
"Kau beri apa Adikmu Rayyan?" suara Garra menggema di dalam kamar milik Yura.
"Semalam.. Semalam Rayyan hanya membelikan Kembang Gula Pa. Maafkan Rayyan!" Rayyan gemetaran, menatap Yura yang sudah tergeletak tak berdaya di ranjang dengan seorang dokter yang baru saja selesai memeriksanya.
"Apa kau mengajaknya keluar?"
"Hanya ke Wahana Permainan Pa, itu pun hanya sebentar saja."
"Kau tau, adikmu tidak bisa terkena angin malam tapi kau tetap saja mengajaknya keluar. Kakak macam apa kamu ini?" Garra sungguh kesal.
"Maafkan Rayyan Pa. Rayyan tidak tau jika Ara akan sakit." mata Rayyan sudah berkaca kaca , ia sangat menyesal mengajak Yura keluar semalam. Rayyan mendekati Yura. Menggenggam tangan kecil itu.
"Badanmu demam sekali. Maafkan Kak Mig! Maafkan Ara!"
"Karena kau ceroboh Rayyan. Kau tau fisik Adikmu ini sangat rentan. Bagaimana kau bisa menjaganya jika teledor hah!" Garra masih saja mengomel.
"Tuan, tolong maafkan Tuan Muda. Sebenarnya Tuan Muda bermaksud untuk menyenangkan hati Yura." ucap Sekretaris Ang menenangkan hati Garra.
"Tapi lihatlah hasil perbuatannya Ang. Putrimu harus sakit lagi!"
"Maafkan Rayyan Pa. Rayyan tidak akan mengulangi lagi."
"Tuan Muda tidak bersalah kakak ipar. Tolong jangan memarahinya. Memang Yura yang lemah, tidak bisa terkena angin malam sedikitpun." kali ini Yuri ikut bicara.
Sementara Mia hanya bisa terdiam sambil menepuk halus punggung Rayyan yang masih memeluk Yura.
"Lain kali jangan begitu Tuan Muda. Kau kan tau, jika adikmu berbeda dengan kita." ucap Mia, pelan.
"Maafkan Rayyan Ma. Tadinya Rayyan hanya ingin menghiburnya."
"Lain kali jangan gegabah. Bukan kah kau sangat menyayanginya? Bukan kah kau, dulu sangat menginginkannya, menunggunya sekian lama dan berjanji akan menjaganya? Kasian Ara jika harus sakit seperti ini."
Rayyan hanya bisa mengangguk, rasa bersalah semakin merasuki jiwanya.
"Sebaiknya kita keluar. Dokter sudah menangani Yura. Ini hanya demam biasa." ucap Ang.
Mereka menyisih keluar, membiarkan Rayyan yang masih dengan rasa penyesalan.
Rayyan memandangi wajah kecil itu. Ini sudah yang kesekian kalinya Yura sakit.
Walaupun hanya karena hal sepele saja, Yura bisa jatuh sakit.
Mungkin itu pengaruh dari kelahiran prematur Yura dan walau bagaimana pun juga Yura adalah hasil proses dari bayi tabung yang tidak berjalan sempurna. Ia lahir dalam Bulan ketujuh di dalam kandungan Yuri, menyebabkan Yura harus mempunyai kelainan kesehatan dan IQ dibawah rata-rata.
"Kak Mig." rintihan kecil dari mulut Yura terdengar. Mata kecil itu menatap sayu kearah Rayyan.
"Sayang.. Kau sudah bangun?"
"Tubuh Ara ngilu semua." merengek.
"Maafkan Aku. Maafkan kak Mig. Ini semua salah kak Mig." Rayyan segera memeluk Yura, mendekap erat erat.
"Kenapa salah kak Mig? Bukan kah Ara memang suka begini?"
"Tidak Ara. Jika semalam kakak tidak mengajakmu keluar, mungkin Ara tidak akan sakit."
"Kak Mig, jangan bilang seperti itu. Jangan berhenti membawa Ara bermain. Ara masih ingin bermain di wahana itu."
"Ah iya. Iya. Jika Ara sudah sehat. Kita akan pergi lagi. Tapi janji, Ara cepat sembuh ya?"
Yuri kecil mengangguk. Segera bangun dan duduk menyandar.
"Kak Mig. Menjaga Ara sejak tadi?"
Rayyan mengangguk.
"Ibu dimana?"
"Kau mau kak Mig panggil ibu?"
__ADS_1
Yura kembali mengangguk.
"Baiklah. Tunggu sebentar."
Rayyan keluar untuk memanggil Yuri.
**
Empat Tahun kemudian!
Yuri hanya bisa menghela nafas, ketika menatap Rayyan lagi lagi sedang menggendong Yura di punggungnya. Itu terus dilakukan Rayyan sebelum dan sesudah Yura pulang sekolah. Rayyan tidak pernah lupa mengantar dan menjemput Yura ke sekolah walau harus meninggalkan dulu kantor tempatnya bekerja membantu Ayahnya dan Pamannya di perusahaan mereka. Bahkan Sopir pribadi keluarga mereka pun dilarang Rayyan untuk mengantar jemput Yura. Pekerjaan itu sudah menjadi rutinitas hidup Rayyan yang menyenangkan baginya.
Sedikitpun tak terbesit pikiran apapun di benak Yuri selain daripada rasa kasih sayang Rayyan yang begitu besar pada Putrinya itu.
"Ara. Kau jangan terus meminta gendong pada kak Mig. Kau itu sudah besar. Bukan lagi anak SD." tegur Yuri.
"Tidak apa bi. Aku yang ingin menggendongnya. Aku takut Yura kelelahan saja." Rayyan yang menyahut. Sementara Yura malah menjulurkan lidah pada Ibunya.
Yuri hanya bisa menggeleng kepala melihat mereka.
**
Malam itu.
Ada Garra dan Mia duduk. Di depan mereka Rayyan Miga juga duduk berhadapan dengan mereka. Sementara sekretaris Ang dan Yuri juga terlihat diantara mereka.
"Rayyan. Minggu ini kau harus menyelesaikan sekolahmu di Mahattan. Paman Ang sudah mengurus semua keberangkatan mu. Apa kau sudah siap?" ucap Garra.
"Pa! Rayyan tidak mau! Sudah berapa kali Rayyan katakan! Rayyan hanya ingin bersekolah disini saja. Tidak ingin kemana mana."
"Rayyan. Kau ini penerus perusahaan kita. Harapan satu satunya kami. Kau harus melanjutkan pendidikan disana demi masa depan perusahaan kita Nak! Hanya satu tahun saja!"
"Tidak bisa Papa. Jika Rayyan kesana, bagaimana dengan Ara? Rayyan tidak bisa meninggalkan Ara!"
"Rayyan. Ada Papa dan Mama. Ada Bibi dan Paman. Apa yang kau khawatirkan? Kamu bisa menjaga Yura dengan baik." ucap Garra.
"Tapi Tuan Muda harus melanjutkan pendidikan disana. Itu juga demi kita semua. Percayalah, Ara akan baik baik saja bersama kami." sekarang Sekretaris Ang yang bicara.
"Sayang.. kau harus dengar nasehat Papa dan Paman Ang. Kau tidak boleh mengecewakan mereka. Kau satu satunya harapan mereka Nak?" tutur Mia ikut menasehati Rayyan.
Rayyan terdiam. Nampak berpikir. Kemudian menoleh pada Ayahnya.
"Baiklah. Tapi Rayyan ada di satu permintaan."
"Katakan saja. Pasti Papa akan memenuhi permintaanmu."
"Sebelum pergi, Rayyan ingin bertunangan dahulu."
Semua yang ada terkejut mendengar ucapan Rayyan.
Mia terdengar tertawa. " Putraku sudah punya calon istri? Siapa?" tanya Mia mendekat pada Rayyan.
Rayyan hanya tersenyum.
"Kau benar benar sudah punya calon istri Rayyan? Kenapa tidak memperkenalkan dulu pada kami? Kami harus tau dulu siapa wanita yang sudah beruntung mendapatkan hatimu." ucap Garra.
"Papa sudah berjanji."
"Ah baiklah. Katakan anak siapa? Papa dan Paman Ang akan datang untuk menemui orang tuanya."
Rayyan terdiam sesaat. Menarik nafas dalam dalam lalu menatap Ayahnya.
"Rayyan ingin bertunangan dengan Yura!"
DUAR...!!!
Seketika semua orang yang mendengar tercengang. Yuri bahkan sempat gemetaran tubuhnya. Lemas tertumpu pada tubuh suaminya. Begitu juga Mia yang langsung menoleh pada Garra yang langsung berdiri.
"Rayyan. Kau sudah gila?" bentak Garra.
__ADS_1
"Dia adikmu! Tidak ada wanita lain apa?" sambung Mia.
"Tidak Pa. Ma. Rayyan hanya ingin Yura. Hanya ingin bertunangan dan menikahi Yura. Maka tunangkan kami setelah itu Rayyan akan pergi ke Mahattan." Rayyan pun berdiri dan beranjak.
"Bang Garra. Putramu." Mia gemetaran.
"Sabar Mia. Sabar." Garra segera mendekap tubuh Mia.
Tidak ada yang pernah menyangka jika Rayyan akan berbicara demikian.
"Rayyan! Tunggu dulu." seru Garra.
Rayyan menghentikan langkahnya.
"Duduklah dulu. Kita bisa bicara kembali."
Rayyan membalikkan badan, melangkah kembali ke antara mereka dan duduk.
"Apa maksudmu Rayyan? Kau tau jika Yura itu adalah.."
"Da bukan adik Rayyan Pa! Yura anak Paman Ang."
"Tapi dia anak bibi kamu Rayyan!"
Rayyan menoleh pada Yuri yang terisak.
"Aku tau. Tapi di dalam agama sekali pun itu diperbolehkan."
"Rayyan!"
"Aku mencintainya Pa. Papa tidak tau bagaimana Rayyan sangat takut kehilangan Ara. Kalian tidak mengerti juga. Bagaimana keadaan Ara?"
"Ara bukan gadis sempurna seperti gadis lain. Selain fisiknya yang lemah, IQ yang dimilikinya di bawah Normal. Apa kalian tidak memikirkan bagaimana seorang pria bisa menerima Ara dengan baik kelak? Tidak gampang mendapatkan laki laki yang akan tulus pada Ara. Dan Rayyan tidak mau itu terjadi pada Ara. Rayyan yang akan menikahinya setelah dewasa dan menjaganya seumur hidup Rayyan."
"Rayyan. Kau tidak mengerti. Kau dan Ara itu cucu Gani Kuncoro. Mana mungkin sama sama cucu akan menikah? Ini memalukan Rayyan!" bentak Garra.
"Lebih baik memalukan dari pada kita harus kehilangan Ara Pa!"
"Paman Ang, bibi Yuri. Kalian tau persis bagaimana kita menunggu Ara sekian lama. Bagaimana cara kalian ingin mendapatkan Ara. Lalu kita akan membiarkan Ara diambil orang? Ara akan pergi meninggalkan kita? Lalu bagaimana jika Ara selalu jatuh sakit? Ara akan dihina karena bodoh? Rayyan tidak akan mungkin membiarkan itu terjadi."
"Paman Ang. Setuju atau tidak, aku akan menikahi Putrimu. Jika tidak, aku akan membawanya pergi dan tidak akan peduli dengan perusahaan Kalian!" Selesai berucap Rayyan pergi meninggalkan mereka.
"Tuan Muda!" Seru sekretaris Ang.
"Ah.. kenapa bisa jadi begini?" menatap Garra yang memerah wajahnya.
"Aku juga tidak tau Ang!" Garra melemas, masih merengkuh Mia yang menangis tersedu.
"Sudah , sudah! Kita akan berbicara lagi dengan Putramu."
"Ang. Kembali lah ke kamar. Maafkan Tuan Muda. Mungkin dia hanya ketakutan dengan keadaan Putrimu. Kita pelan pelan akan memberitahunya."
Sekretaris Ang mengangguk.
Memapah Yuri yang juga masih terisak.
Tidak ada satu pun diantara mereka yang menyangka jika Rayyan akan berpikir sejauh itu.
Tapi tidak dipungkiri oleh Yuri jika apa yang diucapkan Rayyan semua benar.
Tapi sekali lagi ini akan menjadi Aib. Tentu Aib bagi keluarga Mahendra dan juga Kuncoro. Bagaimanapun juga keduanya sama sama Cucu Gani Kuncoro!
___________________
catatan:
Saat ini, Yura sudah duduk di kelas 8. Berusia 14 Tahun.
Sementara saat Yuri berusaha dengan proses bayi tabungnya Rayyan pada saat itu sudah berusia sepuluh tahun. Jadi selisih usia mereka jelas sepuluh tahun lebih. Tepatnya Sebelas tahun. Rayyan yang sekarang sudah berusia 25 tahun.
__ADS_1