Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
6.115.000! Mahar Anggara ( Episode special hari Pernikahan Sekretaris Ang.)


__ADS_3

Pagi buta di kediaman keluarga Mahendra terlihat sedikit riuh oleh para pelayan.


Mereka tau, jika Pagi ini adalah hari pernikahan Sekretaris Ang dengan Yuri yang akhir-akhir ini sudah mereka ketahui jika Yuri adalah adik Nyonya muda Mahendra.


Mereka bukan sedang berkemas untuk ikut menghadiri acara pernikahan Sekretaris Ang yang akan dilangsungkan di kediaman Gani Kuncoro, mereka tidak di perbolehkan ikut selain Bu Asri saja yang diperbolehkan, itu pun untuk mendampingi Mia. Tapi para pelayan baik pria dan wanita ikut deg deg ser hatinya, entah apa yang sedang mereka rasakan dan lakukan. Yang jelas semua terlihat tidak sabar menunggu turun nya sekretaris Ang dari tangga.


Mereka sebenarnya hanya sekedar ingin memberi Selamat dan ucapan hati hati untuk calon pengantin , seorang atasan mereka yang mereka kagumi itu. Sang Sekretaris Utama hari ini akan melepas masa lajangnya.


Di dalam kamar Sekretaris Ang, pria itu masih berdiri di depan cermin, membetulkan kemeja putih yang sudah ia pakai. Lalu merangkap nya dengan jas berwarna putih juga.


Sesekali terdengar nafas kasarnya berhembus.


"Ayah , Ibu. Doakan Anggara! Semoga pernikahan ku lancar." ucap Ang, lalu pria itu duduk melamun di tepi ranjang.


"Ayah, maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku. Bukan tidak mendengar nasehatmu. Tapi , untuk menunggu calon menantumu cukup usia itu terlalu lama. Anggara takut. Sungguh takut, jika malah akan kehilangan dia atau terjadi hal yang tidak ku inginkan. Percayalah Ayah, aku akan menjaganya. Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Dia gadis baik Ayah. Dia sangat manis. Andai Ayah dan Ibu masih hidup, pasti akan menyukainya." kembali menghembuskan nafas kasar.


Menoleh ke arah pintu yang terdengar di ketuk seseorang.


Ang, melangkah membuka pintu.


"Kau belum juga siap Ang?" Garra sudah berdiri di sana bersama Mia. Sepasang suami istri dengan baju Couple yang terlihat serasi dan menawan itu.


"Tuan Muda.!"


"Hahaha.. wajah mu! Hahaha.. kau tegang sekali? Kau gugup?"


Sekretaris Ang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Garra yang terdengar meledek. Lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan nya.


"Wajar kalau Sekretaris Ang gugup Bang Garra. Dia kan normal. Dan akan segera mengucapkan ijab kabulnya untuk pertama kali. Memang bang Garra dulu tidak gugup ya..?" sela Mia.


"Kau menyindirku Mia??"


"Lho kok! Tidak! Siapa yang menyindir?" segera sadar jika sudah salah berkata.


"Kau tadi bilang, Ang normal. Kau mau bilang kalau aku tidak normal? Dan dulu tidak gugup begitu.?"


"Tidak!"


"Kau juga bilang, ini yang pertama kali bagi Ang, dia sudah pernah mengucapkan ijab kabul Mia? Saat mewakili aku dulu menikahi mu!!"


"Bang Garra, kenapa sensitif sekali sih? Maafkan Mia. Mia minta maaf ya? Tidak bermaksud menyindir mu??" rengek Mia, tau jika suami nya tersinggung dengan ucapannya barusan. Sadar jika psikologis Garra sedang tidak stabil karena bawaan ngidamnya.


Melihat sepasang suami istri di depannya yang malah bertengkar itu, Ang hanya geleng kepala.


"Tuan Muda, seperti saya sudah siap." cepat berbicara agar pertengkaran tidak berlanjut.


Garra melengos, "Ya sudah. Kenapa masih diam di situ? Kau mau terlambat?"


"Ah, baiklah. Mari!" sekretaris Ang segera melangkah keluar mendahului mereka.


"Bang Garra masih marah?" tanya Mia menoleh pada suaminya yang belum juga menyusul langkah sekretaris Ang.


Garra tersenyum, meraih tangan istrinya.


"Tidak! Kenapa harus marah. Yang kau bilang tadi memang benar kok. Aku sadar diri, jika saat menikahi mu dulu tidak bisa sesempurna orang lain."


"Bang Garra, jangan mengungkit nya. Mia kan sudah minta maaf."


"Tidak , kau tidak salah. Tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak bisa menikahi mu dengan baik. Dan saat aku berjanji akan mengadakan resepsi besar buat pernikahan kita malah belum ku tepati juga sampai sekarang." ucap Garra sambil menunduk.


'Haduh.. mulai lagi.' batin Mia , cepat cepat menarik tangan Garra.


"Berhenti lah bang Garra! Sudah. Ayo kita jalan. Kasian keluarga ku pasti sudah menunggu kita. Jangan sampai terlambat."


Garra menahan tangannya. "Tapi Mia kecewa padaku kan? Kecewa dengan keadaan pernikahan kita dulu. Kau pasti akan bersedih saat melihat pernikahan Ang nanti." dengan wajah sendu.


"Ya Tuhan!!! Bang Garra! Aku tidak pernah kecewa. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Sudahlah!" Mia menarik tangan Garra. Namun lagi lagi pria itu menahannya.


Mia menoleh, lalu memeluk suaminya. "Sekarang ini aku bahagia. Dan semakin bahagia. Sedikit pun tidak pernah merasa kecewa padamu!" bisik Mia.


"Benar?"


Mia mengangguk. "Aku mencintaimu bang Garra! Tanpa syarat."


Mendengar itu, hati Garra berbunga bunga. " Aku juga!" kemudian menciumi wajah Mia.

__ADS_1


"Hentikan!" Mia mendorong wajah Garra.


"Nanti make up ku luntur!"


Garra hanya bisa menghela nafas. "Maaf! Bang Garra sedang sangat bahagia."


Mia tak menjawab lagi, takut malah merembet kemana mana , memilih menarik tangan Garra agar melangkah menyusul Sekretaris Ang yang sudah berada di ruang depan.


Para pelayan baik pria dan wanita sudah menunggu sedari tadi di sana. Ada Bu Asri dan mbak Endang juga. Melihat kedatangan sekretaris Ang mereka yang biasanya menunduk hormat tanpa berani berbicara sepatah pun kali ini tidak. Mereka menatap sekretaris Ang dengan berani dan berseru.


"Tuan Sekretaris, selamat berjuang. Semoga di beri kelancaran untuk hari ini!"


Sekretaris Ang tidak marah, ia tersenyum ramah kepada mereka. "Terimakasih. Terimakasih atas doa kalian semua."


"Iya Tuan sekretaris. Hati hati di jalan. Dan cepat pulang dengan membawa Nyonya Ang!!" sahut mereka.


Sekretaris Ang sekali lagi tersenyum, dan melangkah dengan lebar, di susul Garra dan Mia. Juga Bu Asri di belakang mereka.


Mereka kini sudah berada di dalam mobil yang terpisah. Sekretaris Ang kali ini tidak menyetir sendiri melainkan pak Abu yang mengemudi mobilnya. Sedangkan Garra dan Mia berada di mobil lain bersama Bu Asri dan seorang sopir yang lain.


Hanya mereka saja yang berangkat. Tanpa iring-iringan. Tanpa Kakek Abian dan Nenek Sulis. Mengingat keadaan Kakeknya yang sudah mulai ringkih dan cepat lelah, Garra sengaja tidak mengijinkan mereka untuk ikut mendampingi Sekretaris Ang. Dan pada akhirnya Kakek Abian dan Nenek Sulis pun setuju saja. Menunggu Sekretaris Ang pulang ke rumah dengan membawa istrinya nanti.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, tidak kencang dan tidak juga lamban. Nampak sekali jika pak Abu sang sopir kali ini mengemudi dengan hati hati, mengingat jika sedang membawa calon pengantin dan mobil yang di belakang pun sama.


Hingga sampailah mereka di depan rumah keluarga Kuncoro.


Semua kemudian turun setelah mobil berhenti.


Gani Kuncoro rupanya sudah siap menyambut mereka sendiri dengan beberapa pria berjas di belakang nya.


Lalu mereka saling menunduk untuk saling memberi hormat tanpa berjabat tangan.


"Tuan Muda, Tuan Sekretaris. Selamat datang!" sapa Gani Kuncoro.


Mereka membalas sapaan Gani Kuncoro dengan senyuman lebar dan anggukan kepala.


"Mari silahkan! Acara akan langsung di mulai." ucap Gani Kuncoro mempersilahkan mereka masuk dan membimbing langkah mereka.


Mereka melangkah masuk. Jantung sekretaris Ang mulai berdegup kencang ketika melihat deretan manusia berjas dan bergaun indah di sana. Apalagi saat melihat beberapa pria duduk bersila di hadapan sebuah meja pendek yang panjang, jantung sekretaris Ang semakin berdegup kencang.


Gani Kuncoro masih berdiri di belakang, menunggu calon mempelai wanita tiba. Tak lama kemudian, Tiara sudah terlihat melangkah dengan menggandeng tangan Yuri bersama Jihan.


Semua mata tertuju pada Yuri yang berbalut kebaya putih yang indah, terutama sekretaris Ang. Calon mempelai wanita itu nampak anggun, manis dan dewasa, tidak seperti usia Yuri yang sebenarnya.


Lalu Yuri dipersilahkan untuk duduk di sebelah kanan Sekretaris Ang. Dan Tiara duduk di samping Yuri agak sedikit jauh ke belakang. Begitu juga Garra dan Mia segera menggeser duduknya ke belakang tanpa di perintah, bermaksud agar kedua calon mempelai benar benar duduk berdampingan berdua saja dengan posisi sekretaris Ang di sebelah kiri dan Yuri di sebelah kanan.


Suasana terasa teramat hening, sesaat setelah Yuri dan Ang saling melempar pandangan. Tanpa senyuman yang biasanya menghiasi bibir mereka ketika saling pandang. Kali ini tidak , keduanya beku , sama sama di kuasai gugup dan ketegangan. Hingga tak sanggup untuk sekedar tersenyum saja.


Lalu Gani Kuncoro beranjak, kini duduk tepat di hadapan sekretaris Ang setelah sang penghulu menggeser duduknya dan kini duduk berhadapan Yuri. Sementara dua saksi duduk di samping kanan meja.


Lalu penghulu bertanya kepada kedua calon pengantin, apakah mereka sudah siap? Sekretaris Ang menjawab iya, melirik Yuri yang hanya mengangguk saja.


Ijab kabul pun di mulai dengan hikmat tanpa perwakilan. Gani Kuncoro kali ini yang langsung menjadi wali Putrinya dan menikahkan putri nya sendiri dengan sekretaris Ang tanpa di wakili oleh penghulu.


Sekretaris Ang dan Gani Kuncoro kini berjabat tangan.


Sesaat kemudian Gani Kuncoro dengan mantap mengucapakan akad nikah.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Anggara Sebastian bin Sebastian dengan anak saya yang bernama Yuri Kuncoro dengan maskawinnya berupa uang sebesar enam juta seratus lima belas ribu rupiah ,( 6,115.000) Tunai.” Gani Kuncoro menghentakkan genggaman tangan nya. Kemudian dengan cepat dan tegas Ang pun menjawabnya.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Yuri Kuncoro binti Gani Kuncoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Penghulu menoleh pada para saksi bertanya "bagaimana saksi, apakah Sah?"


Kedua saksi itu pun langsung menjawab bersamaan dengan tegas "Sah!"


Semua bernafas lega, sekretaris Ang terlihat tersenyum tanpa menatap siapapun. Lalu penghulu membaca doa nikah. Setelah itu mereka menandatangani dokumen nikah , hanya catatan nikah bukan buku nikah.


Terakhir serah terima mahar , kemudian penyematan cincin kawin mereka, setelah sebelumnya mereka melepas cincin tunangan mereka dan menyimpannya.


Jika tadi nya cincin pertunangan mereka tersemat dijari manis tangan kiri mereka, maka kali ini cincin kawin mereka tersemat di jari manis tangan kanan mereka.


Acara ditutup dengan sungkeman dari Sepasang mempelai itu pada kedua orang tua Yuri.


Tiara dan Gani Kuncoro sama sama sudah berurai air mata , memeluk Yuri secara bergantian.

__ADS_1


"Yuri, selamat Ya Nak! Kau sudah menjadi Nyonya Ang sekarang. Jadilah istri yang Sholehah. Berbakti pada suami mu sampai batas usiamu." ucap Gani Kuncoro, sambil menyeka air mata Yuri yang juga terjatuh.


"Iya Ayah! Maafkan Yuri, jika selama ini belum bisa menjadi Anak yang baik untuk Ayah."


"Tidak apa apa, Tidak apa apa. Kau anak yang baik, kau anak yang manis. Kau harus bahagia Yuri. Bahagia kan Suamimu, bahagialah bersama nya." Gani Kuncoro mencium kening Yuri berkali kali.


Sekretaris Ang yang sudah selesai sungkem pada kedua orang tua Yuri itu pun tak menyadari jika air matanya pun lolos. Entah bagaimana perasaan yang berkecamuk di hati nya. Antara bahagia tiada tara nya dan juga sedih menghujam ulu hatinya. Jika saja kedua orangtuanya masih hidup, mungkin mereka akan ikut tersenyum bahagia di sini bersama nya.


Sekretaris Ang menunduk, menyeka air matanya dengan ujung lengan bajunya.


'Ayah, ibu. Lihat lah. Putramu sudah menikah. Ikut Berbahagia lah kalian di sana.'


Kini saatnya Ang dan Yuri menghampiri Garra dan Mia.


Garra dengan antusias menyambut tangan sekretaris Ang dan memeluk sekretaris nya itu untuk pertama kalinya selama hidupnya.


"Selamat Ang! Akhirnya kau melepas masa lajang mu juga."


"Terimakasih Tuan Muda. Semua ini berkat dukungan anda juga."


"Haha. Kau harus ingat satu hal Ang? Meskipun kau lebih tua dari ku, tapi detik ini kau adalah adik ipar ku! Jadi kau harus menghormati ku lebih dari sebelumnya!"


"Tentu Tuan muda. Saya akan mengingatnya selalu." kedua nya pun tertawa setelah melepaskan pelukan.


Mia pun berganti yang memeluk Yuri.


"Selamat atas pernikahan mu Adik ku! Bahagia selalu ya?"


"Kak Mia!" Yuri memeluk erat Mia, dan untuk Pertama kalinya ia memanggil kakak pada Mia, begitu terdengar hangat di telinga Mia.


"Terimakasih kak Mia. Kau kakak terbaik ku!"


Keduanya tersenyum bahagia.


Kemudian Yuri tak melupakan Jihan.


"Kau sudah menjadi Seorang istri. Jadi artinya kau bukan bocil lagi. Kau tidak boleh merengek lagi Yuri!" ucap Jihan dalam pelukan Yuri.


"Iya . Aku tidak akan merengek lagi. Kau tenang saja. Kau jangan lupa cepat menyusul ya??" jawab Yuri.


"Kau ini? Dengan siapa hah? Kucing??"


"Haha,.. Siapa tau, setelah ini kau di lamar seorang pangeran! Jangan kebanyakan pacaran Jihan. Nanti kau jadi perawan Tua."


"Huh! Kau ya? Baru saja menikah sudah sok tua saja."


Semua tertawa bahagia.


Saking bahagianya mereka saat ini , bahkan Mia dan Garra lupa tentang pertanyaan hebat di otak mereka yang tadi sempat heran dengan jumlah mahar Sekretaris Ang yang bagi mereka terasa ganjil. 6.115.000?? Kenapa segitu? Kenapa buat seorang Ang tidak Enam ratus juta saja? Atau Enam milyar ? Apa ada maksud di balik angka 6.1.1.5? Tanggal kelahiran mereka kah?


***


Oh ya!


Perlu diketahui oleh kita kenapa Yuri tadi duduk di sebelah kanan dan Ang di sebelah kiri?


Bukankah seharusnya seorang pria duduk di sebelah kanan? Bukan sebelah kiri.


Jadi begini alasannya.


Menjelang akad nikah dilangsungkan, pengantin pria harus duduk di sebelah kiri pengantin perempuan. Sesudah pengucapan janji suci sehidup semati dan sah menjadi sepasang suami istri, pengantin pria akan duduk di sebelah kanan pengantin perempuan. Dalam prosesi pernikahan Ang dan Yuri pun demikian. Usai pengucapan ijab kabul Sekretaris Ang kemudian menempatkan posisinya di sebelah kanan Yuri.


Hal itu sebagai simbol berubahnya status dalam hidup pengantin. Ibarat kata, Ang dan Yuri yang tadinya adalah 'orang asing' kini sudah dipersatukan dalam pernikahan. Mereka bukan lagi dua orang melainkan satu dalam ikatan pernikahan.


Dalam filosofi Jawa, perubahan duduk itu juga menggambarkan sebuah larangan yang kemudian berubah menjadi berkah dengan menikah. Artinya, Dalam hal ini adalah aktivitas seksuall yang ketika sebelum menikah akan menjadi dosa, namun ketika sudah menikah akan menjadi berkah.


Perbedaan posisi ini juga berlaku dalam pemasangan cincin. Inilah alasannya, mengapa para lajang harus menggunakan cincin di jari manis tangan kiri. Dan ini juga jadi alasan mengapa cincin kawin dipasangkan di jari manis tangan kanan.


Semoga bisa menjadi satu tambahan pengetahuan lagi untuk kita dan semoga kedepannya tidak ada yang salah paham jika menemukan hal yang sama seperti yang terjadi pada posisi duduk Sekretaris Ang dan Yuri tadi.


Tapi ingat kakak ya?? Itu hanya berlaku untuk yang menggunakan adat seperti itu. Tidak wajib! Tidak di temukan dalil yang menyebutkan nya. Malah jika di dalam Al-Qur'an, calon pengantin wanita tidak diperbolehkan hadir dalam akad pernikahan. Hanya boleh berada di balik tabir.


_____________________


bersambung...!!!!!

__ADS_1


__ADS_2