Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Rencana Prosedur Bayi Tabung.


__ADS_3

Hari hari berganti begitu cepat. Bulan dan Tahun pun sudah berganti. Tidak terasa Tuan Muda Rayyan Miga sudah menginjak usia yang ke Sepuluh tahun.


Tentu saja pernikahan Yuri dan sekretaris Ang pun sudah lebih dari usia Rayyan Miga.


Bahkan Jihan saja sudah memiliki dua putra. Jihan menikah dengan Putra Kolega Gani Kuncoro.


[Disini kita skip, tidak menceritakan kisah Jihan ya??]


Lalu? Bagaimana Rumah tangga Yuri dan Anggara?


Ya, kesedihan semakin menyertai kebahagiaan pernikahan mereka. Di Usia Yuri yang sudah hampir Dua puluh delapan tahun itu, dia belum juga hamil.


Apapun cara sudah mereka tempuh, bahkan Bi Sumi kembali tinggal di Rumah Utama demi meracik obat penyubur kandungan untuk Yuri dan penyubur untuk Sekretaris Ang, namun sepertinya Tuhan masih ingin memberi pelajaran pada sekretaris Ang yang dulu sempat menyepelekan tentang kehamilan dan pernah berada di ketakutan tentang TakdirNya.


Harusnya Takdir tak perlu ditakutkan, karena Qada dan Qadar milik Allah itu nyata.


Begitu juga dengan Mia, meskipun Mia sudah berupaya untuk hamil yang kedua. Namun secara umum, pengobatan kanker serviks dapat menurunkan tingkat kesuburan wanita atau menyebabkan kemandulan.


Penjelasan dari Dokter maupun Bi Sumi sendiri sudah cukup membuat Mia mengerti jika harapannya untuk hamil lagi sangatlah tipis. Belum lagi Garra yang memang sudah tidak mengijinkan Mia untuk hamil lagi.


Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah berharap pada Yuri. Yuri yang sebenarnya rahimnya dinyatakan oleh dokter baik baik saja.


Disini, tentu saja sekretaris Ang yang merasa sangat menyesal. Mengutuk dirinya sendiri atas keputusannya dulu saat menunda kehamilan Yuri. Padahal Dokter sudah mengatakan jika ini bukanlah pengaruh dari KB tersebut, namun Sekretaris Ang tetap merasa bersalah.


"Maafkan Aku sayang. Ini semua salahku!"menunduk mengusap wajahnya dengan kasar.


"Harus ku katakan berapa kali , ini bukan salahmu Kak Ang? Bukan salah kita! Namanya Tuhan belum memberi, mau jungkir balik pun percuma!" seru Yuri sudah bosan dengan ucapan maaf dari suaminya yang hampir setiap saat di dengarnya itu.


"Tetap Yuri! Aku tetap merasa bersalah karena pernah bahagia ketika kau tidak hamil. Kau pasti benci padaku!"


"Ya! Aku memang benci padamu Tuan Ang! Aku membencimu!"


"Yuri??"


"Membencimu jika kau terus terus saja menyalahkan dirimu sendiri.!" teriak Yuri.


"Berhenti kak! Berhenti..! Jangan menyalahkan dirimu terus. Percayalah, Allah itu masih mengujimu."


Sekretaris Ang menunduk. Dia sadar jika selama ini dialah yang kurang bersabar. Berlebihan.


Saat senang, ia berlebihan. Saat sedih pun begitu.


Saat sedang bertengkar kecil, Suara Rayyan Miga memanggil dari luar Kamar.


"Tuan Muda! Kenapa malam malam kesini?" sapa Yuri setelah membukakan pintu.


"Tidak. Rayyan hanya ingin melihat Bibi Yuri. Rayyan sedang memikirkan Bibi."


Mendengar jawaban Rayyan, Yuri dan Ang tergelak kecil. Rayyan yang tidak pernah mau memanggil Yuri dengan sebutan Aunty dan Sekretaris Ang dengan Sebutan Uncle , Rayyan lebih senang memanggil Bibi dan Paman walau mereka sudah menyuruhnya.

__ADS_1


"Memikirkan Bibi, kenapa?" tanya Yuri.


Rayyan berlari kecil , membanting bokongnya di kasur milik Yuri, sambil menatap Bibi dan Pamannya.


"Apa Bibi Yuri marah padaku?"


Yuri tersenyum menghampiri nya.


"Tidak , memang Tuan Muda merasa Bibi marah?"


"Maafkan Aku ya Bibi Yuri? Selama ini Rayyan terlalu memaksa untuk meminta adik pada kalian. Dan memaksa Bibi untuk memberi Adik laki laki." ucap Rayyan.


Wajah Yuri kembali terlihat murung, membelai rambut Rayyan.


"Tidak apa apa. Bibi juga menginginkannya. Tapi Tuhan belum memberi. Jadi kita harus lebih bersabar lagi." sahut Yuri.


"Baiklah Bi, Mulai sekarang Rayyan tidak akan memaksa lagi. Jika Bibi Yuri hamil pun Rayyan tidak akan memaksa harus memiliki adik laki laki. Jika nanti lahir adik perempuan, Rayyan berjanji akan menjadi pelindungnya. Melindunginya dengan nyawaku!" ucap Rayyan.


Yuri hanya tersenyum mendengar ucapan Keponakannya itu. Selama ini Rayyan memang sering mengatakan jika ingin memiliki adik laki laki, baik dari Bibinya maupun dari Ibunya.


"Tuan Muda. Sebaiknya anda kembali ke kamar dan tidur. Ini sudah malam. Bagaimana kalau Mama marah padamu?" bujuk Sekretaris Ang.


"Baiklah Paman. Jangan katakan pada Mama jika aku kemari menemui kalian dan membahas tentang ini."


Sekretaris Ang kembali tergelak kecil dan mengangguk.


"Aku akan bersabar Paman. Dan aku akan berjanji menjadi pelindungnya jika adik ku nanti perempuan. Aku berjanji padamu Paman!!" Rayyan menutup pintu mereka.


Sekretaris Ang menoleh pada istrinya yang menunduk.


"Kau bersedih kan? Yuri.. Aku..!"


Yuri mendongak. "Kakak! Aku tidak apa apa?" memegang kedua pipi Sekretaris Ang.


"Tuan Muda selalu mengatakan jika menginginkan adik laki laki. Tapi hari ini dia mengatakan jika tidak akan menuntut lagi. Bahkan berjanji jika adiknya lahir perempuan ia akan menjadi pelindung nya. Aku senang mendengar ucapannya!"


Sekretaris Ang meraih tubuh Yuri dan membawanya ke pelukannya.


"Maafkan aku! Maafkan aku!"


"Kakak! Berhenti lah. Aku pasti akan segera hamil. Percayalah! Bi Sumi juga setiap hari menjekoki ku jamu. Kau tau, jamunya pahit sekali. Aku sampai mau muntah. Tapi aku akan terus meminumnya." ucap Yuri.


Dalam keheningan, tiba tiba Hp sekretaris Ang berdering. Sekretaris Ang meraihnya, kemudian menoleh pada Yuri.


"Siapa?"


"Dokter Sinta."


"Angkat kak, siapa tau penting."

__ADS_1


Sekretaris Ang mengangkat panggilan Dokter Sinta.


"Selamat malam Tuan Sekretaris!" suara dokter Sinta dari sana.


"Selamat malam Dokter. Ada apa?"


"Tuan sekretaris, ada hal yang ingin saya sampaikan. Bisakah kita berbicara sebentar. Jika anda tertarik, besok pagi kita bisa bertemu!"


"Katakan!"


"Tuan Sekretaris, saya beserta Tim Dokter kandungan dari Singapure ingin menyarankan pada Tuan Sekretaris dan Nyonya Ang, bagaimana jika Nyonya Ang mencoba menjalani Prosedur bayi tabung. Dengan begitu, usaha untuk kehamilan Nyonya Ang tidak akan terlalu sulit."


"Bayi Tabung? Ah, iya. Aku akan membicarakan ini dengan istriku dulu. Besok pagi aku akan membawa istriku untuk menemui mu."


"Baiklah Tuan, Sampai jumpa besok pagi." Dokter Sinta menutup panggilannya.


Sekretaris Ang menoleh pada Yuri yang sudah menunggunya memberitahu pembicaraannya dengan Dokter Sinta tadi.


"Dokter Sinta , menyarankan agar kita menjalani Prosedur Bayi tabung. Apa pendapatmu?"


"Kakak, Prosedur bayi tabung itu mahal. Ratusan juta. Apa kakak tau itu?"


"Aku tau, tapi tidak ada jalan lagi


Hanya ini satu satunya jalan untuk kita Yuri. Apa salahnya kita mencobanya. Uang bisa di cari. Percayalah! Lebih mahal hadiah pernikahan untukmu bukan? Tuan Garra pasti akan setuju juga."


Yuri hanya mengangguk.


"Besok pagi kita akan menemui Ustadz untuk meminta pendapat sebelum menemui Dokter Sinta."


Yuri lagi lagi hanya mengangguk. Membenarkan ucapan suaminya.


***


Sesuai dengan rencana , pagi ini Sekretaris Ang dan Yuri menemui Seorang Ustadz untuk meminta pendapat mengenai Prosedur bayi tabung demi langkah benar yang ingin mereka jalani.


"Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menyatakan bahwa bayi tabung dengan spermaa dan ovum dari pasangan suami-istri yang sah hukumnya mubah (boleh). Sebab, ini termasuk ikhtiar yang berdasarkan kaidah-kaidah agama. Asal jangan sampai menggunakan Spermaa milik orang lain saja. Karena itu hukumnya akan berubah Haram!"


Setelah mendengar penjelasan dari Sang Ustadz, sekretaris Ang menjadi yakin dan segera membawa Yuri menemui Dokter Sinta.


Disana bukan hanya ada Dokter Sinta melainkan Dokter special kandungan dari Singapure juga. Setelah berbincang dan kembali melakukan pemeriksaan , Dokter pun mengatakan jika Sekretaris Ang dan Yuri bisa melakukan Prosedur bayi dengan Spermaa milik sekretaris Ang sendiri dengan cara sederhana, bayi tabung bisa dipahami sebagai sebuah proses yang dilakukan dengan cara menggabungkan sel telur dan spermaa di luar tubuh. Sel telur yang diambil dari calon ibu, kemudian dibuahi dan setelahnya akan dipindahkan ke dalam rahim wanita. Tujuannya adalah untuk “menciptakan” kehamilan pada wanita.


"Tindakan bayi tabung biasanya disarankan pada pasien wanita di atas usia 40 tahun yang mengalami gangguan kesuburan atau pada pasien dengan kondisi berikut: Terdapat sumbatan atau kerusakan pada saluran indung telur (tuba falopi) Riwayat operasi pengangkatan atau sterilisasi tuba falopi (tuba ligasi) atau seperti kasus Nyonya Ang yang memiliki kesusahan hamil karena rahim terlalu jauh. Dan disini hasil pemeriksaan terakhir kami, sudah bisa kami pastikan jika penyebab Nyonya Ang kesusahan hamil adalah Rahimnya yang terlalu dalam atau jauh sehingga Spermaa Tuan sulit untuk menjangkaunya. Kita akan segera mencoba nya Tuan. Semoga ini berhasil!"


"Baiklah. Kami akan membicarakan ini dulu pada Tuan Garra Mahendra. Meminta persetujuannya. Setelah itu kami akan menghubungi kalian kembali." jawab Sekretaris Ang, mengingat jika Prosedur bayi tabung itu memakan biaya berkisar Empat puluh jutaan sampai Seratus Delapan puluh juta.


Tentu saja sekretaris Ang pasti mempunyai uang jika hanya sebanyak itu, tapi ia tetap harus mendiskusikan ini dengan Keluarga Mahendra dan juga Mertuanya.


_______________________

__ADS_1


__ADS_2