguk.
Sekretaris kembali mengantar Yuri ke kamarnya.
Sekretaris Ang membuka pintu kamar Yuri.
"Tidur lah, dan persiapan dirimu untuk menerima hukuman mu besok."
__ADS_1
Yuri semakin takut, cepat melangkah masuk.
"Jangan lupa, memikirkan kesalahan mu padaku juga." Ang, menutup pintu. Di balik pintu, Yuri nelangsa meratapi segala kesalahannya. Terhadap Tuan muda Garra , ke salah pahaman nya pada kejadian Mia tadi. Lalu, perlakuan nya pada tuan Sekretaris.
Mendadak, dunia terasa gelap bagi Yuri. Lalu memilih untuk membanting diri di kasur, sambil merenungi nasib diri.
Sementara Garra, menghampiri Mia yang sudah meringsut di kasur.
"Ternyata saudara mu itu sangat tengil ya? Beraninya memprovokasi istri ku untuk kabur."
Mia mendongak, " Bang Garra, bukan kah aku sudah menjelaskan. Yuri hanya salah paham."
"Kau pikir aku peduli. Mana bisa. Aku tetap akan menghukum nya. Dia terlalu lancang."
Mia membelalakkan. " Jangan.. Kasian Yuri bang Garra. Sebenarnya dia itu baik..." Mia kembali membujuk Garra.
"Baik dari mana? Mengajak istri orang kabur kok baik...!"
"Sudah di bilang kalau ini hanya salah..."
Cup...!! Garra membungkam mulut Mia dengan mulut nya.
"Kau mau aku mengampuni nya?" penuh penekanan.
Mia hanya bisa mengangguk.
"Baiklah. Aku akan mengampuni nya. Asal kau senang." Garra mengangkat wajah Mia. Menatap mesra.
"Benar?"
Garra mengangguk.
"Janji?"
Garra kembali mengangguk.
"Dengan syarat."
"Apa itu?" tanya Mia.
"Lanjutkan yang tadi."
Belum sempat Mia menjawab, Garra sudah mengukung tubuhnya.
Melanjutkan cara Memberi tahu Mia tentang ciuman yang benar.
Mia tidak bisa lagi melawan, hanya bisa memutar kedua matanya ketika Garra asik dengan bibirnya. Satu eluhan kecil lolos begitu saja dari mulut Mia ketika Garra menggigit kecil bibir bawahnya.
Garra tersenyum, membaringkan tubuh Mia dan menarik selimut.
Menatap wajah Mia dan membelai lembut.
"Sudah tau ciuman yang benar?"
Mia mengangguk dengan wajah merah menahan malu.
"Lain kali begitu kalau ingin mencium ku." ucap Garra, semakin membuat Mia tersipu.
"Tidurlah, ini sudah malam. Kau pasti lelah seharian ini." kecupan panjang mendarat di pucuk kepala Mia. Mia langsung menyembunyikan wajahnya di bantal.
__ADS_1
Garra sendiri segera meringkuk, mendekap tubuh Mia dari balik punggung istrinya. Menjadikan Mia sebagai guling hidup nya .