Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Gatot!


__ADS_3

Yuri menyeret kaki nya dengan malas menuju pintu yang terdengar di ketuk berkali kali. Kebetulan Yuri memang hampir saja terlelap. Padahal jam baru menunjuk kan pukul tujuh malam.


Raut wajah Yuri yang tadi nya lesu seketika berubah tegang, ketika melihat sekretaris Ang sudah berdiri di depan pintu, dengan mengenakan kaos putih lengan panjang yang di tutup dengan jaket kulit. Nampak keren dan tampan.


Yuri mundur beberapa langkah ketika sekretaris Ang mendekat.


"Apa kau sudah siap?"


"Siap? Siap apa ya?" gugup. Terkejut , terpana dengan pemandangan di depan nya yang berhasil menodai otaknya.


"Aku ingin mengajak mu keluar. Apa kau bersedia?"


Segera ingat sesuatu.


"Tentu saja Tuan. Tunggu sebentar." Yuri mendorong tubuh sekretaris Ang dan menutup pintu.


"Aduh bagaimana ini? Kenapa aku lupa jika malam ini harus menuntut pertanggungjawaban Tuan Ang. Aduh.. kenapa aku yang jadi gugup sih... Seharusnya dia yang gugup, kan dia yang salah. Kan aku yang akan menuntut."


Lalu segera berganti baju dan merapihkan wajahnya, dempul sana dempul sini, poles saja poles sini. Tak lupa semprotan baju dipakai bila perlu dari ujung kepala hingga kaki, sampai klomoh.


Sebelum melangkah , berputar putar dulu di cermin. Nenangin jantung nya juga yang sempat terpacu tadi dan belum juga berhenti.


Yuri membuka pintu, kembali matanya melihat wajah tampan yang masih setia menunggu nya itu. Jantung nya tak bisa terkondisi kan lagi.


"Sudah siap?"


"Eh, iya." Salting.


"Kalau begitu kita berangkat."


Yuri mengangguk, lalu mengekor di belakang sekretaris Ang.


Setelah duduk dengan baik di dalam mobil, sekretaris Ang melajukan mobilnya.


Belum ada percakapan. Mungkin masih sama sama tegang, atau sedang sama sama merangkai kata untuk memulai obrolan.


Yuri menatap ke depan dengan sesekali mencuri pandang. Sekretaris Ang pun melakukan hal yang sama, menatap lurus ke depan tapi tidak mencuri pandang. Hanya memusatkan pikiran, memikirkan apa yang akan ia katakan pertama kali nya nanti pada Yuri, lalu untuk menebus kesalahannya. Untuk membuktikan jika ia adalah benar laki-laki sejati.


Sekretaris Ang sudah berpikir jauh, membulatkan niat dan hati untuk Melamar Yuri. Ya.. tidak masalah bocah. Ang berjanji, akan lebih bersabar menghadapinya nanti di kemudian hari jika ada hal hal yang tidak diinginkan terjadi. Ya.. Ang akan memimpin Yuri menjadi istri yang baik. 'Aku pasti bisa. Aku menyukai nya dan dia sudah merobohkan dinding hatiku. Pelan tapi pasti, di sudah berhasil menggenggam hati ku. Yuri.. Yuri.. Ah, aku mencintaimu.'


Tersentak ketika Yuri berdehem.


"Tuan Ang, sebenarnya kita mau kemana.?" Yuri melihat banyak mall juga rumah makan yang terlewat kan.


"Oh, kita.. Kita mau makan malam. Kau belum makan kan?"


"Tapi dari tadi kita sudah melewati beberapa Restoran lho? Bahkan Restoran tempat makan kita waktu itu. Apa tuan Ang ada Restoran favorit lain nya?"


"Masa sih, masa sudah lewat?" celingukan melihat luar.


"Em.. pasti melamun ini. Melamunin apa sih. Aha.. melamunin saya ya Tuan?" menggoda sedikit.


Yang di goda sebenarnya ingin tersenyum karena senang, tapi gengsi.


"GR kamu.!"


Yuri langsung masam wajahnya.

__ADS_1


Cittt....!!!


Sekretaris Ang mengerem mobilnya mendadak. Hingga tubuh Yuri hampir menabrak dashboard mobil.


"Tuan Ang . Hati hati donk! Kalau kepala saja kepentok bagaimana coba. Nanti saya amnesia dan lupa segalanya. Lupa siapa Tuan Ang, dan lupa jika saya jatuh cinta pada Tuan Ang." gerutu Yuri.


Sekretaris Ang hanya tergelak lalu membelokkan mobilnya ke rumah makan yang hampir saja terlewatkan lagi tadi.


Segera turun dan ingin membukakan pintu mobil untuk Yuri. Tapi lagi lagi bocah itu sudah mandiri. Membuka pintu mobil sendiri dan meloncat keluar tanpa ragu.


"Mau makan di sini?"


Sekretaris Ang hanya mengangguk.


"Aa.. Senang nya. Apa malam ini kita termasuk Dinner? Emm... kencan resmi begitu?" tanya Yuri meraih tangan Sekretaris Ang untuk menggandengnya.


Sekretaris Ang hanya mengangguk saja, tak kuasa untuk menjawab lebih. Terlebih saat Yuri menggenggam erat tangan nya dan membawanya melangkah. Hati nya mendadak seperti di penuhi kupu kupu yang hampir saja membuatnya terbang. Untung Ang segera bisa menguasai diri.


Lalu mengikut saja saat Yuri melangkah masuk. Ang segera menarik sebuah kursi untuk Yuri dan untuk dirinya sendiri. Kini duduk berhadap hadapan.


Semua mendadak hening, waktu seperti berhenti berputar. Udara pun terasa berhenti bergerak. Mereka saling menatap tanpa lepas. Bahkan tak sadar ketika pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.


Sekretaris Ang sedikit terkejut ketika mendengar pelayan mempersilahkan mereka untuk menikmati makanannya. Ang Menoleh sebentar, hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar pelayan itu cepat menyisih. Lalu kembali menatap Yuri.


Tatapan mata yang penuh arti, membuat yang di tatap mati rasa dan salah tingkah.


Tangan sekretaris Ang merambat pelan. Menyentuh ujung jari Yuri yang tergeletak di meja. Baru sekedar menyentuh dengan ujung jarinya juga. Keadaan keduanya semakin sama sama tegang, dengan detak jantung yang bergemuruh hebat.


Sekretaris Ang berusaha menenangkan jantungnya. 'Fokus Ang, fokus. Ayo katakan. Jika malam ini kau akan melamar bocah ini. Ayo Ang. Bodoh kau ini. Pengecut amat!' memaki diri sendiri.


Yuri masih menunggu, menunggu kalimat selanjutnya dari sekretaris Ang dengan hati yang berdebar debar. ' Apa Tuan Ang, Apa? Cepat katakan!?" tak sabar.


"Yuri..!!" suara seseorang yang memekik di sebelah mereka membuyarkan kefokusan keduanya. Sama sama menoleh ke arah yang sama. Seorang pria muda mendekat pada Yuri.


"Kau Yuri kan? Yuri Kuncoro? Anak SMA 13 kelas bahasa? Masih ingat dengan ku?"


Yuri menatap seksama, pria tampan yang masih terlihat muda itu.


"Kak Sam. Kamu kak Samuel Ricard ketua OSIS kelas bahasa kita kan?" menganga.


"Syukurlah. Kau masih mengingatku. Boleh aku gabung?"


Yuri menoleh pada sekretaris Ang yang langsung suram. Menarik tangan nya yang tadi masih tergeletak di meja. Lalu mengepal di bawah meja. Tangan yang tadi hampir menggapai tangan Yuri. Namun ambyar karena kedatangan pria mantan ketos itu.


Yuri kemudian menoleh kembali pada pria itu yang sudah duduk tanpa menunggu persetujuan dari Yuri. Duduk tepat di sebelah Yuri.


Yuri masih mengingat dengan jelas, Ketos di sekolahnya dulu. Cowok idola para siswi. Yang pada saat itu sempat tergila gila padanya. Tapi ibu Yuri tidak menyukai pemuda itu karena menurut Tiara, Samuel dari keluarga biasa yang tidak selevel jika dekat dekat dengan putrinya apalagi sampai pacaran. Kecuali Samuel sudah sukses baru boleh mendekati putrinya.


"Kak Sam, kenapa ada di sini? Kak Sam juga mau makan disini?"


"Eh, iya. Aku baru selesai dan saat aku keluar tadi aku melihatmu. Karena aku ingin meyakinkan diri, aku kembali masuk. Ternyata kau benar benar Yuri. Ya Tuhan, seperti mimpi bisa bertemu dengan mu lagi. Kau terlihat lebih dewasa dan semakin manis Yuri. Kau bahkan semakin cantik saja."


"Ah, kak Sam bisa saja. Aku tetap seperti yang dulu kok, tidak ada perubahan." melambung mendapat pujian. Yang di depan panas kuping nya mendengar pria itu memuji Yuri.


'Berani sekali dia memuji wanitaku di depan ku!'


"Yuri. Apa kamu tau kalau aku sudah bekerja?"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya Yuri. Aku magang di perusahaan Mahendra Group. Kamu tau, itu perusahaan nomor satu di kota ini. Dari sekian ribu pelamar, aku salah satunya yang lulus seleksi. Dan kemungkinan bulan depan aku akan menjadi karyawan kontrak di sana. Doakan ya Yuri!"


"Ah iya iya. Pasti itu. Selamat ya kak?"


Sam senang tersenyum bangga, melirik Sekretaris Ang yang langsung membuang muka.


'Ck, cuma anak magang rupanya. Belagu sekali. Tidak tau apa yang di hadapan nya ini siapa. Sekretaris utama Mahendra Group.. Oy.. Sekretaris utama!!' Ang semakin mengepalkan tangan nya.


"Yuri, siapa dia?" tanya Sam.


"Oh, dia. Dia.. ini? Sekretaris.."


"Sekretaris mu. Waw.. kau hebat Yuri. Kau kerja di mana? Kau punya sekretaris sekeren dia. Dia mirip .. mirip siapa ya?" mengingat ingat.


Sam rupanya tidak mengingat dengan baik Pria dewasa itu, padahal pernah sesekali bertemu dan sekedar papasan sewaktu di perusahaan. Dia sungguh tidak mengingat wajahnya. Wajar saja, Samuel hanya anak magang, sementara Ang? Mana sempat seorang Ang memperkenalkan diri atau intip intip anak magang. Urusan nya lebih banyak dan penting di perusahaan. Kalau cuma Karyawan magang hanya di anggap rempehan keripik baginya. Seorang karyawan magang tidak akan berani menatap seniornya. Di anggap tidak sopan. Apalagi seorang sekretaris utama. Mana berani. Sebab itu Sam tidak mengingat wajah sekretaris Ang.


"Ehem!" sekretaris Ang berdehem. Lalu berdiri dan beranjak.


"Tuan. Anda mau kemana?" Yuri yang sadar dengan situasi segera menahan tangan sekretaris Ang.


"Aku menunggu di mobil saja. Kalian selesai kan obrolan kalian dulu." ketus.


"Tapi kita kan belum makan?"


"Aku sudah tidak berselera!" melepaskan tangan Yuri dan pergi begitu saja.


"Aduh.. bagaimana ini? Kacau deh!" menoleh pada Sam yang masih anteng duduk.


"Kak Sam maaf ya? Aku harus duluan." Yuri segera pergi menyusul sekretaris Ang.


"Yuri.. Yuri! Kenapa sih mereka. Apa mereka pacaran? Ah , tidak mungkin. Pria tadi terlihat dewasa. Mana mungkin Yuri pacaran dengan pria dewasa seperti itu. Tidak , kali ini aku harus mendapatkan Yuri. Aku tidak boleh gagal lagi. Dengan pekerjaan ku yang sekarang, ibu Yuri pasti akan meleleh dan merestui ku untuk mendekati Yuri." Sam percaya diri.


Sementara Yuri berlari menyusul sekretaris Ang yang sudah di mobil.


"Tuan Ang, anda marah ya? Yang tadi maaf. Maaf banget. Dia tadi..._"


"Sam, Samsul maksudmu. Ketua OSIS mu dulu! Aku dengar!"


"Eh iya. Tuan dengar ya. Tapi namanya Samuel Tuan, Samuel Ricard bukan Samsul. Dia itu dulu ketua OSIS paling keren. Idaman semua siswi di kelas."


"Dan kau yang termasuk mengidamkan nya begitu???" marah. Dongkol.


"Eh, tidak kok. Tidak. Meskipun kak Sam cowok idola di kelas kami, dan dia memang menyukaiku dan berusaha mendekatiku. Tapi aku tidak tertarik padanya. Dan ibu ku juga tidak menyukainya." bantah Yuri , menarik tangan Sekretaris Ang. Yuri ingin menyelamatkan hubungannya dengan sekretaris Ang yang baru saja akan dimulai malah Gatot gara-gara kedatangan Samsul.


"Lepas!" sekretaris Ang menarik tangannya.


"Aku tidak percaya! Kau terlihat bahagia sekali tadi. Apalagi saat Samsul tadi memuji mu. Wajah mu saja sampai memerah saking senengnya. Kau pikir aku buta !"


Brak!!


Membuka pintu dan membanting nya dengan kuat setelah keluar, meninggalkan Yuri di dalam mobil.


"Aduh!! Kenapa dinner nya jadi kacau begini sih???" jerit Yuri dalam hati. Ikut menuruni mobil lagi, berlari kecil mengejar Sekretaris Ang yang terus saja melangkah.


_________________

__ADS_1


__ADS_2