Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Cekrek! [ HP baru ]


__ADS_3

Di rumah besar Gani Kuncoro,


Lebih tepatnya sekarang ini sudah bisa di bilang adalah bekas rumah Gani Kuncoro. Karena saat ini mereka benar benar di usir dari rumah besar mereka itu dan terlihat mereka sedang melangkah keluar dari gerbang dengan menarik beberapa koper milik mereka.


Raut suram dan sedih terlihat jelas di wajah ketiga orang itu. Yaitu Gani Kuncoro , Tiara dan Jihan tentunya.


Tak tau mau kemana. Tak tau harus menemui siapa, untuk meminta bantuan. Bingung!


Mereka melangkah, menjauhi rumah mewah bekas milik mereka itu.


Banyak mata yang melirik mereka, sebagian besar tentu nya para emak emak yang sedang mengerubungi tukang sayur.


Terlihat berbisik, menggibah. Sudah biasa.. Itu memang sudah mayoritas emak emak zaman ol and now. Tak ada perubahan jika masalah rasan merasani, gibah menggibahi.


Berbisik, bukan karena kasian atau iba pada nasib keluarga Kuncoro yang terusir dari rumah mereka.


Tapi berbisik untuk menghujat, menyukurkan dan bahkan mengumpat mereka.


[ Lihat mereka, keluarga Kuncoro yang sombong itu. Sekarang bangkrut dan di usir dari rumah mewahnya.]


[Itu karma . Mereka dulu jahat sekali pada Mia. Memperbudak Mia. Sampai sampai Mia di jual mereka demi uang.]


[Bener banget Pok, padahal Mia anak yang baik, tulus dan patuh. Tapi kerjaan nya dulu di maki di hina dan disuruh suruh.]


[Iye Pok,..Mampus dah Sekarang. Jatuh miskin dadakan. Itu lah karma mereka.]


[ Sekarang mau kemana mereka Hah? Sanak famili tidak punya. Tetangga juga tidak ada yang suka pada mereka. Paling mentok juga minta bantuan Mia.]


[ Iya.. denger denger Mia sekarang sudah bahagia hidupnya. Jadi Nyonya muda Mahendra yang kaya raya itu.]


[ Benar bener, meskipun kabarnya suami Mia itu cacat, tapi setidaknya hidup Mia jauh lebih baik di sana. Dari pada hidup sama mereka, menjadi budak mereka.]


Bisik bisik.. Bisik bisik..


Bla...Bla..Bla...!!


Bla... Bla...Bla...!!


Panas. Kuping Tiara panas di buat mereka.


Sepanjang melangkah Tiara tak berhenti mengumpat. Tak berhenti mengutuk nasib nya dan juga tak luput mengutuk suaminya. Begitu juga dengan Jihan. Melakukan sama persis seperti ibunya.


Gani Kuncoro hanya bisa diam. Hanya bisa merasa bersalah dengan keadaan yang berbalik begitu cepat ini.


Lalu mereka berhenti di pinggir jalan.


Menyetop sebuah Angkot. Ingin menyetop taksi mulanya. Tapi berpikir ulang. Uang di saku sangat tipis.


Lalu dengan sebuah angkot mereka menuju sebuah kost kecil yang kumuh di pinggiran kota. Tidak jauh dari rel kereta api. Karena memang uang mereka hanya cukup untuk menyewa kost model seperti itu saja.


Kemudian mereka memilih satu dari antara sekian banyak rumah kost itu.


Dengan wajah lesunya Jihan menarik koper milik nya ke dalam rumah sempit itu dan melemparnya.


"Sungguh menyedihkan hidup kita sekarang Bu. Lihat lah, ini lebih pantas di bilang gudang. Malah lebih bagus gudang kita di rumah kita dari pada rumah ini." umpat Jihan.


" Diam kau! Terima saja nasib mu. Kau ini, bisa nya cuma mengeluh. Bisa menghasilkan uang saja tidak. Ini semua gara gara kamu juga Jihan. Kamu terlalu boros, menghabiskan banyak uang orang tua mu untuk barang barang branded mu yang tidak berguna itu. Yang akhirnya ikut tersita juga." maki Tiara.


"Ibu juga sama. Ibu juga boros.. Selalu shoping barang barang branded. Padahal sudah tua, tapi tidak mau ketinggalan gaya anak muda. Jangan salah kan Jihan saja donk.. Tau begini, mending aku saja kemarin yang ikut Mia. Meskipun jadi pelayan Mia setidak nya itu lebih baik dari pada harus tinggal di tempat kumuh seperti ini. Terus mau makan apa coba, ibu sudah tidak punya uang kan?"


"Diam Jihan.! Ini juga semua gara gara Mia dan Yuri. Mana mereka. Katanya mau menolong kita. Kata nya setelah Yuri ikut , Tuan muda Garra akan memberi dua koper uang. Ini boro boro uang, pesan dari mereka pun tidak ada." umpat Tiara.


"Mana mungkin.. Yuri sudah pasti lupa pada kita. Dia pasti sedang makan enak dan tidur nyenyak di sana bersama Mia. Aku menyesal tidak ikut Mia.. Aku menyesal..!!"


"Diam....!!" teriak Gani Kuncoro, kali ini angkat suara. Membuat dua wanita itu terkejut dan diam.


"Diam kalian! Sekarang ini kalian harus bisa menyadari kesalahan kalian yang terlalu boros dan senang dengan kemewahan. Satu lagi... karena kalian sering menyakiti Mia. Benar kata orang, sekarang ini kalian sedang kena karma. Merasakan bagaimana hidup susah dan tidak punya apa apa, seperti yang pernah Mia rasakan dulu." ucap Gani Kuncoro menunjuk kedua wanita di hadapan nya itu.


Bukan Tiara namanya jika tidak melawan suaminya.

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya, Tiara mencak mencak. Segala umpatan keluar dari mulutnya.


Sementara di kejauhan, di jarak yang sangat jauh di sana. Sepasang mata selesai memata matai mereka. Lalu merogoh Hp nya untuk memberi laporan pada Tuan nya.


Melaporkan keadaan Keluarga Gani Kuncoro, yang saat ini sedang pilu. Berada di bawah , bagian yang paling bawah sekali bahkan.


Lain dengan keadaan Yuri dan Mia yang sangat berbalik arah dengan mereka. Yuri dan Mia yang sedang senang.


Yuri senang, setidak nya saat ini ia masih bisa makan dengan nikmat dan tidur dengan nyenyak. Masih bisa tinggal di rumah yang mewah dengan fasilitas yang memadai fasilitas nya dulu saat di rumah nya.


Yuri merasa beruntung, mengucap syukur , tidak ikut blangsak seperti Orang tua nya dan Jihan sekarang. Dan Yuri bisa tau keadaan mereka dari status kegelisahan Jihan yang sempat di unggah ke akun sosial media nya untuk terakhir kali nya, karena hp mahal milik Jihan akhirnya terjual juga demi untuk kebutuhan mereka.


Sementara Mia.. Mia juga sore ini sedang senang. Dengan hati yang jedag jedug, tak sabar menunggu kedatangan Sekretaris Ang. Bukan orang nya yang di tunggu. Melainkan sesuatu yang akan di bawa sekretaris Ang.


Mia masih ada di kamar nya, tentu saja bersama Garra. Tubuh Mia menempel erat , lekat dengan tubuh Garra yang memang mendekapnya.


Hingga ketukan terdengar dari pintu kamar mereka. Keduanya menoleh. Mia bergerak ingin membukanya, namun Garra menahan tubuhnya.


"Buka saja. Tidak di kunci!" seru Garra masih dengan posisi memeluk Mia.


Sekretaris Ang muncul dari balik pintu.


Garra menoleh , "Masuk Ang."


Sekretaris Ang melangkah. Menunduk kan wajahnya , menghindari pemandangan di depan nya yang mampu membuat hatinya iri itu. Mia pun sama, menundukkan wajah nya yang memerah, menahan malu pada sekretaris Ang karena posisi nya.


"Kau mendapatkan nya?" tanya Garra menoleh pada Sekretaris Ang.


"Tentu Tuan muda." jawab Ang, mengulurkan sebuang kotak dari tangan nya.


Garra menerima kotak itu, tanpa melepaskan pelukan nya pada Mia.


"Kau boleh pergi."


"Baik tuan muda." Tanpa melirik, sekretaris Ang pun melangkah keluar. Tak lupa menutup pintu kembali sambil menelan ludah.


"Iya Mia ku.." Garra menaruh kotak itu di atas kasur. Mia langsung sumringah, duduk bersila di atas kasur juga , di hadapan kotak itu.


"Ayo buka.!"


"Tidak. Bang Garra saja. Takut lecet, nanti rusak. Barang mahal bang Garra??"


Garra tersenyum, lalu membuka kotak itu. Mengeluarkan benda pipih yang sedikit terasa berat itu.


Lalu mengulurkan nya pada Mia. Mia menerima nya dengan senyuman lebar.


Meneliti.


Membolak balik nya.


Lalu setelah melihat Mia puas, Garra mengulurkan tangan nya.


"Sini.. bang Garra atur dulu. Memasang kartu SIM nya dulu."


"Ah, iya." Mia memberikan hp nya.


Tak butuh waktu lama, Garra sudah selesai memasang kartu SIM dan memori card. Lalu tak lupa menyimpan kontak nya dan juga kontak Bu Asri. Garra sengaja hanya memasang dua kontak saja di hp baru Mia.


"Sudah." Garra mengembalikan hp itu pada Mia.


"Bang Garra juga sudah menyimpan nomor bang Garra dan Bu Asri. Siapa tau , saat bang Garra di luar dan Mia kangen, bisa menelpon atau melakukan panggilan video dengan bang Garra. Kalau Mia butuh mbak Endang atau Yuri, bisa menghubungi Bu Asri. Sudah pasang Aplikasi NovelToon juga." sambung Garra.


Mia lagi lagi tersenyum bahagia. Lalu menyuruh Garra mengambil Hpnya. Garra menurut saja. Meraih hp nya dan memberikan nya pada Mia.


Mia meletakkan dua hp milik mereka berdampingan, masih di atas kasur yang sama. Tersenyum kembali menatap kedua hp yang sama persis itu.


"Sama kan bang Garra. Cuma beda warna."


"Iya donk.. harus sama. Kita kan sehati." jawab Garra , ikut tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Tapi, ini kok ada foto nya milik bang Garra. Foto siapa ini?" Mia menunjuk hp Garra yang menyala, menampilkan wallpaper foto seorang wanita.


"Itu namanya wallpaper Mia. Jelas foto Mia lah. Masa iya foto mbak Endang apa Yuri. Mana mungkin? Istri ku kan Mia. Ya jelas foto Mia lah yang ku pasang..!" jawab Garra dengan antusias.


"Masa sih, kok cantik.?? Gak sama dengan wajah ku." Mia memeriksa.


"Ih benar.. Foto ku. Aku cantik ya kalau di foto."


Garra tergelak. " Kau memang cantik Mia. Kau saja tidak sadar."


"Bang Garra, mau donk di pasangin seperti ini juga." rengek Mia.


"Oke. Tidak masalah." Garra mengambil hp Mia.


"Mau pasang foto siapa? Foto Mia atau bang Garra."


"Foto bang Garra lah. Kan biar adil. Hp bang Garra pake foto Mia. Hp Mia pake foto bang Garra."


"Iya, Mia benar." sahut Garra, cepat cepat mencari foto milik nya yang di anggap paling tampan. Segera mengirim ke hp Mia dan menerapkan nya sebagai wallpaper.


Mia puas, sekali lagi memandang kedua hp itu.


"So sweet nya...!!" ucap Mia.


"Hah.. Tau dari mana bahasa itu?"


"Dari Drakor. Tapi benarkan bang Garra. So sweet kan?"


"Iya iya.. So sweet.. Pake banget..!" sahut Garra , lagi lagi merasa gemas pada istrinya. Ada kebahagiaan tersendiri di hati Garra melihat senyuman istrinya.


"Kita foto bersama donk bang Garra, pake Hp Mia."


"Ah, dengan senang hati. Ayo ayo..!!" Garra pun semangat.


Cekrek... cekrek...!!!


Cekrek... cekrek...!!!


Entah berapa puluh sudah Garra mengambil foto mereka berdua, dengan gaya dan posisi berbeda beda. Lalu, menghapus sebagian yang dianggap jelek dan menyimpan yang di anggap bagus.


Mia lagi lagi bahagia, menatap foto foto hasil cekrekan Garra.


"Kita terlihat cocok ya bang Garra. Padahal seharusnya tidak. Yang pria tampan yang wanita nya jelek." ucap Mia.


Garra terbahak, "Kau cantik Mia.. Tercantik bagi bang Garra."


"Benar?" Mia tersipu.


Grep...!!


Garra langsung menubruk Mia. Tak tahan lagi melihat Mia yang semakin menggemaskan itu. Garra langsung menerkam Mia. Menyeruput bibir milik istrinya.


Mia ingin berontak, tapi lagi lagi tubuh nya berkhianat. Menerima perlakuan Garra. Lalu tanpa sadar tubuhnya mengikuti pergerakan yang Garra lakukan.


Garra menggeser dua benda pipih itu dengan kakinya, agar sedikit menjauh dari mereka.


Akhirnya, di antara temaram senja yang mulia berganti petang. Adegan dewasa yang sedikit panas terjadi di Antara mereka.


Walau masih hanya sebatas ciuman. Dari wajah dan leher Mia saja , Garra melakukan dengan sangat hati-hati dan penuh perasaan. Pelan tapi pasti. Garra berusaha mengoyak pertahanan Mia, dan berusaha mengobrak abrik pikiran Mia. Agar, Mia mengerti. Agar pelan pelan Mia juga merasakan apa yang dirasakan oleh nya.


Berjalan penuh kelembutan. Berjalan penuh perasaan. Kali ini tanpa ada gangguan. Tidak ada yang ketuk ketuk pintu lagi. Tidak ada suara hp yang berbunyi.


Hanya di penuhi suara Mia yang merengek merdu. Meminta Garra menyudahi ciuman nya.


"Sebentar Mia.. Sebentar lagi. Diam lah!" bisik Garra, menenggelamkan wajahnya di leher Mia. Mia hanya bisa menggeliat, geli. Tapi mulai merasa senang dengan perlakuan Garra pada nya.


bersambung.........!!!!!


[ Note: Kasih selamat donk kakak... Hari ini pas Anniversary Karya ini. Pas satu bulan nya Karya Garmi di buat.]

__ADS_1


__ADS_2