Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Pertemuan yang menyesakkan.


__ADS_3

Di sebuah gedung Sekolah Menengah Atas yang megah tempat belajarnya anak anak orang kelas atas itu, terdengar bunyi bel tanda jam pelajaran telah usai.


Para siswa baik perempuan maupun siswa laki laki terlihat keluar dari kelas masing masing mereka.


Dikelas Dua Belas Bahasa, tampak siswa perempuan yang berperawakan langsing namun berpipi chubby keluar dari kelasnya.


Sendirian, tidak seperti siswa lainnya yang berjalan beberapa orang.


Gadis itu berjalan sedikit terburu ke luar gerbang. Tengok ke kiri dan ke kanan,mencari seseorang. Namun yang di cari sepertinya belum nampak.


Sebuah mobil Lamborghini berwarna putih berhenti tidak jauh dari gadis itu berdiri. Seorang pria dewasa yang nampak tegap dengan kaos putih berbalut jaket hitam menuruni Lamborghini itu. Wajah tampan dengan kesan wibawa kental terlihat. Pria itu menatap hangat ke arah sang gadis.


"Ara..!" panggilnya. Tanpa tersenyum, dengan mata yang berkaca kaca.


Yang merasa dipanggil namanya menoleh, sekilas tertegun.


Yura masih berpaku di kedua kakinya. Menatap kearah pria yang memanggilnya itu. Suara itu akrab di telinganya. Bahkan panggilan itu terasa merasuk mengenai hati.


'Siapa?' dalam hatinya.


"Ara..!" pria itu mengulang panggilannya.


Tersentak. Gadis itu seperti sedang bermimpi, kemudian berusaha meyakinkan dirinya. Lalu melangkah pelan mendekati. Saat wajah itu jelas terlihat, gadis itu sontak berlari dan menubruk.


Pria dewasa itu menyambut tubuh Yura dengan cepat. Memeluk erat seerat mungkin.


"Kak Mig!" Yura terisak.


"Kenapa begitu lama meninggalkan Yura?" rintih Gadis itu.


"Maafkan, Maafkan kak Mig!" Rayyan melepas pelukannya. Membelai wajah gadis itu.


"Bahkan tidak mengabariku jika akan pulang hari ini?"


"Sengaja. Ingin memberimu kejutan."


"Apa sudah melupakan Ara. Sampai susah dihubungi?" Protes Ara.


"Bukan begitu. Kak Mig tidak mau hati kita terganggu. Jika begitu, kita akan sama sama tenang sampai pertemuan ini." jawab Rayyan.


"Kau tidak melupakan kak Mig Kan?" tanya Rayyan.


Yura menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin!"


"Syukurlah. Ku pikir Ara sudah punya pacar lain dan melupakan Kak Mig."


Deg!


Yura terdiam.


"Ara, kenapa diam? Kau tidak punya pacar kan?" Rayyan mengulang pertanyaannya.


"Aku.."


"Yura..!!" suara panggilan disusul langkah kaki seorang pria seumuran Yura yang mendekati mereka.


Keduanya menoleh bersamaan.


"Yura. Aku mencari mu. Rupanya kau disini. Ayo kita pulang." ucap pria segera meraih tangan Yura, namun sempat menoleh pada Rayyan yang berdiri di sisi Yura.


"Anda! Bukankah Tuan Muda Rayyan?" sapa pria muda itu, langsung melepaskan tangan. Yura. Dia tau siapa pria yang ada dihadapannya itu. Siapa yang tidak mengenal Rayyan Miga? Namun setahu pria itu Rayyan adalah kakak Yura.


Rayyan yang sejak tadi sudah dongkol saat mendengar pria itu mengajak Yura pulang di tambah lancang sudah meraih tangan Yura pun enggan menjawab. Malah menoleh dan bertanya pada Yura.

__ADS_1


"Siapa dia?"


"Dia.."


"Edo , Tuan Muda. Nama saya Edo!" Pria itu memperkenalkan diri.


"Aku tidak tanya namamu. Yang ku tanya ada hubungan apa kamu dengan Yura hah? Kalau hanya sekedar teman satu sekolah, Jangan lancang mengajaknya pulang bersama!" bentak Rayyan.


"Ah,maafkan saya Tuan Muda. Tapi saya, Pacar Yura!"


Jdar....!!!


Bagai di sambar petir, Rayyan Miga begitu tercengang. Cepat menoleh pada Yura yang langsung gemetaran.


"Benar apa yang dikatakannya, Ara?"


Yura bingung untuk menjawab memilih untuk diam. Dan diamnya Yura sudah menjadi satu jawaban yang jelas bagi Rayyan.


Seketika Rayyan membuka pintu mobil dan menarik tangan Yura.


"Masuk!"


"Kak Mig! Dengarkan Ara dulu."


"Pulang sekarang! Cepat Masuk!" mendorong tubuh Yura masuk dan segera menutup pintu.


Lalu Rayyan menoleh pada Edo yang cukup kebingungan melihat wajah marah Rayyan.


"Dengar kamu! Jangan berani mendekati Yura lagi. Apapun alasannya atau aku akan membuatmu mati!" menunjuk Edo, kemudian menyusul Yura.


Rayyan dengan cepat mengemudi mobilnya. Tanpa menoleh pada Yura yang terisak.


"Maafkan Ara kak Mig!"


"Kak Mig!" Yura menyentuh lengan Rayyan.


"Argh.....!!!" Rayyan seketika berteriak membuat Yura cukup terkejut.


Rayyan kemudian menepikan mobilnya, dan mematikan mesin.


Masih berteriak sambil memukul mukul setir mobilnya.


"Kenapa kau lakukan ini Ara! Kenapa???" menoleh pada Yura yang menangis cukup keras.


"Ara salah. Ara minta maaf.." rengek Yura di tengah isakan tangisnya.


"Apa kau tau Ara, bagaimana tersiksanya aku disana menahan rindu? Menahan diri untuk tidak berontak pulang kemari?" Mata itu memerah, menatap tajam ke arah Yura yang gemetaran. Hati Yura sendiri terpukul melihat wajah Frustasi itu.


"Tiga tahun Ara! Seharusnya aku menyelesaikan Pelajaran ku Lima tahun disana. Tapi demi mu, aku berjuang siang malam agar bisa cepat menyelesaikan studi ku dan bisa segera bertemu denganmu!"


"Kak Mig, bukan begitu. Ara, Ara tidak begitu, tapi.. tapi.."


"Tapi apa? Kau cepat sekali melupakan aku! Kau pacaran dengan orang lain? Ara, kak Mig kecewa! Kau melupakan janji kita? Ara, kau melupakan janji kita!!!" Rayyan membuka pintu dan keluar. Membanting pintu mobil dengan cukup keras.


Kemudian berlari ke sebuah jembatan yang tidak jauh dari ia menepikan mobilnya.


Berteriak teriak di sana.


"Ara..! Kau jahat! Aku mencintaimu Ara!! Tapi kau jahat!!!"


"Argh....!!!" menjambak rambutnya sendiri.


Ara yang langsung turun menyusul terpaku menyaksikan Rayyan. Segera berlari mendekat. Merengkuh pinggang Rayyan dari belakang.

__ADS_1


"Maafkan Ara Kak Mig. Kak Mig jangan begini. Sudah! Sudah! Ayo kita pulang. Nanti orang orang kemari mendengar mu berteriak!" Yura berusaha menenangkan hati Rayyan.


Rayyan memutar tubuhnya, menatap wajah Yura. Memegang kedua pipi chubby Yura.


"Sejak kamu lahir aku menjaga mu melebihi nyawaku Ara. Sejak kau bayi aku mencintaimu. Dan setelah besar, kau diambil orang begitu saja. Berpacaran dengan orang lain?" mata itu masih memerah penuh kekecewaan.


"Kak Mig jangan menyalahkan aku!" tiba tiba Yura mendorong tubuh Rayyan.


"Siapa yang salah diantara kita? Kau yang melupakan aku! Kau yang berhenti memberiku kabar!" Yura pun berteriak.


"Sekedar untuk panggilan video pun kak Mig enggan. Apa itu namanya jika tidak melupakan hah!"


"Setiap hari Ara tersiksa memikirkan Kak Mig. Bahkan Ara sampai jatuh sakit merindukan kak Mig. Apa kak Mig tidak memikirkan itu?"


"Ara!!" Rayyan menyentuh wajah Yura.


"Tidak! Kau yang jahat padaku kak Mig! Yang tega padaku!" Yura menepis tangan Rayyan mundur untuk beberapa langkah.


"Ara, tapi itu demi kebaikan kita."


"Kebaikan yang mana? Menyiksaku! Melupakan aku dan seenaknya datang kembali setelah susah payah aku melupakanmu begitu?"


"Kau tau aku ini tidak punya teman. Kak Mig tau bagaimana Ara tidak bisa kemana mana selain di rumah? Ara kesepian. Ara butuh teman yang bisa menghibur Ara. Yang bisa membuat Ara bisa melupakan kesedihan Ara karena kehilangan kak Mig. Apa kak Mig punya pacar disana? Aku sendiri pun tidak pernah tau! "


"Ara, tidak seperti itu. Sungguh!"


"Diam! Kau yang jahat kak Mig. Kau yang jahat!" teriak Yura. Tiba tiba pandangannya menggelap.


Yura memegangi kepalanya yang mendadak sangat pusing.


Ara mulai terlihat sempoyongan.


"Ara..!"


Brug..!


Tubuh Yura jatuh begitu saja. Beruntung Rayyan tepat menangkapnya.


"Ara.. Ara..!" panggil Rayyan. Yura tak bergeming pingsan di pelukan Rayyan.


"Ara.. Ara!!" jerit Rayyan. Segera mengangkat tubuh Yura dan berlari ke mobil.


"Ara.. bangunlah. Maafkan Kak Mig!. Ara..!!" Maafkan kak Mig!" Rayyan sangat khawatirkan. Terus menepuk nepuk pipi Yura. Tapi Yura belum sadar juga.


Rayyan kini menangis, memeluk erat tubuh Yura.


"Ara.. Bangun!"


Rayyan seketika melepaskan pelukannya. Menaruh kepala Yura dengan baik dan segera melajukan mobilnya. Penuh kepanikan juga penuh penyesalan sudah mengajak Yura bertengkar dengan pertemuan pertama mereka yang seharusnya menyenangkan itu.


Tidak ada yang dipikirkan Rayyan lagi, kecuali segera mencapai rumah.


Sambil terus mengusap wajah Yura dan juga sambil menghapus sisa air matanya.


_____________


Waktu memang bisa merubah segalanya.


Masih adakah cinta di hati Yura untuk Rayyan Miga? Setelah perputaran waktu ini?


Sedangkan Hati, pikiran , jiwa dan raga Rayyan seutuhnya sudah diserahkan pada Yura Semenjak Yura lahir.


Simak kisah perjuangan Rayyan kali ini untuk mendapatkan hati Yura kembali dan cara Rayyan mendapatkan restu Kedua orang tuanya.

__ADS_1


[Slow update kakak ya?]


__ADS_2