Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Stempel Kepemilikan.


__ADS_3

Pagi menyapa dengan halus. Matahari mulai menampakkan dirinya dengan malu malu setelah seharian kemarin bersembunyi di balik awan yang tak jadi terjun ke bumi. Alias mendung tanpa hujan.


Senyum sumringah penuh kebahagiaan menghiasi Bibir seorang Garra Mahendra yang baru saja menyelesaikan mandinya dan masih mengenakan handuk saja.


Kini menghampiri sang istri yang sudah duduk di tepi ranjang , tapi masih dengan berbalut selimut di tubuh nya.


"Mia..!"


Mia menepis tangan Garra yang menyentuh dagunya.


"Bang Garra. Kenapa tubuh Mia banyak merah merah begini. Kemarin tidak sebanyak ini. Kenapa makin nambah banyak.. Lihat...!!" protes Mia menunjukkan leher, dada dan paha nya.


Garra terkekeh. "Itu namanya Stempel Kepemilikan." jawab Garra.


"Maksud nya?"


"Maksudnya, tanda jika Mia milik bang Garra."


"Oh." Mia seperti nya paham lalu bergerak cepat menarik Garra hingga jatuh terpelanting ke kasur di samping nya.


"Bang Garra juga kan milik Mia. Jadi harus Mia tandai juga." Mia segera menyerbu Garra.


"Mia.. Mia. Jangan!" teriak Garra, namun tidak bisa lagi menahan apalagi untuk menolak , ketika Mia mengecupi keras leher nya hingga meninggal kan bekas merah dengan jumlah banyak di leher dan dadanya.


Mia sebenarnya tidak terlalu paham, tapi dia hanya mengandalkan insting mengikuti apa yang di ingat nya saat Garra melakukan itu padanya.


Mia tersenyum puas, menatap bekas merah di tubuh Garra yang sama persis seperti tanda merah di tubuhnya.


"Nah, begitu kan impas." ucap Mia, kembali menarik tubuhnya untuk duduk.


Sementara Garra mengeluh sambil mengusap usap leher nya yang terasa panas akibat kecupan kasar Mia.


"Kau ini, tidak pakek perasaan."


"Memang harus pakai perasaan?" tanya Mia.


"Ya iya lah Mia sayang...!! Bang Garra saja tidak terlalu sadar melakukan itu pada Mia karena terbawa perasaan yang berlebih. Sampai sampai meninggalkan jejak. Lha Mia..Kasar begini!" sahut Garra.


"Maaf!" rengek Mia.


Garra tersenyum, membelai Mia. " Tidak apa apa. Lain kali lebih lembut lagi ya? Biar meresap sampai kehati." ucap Garra.


Mia mengangguk.


"Semalam bagaimana?" bisik Garra di telinga Mia.


Mia menoleh. "Apa?"


"Rasanya?" Garra mendekap Mia.


Wajah Mia seketika memerah. Mengingat semalam yang terjadi, Mia langsung malu.


"Suka tidak?" Garra bertanya lagi.


"Mia suka tidak??" mengulang pertanyaan.


"Diam!" Mia mendorong tubuh Garra lalu berlari ke kamar mandi. Biasa, untuk sembunyi dari malu nya.

__ADS_1


Garra tersenyum menang, lalu bangun dan bergegas meraih ganti. Memandangi leher nya. Meraba bekas bibir Mia di sana.


"Tidak apa apa, meskipun kau melakukan ini tanpa perasaan. Setidaknya , ada bekas jejak mu di sini. Aku sudah cukup senang menerima nya. " Garra kembali tersenyum bahagia.


Tak lama Mia sudah keluar dari kamar mandi dan langsung berganti. Sementara Garra sendiri sudah rapih, siap berangkat ke kantor.


Lalu pintu diketuk, suara sekretaris Ang terdengar dari luar.


"Tunggu sebentar." jawab Garra.


"Mia sayang. Bang Garra kerja dulu ya?"


Mia terdiam, seperti masih berat untuk di tinggal oleh suaminya.


"Apa Mia masih ingin di temani? Baiklah, bang Garra tidak jadi berangkat kalau begitu." ucap Garra, mengendorkan dasinya.


"Tidak bang Garra. Tidak apa apa. Bang Garra berangkat saja." sahut Mia.


"Benar?"


"Iya.. Bang Garra kan harus bekerja mencari nafkah. Nanti kalau bang Garra sering bolos Bekerja, perusahaan nya juga bisa bangkrut."


"Anak pintar. Makin gemes deh!" Garra mencubit hidung Mia. Lalu mendekap erat dahulu, menghujani pucuk kepala Mia dulu dengan kecupan. Wajah juga. Lama.


Sampai yang menunggu di luar mungkin sudah kesemutan kakinya.


Sampai Mia mendorong tubuh suaminya, baru ciuman Garra terlepas.


"Sudah bang Garra, sekretaris Ang kering tuh."


"Eh iya, sampai lupa. Bang Garra berangkat ya..?? Baik baik di rumah."


Mia mengangguk.


Sekretaris Ang dan Yuri segera menunduk hormat.


'Lama sekali sih buka pintu saja!' gerutu Yuri di batin nya, sambil melirik ke dalam. Mia langsung tersenyum melambaikan tangan nya pada Yuri.


Melihat itu, Garra hanya tersenyum. Suasana hati nya pagi ini terasa begitu bahagia , hingga terlihat oleh semua orang. Buktinya Garra mau tersenyum pada Yuri.


Yuri sampai memutar kepalanya untuk menatap langkah pria yang sebenarnya berstatus kakak ipar nya itu, tidak seperti biasanya. Biasanya akan berusaha muka masam jika bertemu dengannya. Tapi kali ini tidak.


"Tumben." pikir Yuri.


Sementara Garra sudah melangkah menuruni tangga bersama Sekretaris Ang.


Senyum terus berkembang di bibir Garra, bahkan sampai duduk di dalam mobil di sebelah Ang.


Ang melirik Tuan nya. Lalu tersenyum, saat tak sengaja menangkap beberapa tanda merah di leher Garra.


" Ehem.. Seperti nya ada yang sukses nih!" sindir Ang.


"Kau ini, kepo!" jawab Garra memukul ringan bahu Ang.


Ang tergelak. "Stempel Kepemilikan sudah resmi menempel." kembali Ang mengejek.


"Diam Ang! Kau ini. Belum tau rasanya jadi pengantin baru. Coba saja kalau sudah. Bukan hanya stempel yang kau dapat, tapi cakaran istri mu, penuh di tubuhmu."

__ADS_1


"Masa sih. Apa tuan muda juga begitu?"


"Ha..ha..ha..!" Garra terbahak.


"Kau mau lihat?"


"Tidak Tuan Muda. Cukup tau saja." jawab cepat Ang. Dalam hati menggerutu. 'Pamer .. Sengaja seperti nya ,. biar saya iri begitu??'


"Cepat lah menyusul Ang, kau itu sudah pantas berkeluarga. Tau tidak Ang. Jika kita sudah menikah, pikiran kita itu tenang. Kerja capek banting tulang pun tidak sia sia. Meskipun uang kita habis, untuk istri kita. Untuk keluarga. Coba kalau masih sendiri. Habis kemana coba. Paling banter lari ke perut kita sendiri. Buat kesenangan kita sendiri. Kalau sudah beristri , apalagi sudah mempunyai anak. Kita bisa menyenangkan mereka. Pahala akan mengalir deras pada kita. Di dunia sampai akhirat. Semakin kita menyenangkan istri, rejeki kita akan semakin lancar. Percaya deh." ucap Garra di luar nalar Ang.


' Sejak kapan Tuan muda Garra pintar berceramah. Jangan jangan, sejak menikah dengan Nyonya muda.' Ang menoleh.


"Anda benar Tuan."


Garra menepuk bahu Ang.


"Apa Tuan Muda benar benar sudah bahagia?" tanya Ang.


Garra menghela nafas dahulu, kemudian menoleh pada Ang.


"Aku sudah bahagia Ang, menikahi Mia. Kau tau bagaimana aku menyukainya, Kakek dan Nenek ku juga. Sekarang , Mia juga sudah bisa membalas perasaan ku. Sungguh Ang, aku bahagia."


"Syukur lah Tuan. Kalau begitu, saya akan segera mencari calon istri untuk mendampingi saya."


"Kau belum punya calon?"


Ang menggeleng.


"Ang?"


"Bagaimana kalau, kita iparan saja."


Mendengar ucapan Garra, Ang menoleh cepat.


"Maksud Tuan Muda?"


"Bukan kah adik istri ku itu manis? Kenapa mesti payah payah mencari wanita lain. Susah Ang , zaman sekarang mencari wanita baik itu . Apalagi yang cantik dan gaul, malah bertingkah. Masalah cantik, itu tergantung isi dompet mu. Sejelek apapun wanita, jika pria nya mau bermodal pasti akan goodlooking juga. Bukan begitu?"


Ang hanya tersenyum menanggapi Garra yang lagi lagi ceramah.


"Dan seperti nya dia tulus.. Tingkat ketulusan nya mungkin bisa menurun dari Mia. Asal jangan polos nya saja yang mirip Mia. Kau akan repot seperti ku!" Garra terbahak, Ang pun begitu.


"Bagaimana, kau setuju?" kembali Garra bertanya serius.


"Yuri masih bocah tuan. Lebih pantas sebagai keponakan saya."


"Hahaha.. apa kau bilang? Bocah?"


Ang lagi lagi tersenyum.


"Bocah juga Yuri itu tetap seorang wanita. Jika kau memberinya makan rutin, dia akan berkembang menjadi besar. Lalu , bisa melahirkan bocah mu."


Kedua nya saling pandang, kemudian terbahak bersama. "Anda benar Tuan.!"


Mereka nampak bahagia, sampai mobil mereka berhenti di depan perusahaan milik Garra, masih ada sisa senyum di bibir kedua nya.


______________

__ADS_1


Bersambung.......!!!!!!


__ADS_2