
Saat ini Garra dan Mia sudah berada di kediaman bekas Gani Kuncoro.
Lama mereka berada diluar. Berdiri di depan pagar.
Mia menatap halaman luas itu, banyak kenangan di sana. Kenangan yang tidak indah untuk di ingat kembali, hanya saja bayangan itu kembali melintasi kepala Mia ketika kini dirinya menatap rumah yang pernah menjadi tempat tinggal nya dulu.
Rumah yang selalu memberinya neraka saat itu. Namun di sana lah, Mia bisa melanjutkan hidup. Masih ada rasa syukur, karena meskipun hari hari Mia berat, namun di sana lah Mia mengawali perjuangan nya. Perjuangan bertahan hidup dan belajar arti hidup. Hingga dia bisa tumbuh dan takdir pelan namun pasti telah mengurai benang kusut di kehidupan.
Menemukan ia dengan Bi Sumi, wanita paruh baya yang mengganti kasih sayang yang seharusnya Mia dapat kan bukan dari Bi Sumi, melainkan keluarganya. Bi Sumi yang banyak memberi hal berharga pada Mia. Salah satunya adalah ngajari Mia berhitung dan membaca. Juga tak pernah di lupakan Mia, mengajari Mia totok saraf yang ternyata sangat berguna bagi Mia.
Karena ajaran bi Sumi lah, Mia bisa menyembuhkan Garra. Karena ajaran bi Sumi lah, Garra saat ini bisa berdiri gagah di samping Mia.
Tetasan air mata Mia kembali mengalir di pipi, namun tak sempat jatuh ke bawah karena tangan Garra segera menyekanya.
"Berhentilah menangis. Jika kau ingin membawa bi Sumi untuk menemani mu di rumah kita, kau bisa melakukan nya." ucap Garra.
Mia menggeleng.
"Mia tidak ingin melihat Bi Sumi tetap di samping Mia sebagai pelayan. Mia ingin memulangkan bi Sumi ke kampung halamannya dan memberinya kehidupan seperti keinginannya. Bisakah bang Garra mewujudkan impian Mia yang satu ini?"
"Tentu Mia. Kita akan mewujudkan nya bersama." jawab Garra, menggenggam erat tangan Mia dan membawanya melangkah masuk.
Garra kemudian mengetuk pintu ketika mereka sudah berada di depan pintu rumah itu.
Tak lama, seorang pelayan perempuan membukakan pintu.
"Anda cari siapa tuan?" sapa pelayan itu ramah.
"Apa pemilik rumah ini ada?" tanya Garra.
"Taun besar ada. Apa perlu saya panggil kan?"
Garra mengangguk.
"Katakan pada Tuan mu. Tuan muda dari keluarga Mahendra ingin bertemu."
"Baik lah, tunggu sebentar Tuan." pelayan itu sedikit berlari menaiki tangga.
Garra menarik pelan tangan Mia, membimbing nya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, sang pemilik rumah nampak menuruni tangga dengan tergesa.
"Tuan muda Garra!" sambut pria itu dengan sangat hormat.
Garra menoleh, sempat terkejut karena ternyata pemilik rumah itu adalah salah satu staf direktur perusahaan nya , direktur pemasaran lebih tepatnya.
"Ada angin apa gerangan yang membawa Tuan muda Garra kemari. Sungguh suatu kehormatan bagi saya." ucap pemilik rumah, sempat pucat karena memikirkan kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga Tuan muda Garra payah payah mendatanginya.
Garra hanya tersenyum hangat. Lalu pria itu duduk. Masih dengan jantung yang was was pria itu kembali mengulangi pertanyaannya yang sama pada Garra. Nampak sedikit bergetar suaranya. Mungkin terlalu gugup karena ini adalah hal yang diluar dugaan nya. Tuan muda Garra mendatangi nya ke rumah.
Sempat Melirik Wanita yang berada di sisi Garra itu. Bisa langsung menebak jika wanita itu adalah Nyonya muda Mahendra hanya dengan tak sengaja menangkap tangan Garra yang masih menggenggam tangan Mia.
"Ada hal penting yang ingin aku lakukan di sini. Sebenarnya ini tidak ada kaitan nya dengan mu. Tapi menyangkut seseorang yang tinggal di rumah mu ini." ucap Garra semakin membuat direktur pemasaran itu terheran.
Lalu Garra menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Direktur pemasaran itu bernafas lega. Segera terlepas dari rasa khawatir nya lalu mengangguk.
"Baiklah Tuan Muda, Nyonya Muda, tunggu sebentar. Saya akan memanggilkan bi Sumi." ucap nya lalu berdiri dan melangkah untuk memanggil bi Sumi.
Bi Sumi yang pada saat itu masih sibuk di dapur, sempat terkejut ketika tuan nya memanggil dan mengatakan jika ada seseorang yang mencarinya.
"Tuan Muda, ini bi Sumi nya." ucap direktur pemasaran itu setelah sampai di depan.
Bi Sumi memberi hormat pada Garra, sempat melirik wajahnya tadi, namun ia tidak mengenalinya. Sempat melirik wanita cantik di samping Garra juga, tapi sayang nya bi Sumi juga tidak mengenali Mia. Lupa atau mungkin terlalu gugup.
Mia berdiri, menatap bi Sumi. Lalu melangkah mendekati.
Mia meraih kedua pundak bi Sumi, membuat Bi Sumi terkejut.
"Bi Sumi."
Bi Sumi mengangkat wajahnya. Memandangi Mia.
Langsung menubruk Mia ketika mampu mengenalinya.
"Non Mia!!" bi Sumi terisak di pelukan Mia.
" Ya Tuhan....Non Mia, Apa kabar? Dari mana saja. Kenapa baru kemari? "
__ADS_1
"Kabar Mia baik Bi, maaf tidak pernah mengunjungi mu."
Lama mereka berpelukan, saling melepaskan rindu. Lalu menyisih jauh dari Garra dan Direktur pemasaran itu untuk berbincang bebas.
Mia sedikit bercerita tentang kehidupan nya sekarang, lalu melirik pada Garra dan menjelaskan pada bi Sumi.
"Jadi, dia itu Tuan muda dari keluarga Mahendra yang di jodohkan dengan Non Mia dulu?"
Mia mengangguk.
"Ya Tuhan.. bi Sumi ikut bahagia Non. Selama ini bi Sumi tidak bisa tenang memikirkan Non Mia."
Tak lupa Mia menceritakan tentang orang tua nya dan niat kedatangan Mia menemui bi Sumi. Tentu saja bi Sumi sangat senang mendengar nya.
"Bisakah Bi Sumi menerima saran Mia. Bi Sumi sudah tua, sudah bukan waktunya untuk bekerja lagi."
"Benarkah begitu Non?"
Mia mengangguk.
"Tentu Non, tentu. Bi Sumi bahagia sekali. Entah bagaimana bi Sumi harus berterima kasih kepada Non Mia."
"Tidak perlu bi, tidak perlu. Mia dan suami Mia yang seharusnya berterimakasih pada bi Sumi. Dan ini salah satu wujud dari ungkapan terima kasih kami. Tolong bi Sumi terima ya? Mia tidak mungkin melupakan bi Sumi yang selama ini sudah menyayangi Mia seperti ibu Mia sendiri."
"Iya Non, iya. Sebenarnya Non tidak perlu melakukan ini. Tidak perlu. Dengan Non hidup bahagia, bi Sumi juga ikut bahagia."
"Tidak apa apa bi, tidak apa apa."
Mereka kembali berpelukan.
Setelah lama bercengkrama, akhirnya Mia dan Garra berpamitan untuk pulang. Dan Garra berjanji, besok akan segera mengurus semua keperluan untuk bi Sumi pulang ke kampung halaman nya.
Sebenarnya kalau hanya untuk pulang kampung bi Sumi bisa melakukan nya sendiri, bahkan bi Sumi sudah sering melakukan nya.
Tapi rencana kepulangan bi Sumi kali ini berbeda. Pulang dan tidak harus kembali lagi ke kota untuk bekerja. Pulang dengan membawa modal yang cukup besar hadiah dari Mia. Mewujudkan keinginan Bi Sumi yang ingin beristirahat dengan damai di masa tua nya, dengan mempunyai sawah , rumah dan juga kebun yang lebar. Lalu bersantai ria menghabiskan sisa sisa masa tuanya di kampung bersama anak cucunya.
Dan Garra berjanji untuk mewujudkan impian bi Sumi. Demi ucapan terimakasih nya pada bi Sumi yang telah banyak melakukan hal berharga untuk istrinya.
Demi Mia tentunya.
__ADS_1
________________________