
Plak....!
Tangan kekar itu mendarat di wajah Rayyan dengan sempurna.
Rayyan hanya menunduk, mengusap pipinya yang cukup sakit dengan tamparan kuat dari Ayahnya itu.
"Keterlaluan! Kakak macam apa kamu ini Rayyan?" Garra sangat marah ketika mendapati Rayyan pulang dengan membawa Yura yang pingsan.
"Kau tau, adikmu ini. Harus beberapa kali jatuh sakit karena memikirkan mu. Setelah dia baik baik saja dan bisa menerima kenyataan, kau pulang hanya untuk membuat ulah. Seharusnya kau bisa menjaga sikap dengan pertemuan pertama kalian!" ucap Garra lagi.
"Maafkan aku Pa. Sungguh Rayyan tidak bisa mengendalikan diri."
Tidak ada yang bergeming dari tempatnya. Kemurkaan Garra pada Rayyan membuat semua terpaku. Sekertaris Ang dan Yuri hanya bisa terdiam di kaki masing masing.
Hanya Mia yang melangkah pelan mendekati Rayyan Miga yang masih berdiri tertunduk didepan Ayahnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Rayyan?"
Rayyan mengangkat wajahnya, menoleh pada ibunya.
"Aku kecewa ketika mengetahui Ara mempunyai seorang pacar. Aku tidak bisa mengendalikan diri ku Ma. Mungkin Ara tertekan karena aku marah. Maafkan aku!"
Wajah Garra tentu saja semakin memerah mendengar penjelasan dari Putranya.
"Keterlaluan! Kau benar benar sudah Gila Rayyan!" Tangan Garra terangkat kembali namun Mia langsung mencegahnya.
"Sudah bang Garra, sudah. Dia Putra mu!"
"Iya, dia memang putraku Mia. Tapi lihatlah, dia tidak ada otak. Bisa bisanya dia mengatur kehidupan Adiknya. Dia mencintai adiknya sendiri. Sungguh memalukan keluarga!"
"Kau tau Rayyan, alasan pertama ku mengirim mu ke Manhattan. Papa sengaja ingin agar kau melupakan perasaan tidak waras mu itu! Tapi kau kembali masih dengan seperti dulu! Kau tau, Yura itu adikmu. Adik mu, sampai kapanpun aku , Papa mu ini tidak akan merestui cinta gila mu itu! Kau paham!" bentak Garra.
"Rayyan mencintai Ara Pa. Ini bukan gila! Papa lupa dengan janji Papa, jika aku mau pergi Ke Manhattan, setelah kembali Papa akan memperbolehkan aku dengan Ara? Sekian lama aku menuruti keinginan kalian, sekarang ini Aku hanya minta satu hal saja pada kalian. Ara. Hanya itu yang aku pinta dari kalian. Selebihnya, aku tidak peduli." bantah Rayyan.
Garra terdiam cukup lama,
"Ya, Papa ingat. Tapi pertanyaannya, apa Yura mencintaimu? Kau tidak bisa memaksakan kehendak mu."
"Kami saling mencintai Pa, kami sudah pernah berjanji untuk menikah." jawab Rayyan.
"Mungkin itu dulu Rayyan, Yura belum mengerti. Lalu sekarang? Buktinya Yura punya pacar. Itu artinya dia tidak mencintaimu." ucap Garra.
"Tidak Pa, aku tidak peduli. Aku tidak mau Ara dengan yang lain. Tolong Rayyan Pa?"
"Diam Rayyan! Cukup! Kau ini. Berhenti mencintai adikmu sendiri. Kau gila Rayyan..!"
"Sudah Cukup. Berhenti lah kalian!" kini Mira yang sudah tidak tahan dengan pertengkaran suami dan putranya itu berteriak.
__ADS_1
"Jangan bertengkar lagi. Semua bisa diselesaikan dengan bicara baik baik. Tunggu Ara sehat. Setelah itu, kita bisa bertanya langsung padanya. Jika Ara setuju, kalian akan menikah setelah Ara lulus. Sudah. Aku tidak mau ada keributan lagi. Kembali ke kamar masing masing!" kini Mia yang membentak keduanya.
Tau sendiri, selama ini Garra memang selalu takut jika Mia sudah marah. Begitu juga Rayyan. Akhirnya, keduanya sama sama meringsut mundur dan melangkah ke kamar masing masing.
Hanya tertinggal sekretaris Ang dan Yuri, terlihat Yuri mendekati Mia yang lemas terduduk di sofa memegangi pelipisnya.
"Mia!"
Mia mendongak. "Maafkan Putraku Yuri."
Yuri hanya tersenyum, kemudian ikut duduk.
"Tuan Muda Rayyan, dia memang sangat mencintai Ara."
"Aku tau itu. Tapi tidak mungkin kita akan membiarkan itu terjadi. Yuri, kita ini.."
"Satu Ayah. Ah, iya." potong Yuri.
"Tapi apa kau tidak ingat kata Ayah. Jika Nasab mu itu kepada Ibumu. Jadi sepertinya itu tidak akan jadi masalah." tambah Yuri.
"Aku hanya memikirkan Tuan Muda Rayyan. Sejak kelahiran Putriku dia begitu mencintainya, jika kita menekannya untuk melupakan perasaannya, itu akan berpengaruh buruk bagi hidupnya. Kau tau, cinta tak direstui itu akan membuat seseorang nekat." ucap Yuri kembali.
"Entah lah Yuri. Aku hanya ingin menjaga nama baik Mahendra. Kelakuan Putraku, akan membuat malu keluarga ini. Belum lagi keluarga Ayah kita."
Kedua wanita itu hanya bisa saling menarik nafas berat. Sementara sekretaris Ang, memilih untuk pergi ke kamar Putrinya.
Yura hanya tersenyum pada Ayahnya.
"Bagaimana, kau sudah merasa lebih baik?"
"Ah, iya Ayah. Ara tidak apa apa."
Sekretaris Ang menghela nafas. Kemudian duduk disampingnya. Menarik tubuh Yura kedalam dadanya.
"Apa Ara menyukai pacar Ara itu?" tanya Ang, sambil membelai rambut Yura.
Ara menarik wajahnya. "Sebenarnya tidak."
Sekretaris Ang sedikit terkejut, langsung menatap wajah putrinya.
"Lantas! Kenapa berpacaran dengannya?"
Yura terlihat diam. Kemudian menatap Ayahnya lagi. "Uncle dan Aunty, tidak ingin kami menikah bukan? Ara tau itu. Lalu Ara hanya ingin melupakan Kak Mig saja. Berpura pura pada semua orang jika Ara punya pacar. Edo tidak bersalah. Ara yang menyuruhnya untuk berbohong pada semua. Edo sebenarnya Pacar temannya Ara."
Mendengar pengakuan Putrinya, sekretaris Ang menjadi khawatir.
"Jadi Ara benar mencintai Tuan Muda?"
__ADS_1
Yura mengangguk. "Kami pernah berjanji Ayah. Akan menjadi suami istri setelah Ara dewasa. Kami sudah membuat janji, saat kak Mig tidak disini, Kak Mig tidak ingin Ara dekat dengan pria lain meskipun itu teman pria satu sekolah sekalipun. Dan Ara meminta kak Mig untuk tidak punya pacar.Kak Mig marah saat Edo mengaku pacar Ara, bahkan berteriak teriak di jembatan. Ara bingung untuk menjelaskannya." jelas Yura.
Sekretaris Ang menarik nafas panjangnya, kemudian menatap kembali putrinya.
"Ara, kami harus tau. Sebelum Ayah menikahi Ibumu. Ayah hanyalah orang lain disini. Hidup Ayah, untuk mengabdi kepada Keluarga Mahendra. Jika Ayah boleh meminta, bisakah putri Ayah membantu?"
Yura menunduk, sudah tau apa yang akan dikatakan Ayahnya selanjutnya.
"Ayah tau ini berat. Tapi ini demi kebaikan keluarga. Dua keluarga besar kita Ara. Keluarga dari Ibu dan Aunty. Kau tau, betapa Uncle dan Aunty menyayangimu melebihi sayang mereka kepada Putranya sendiri. Kau harus membantu mereka juga."
Yura semakin tertunduk.
"Ayah hanya tidak ingin, ada perselisihan diantara kita. Apa Ara mengerti?"
Ara perlahan mengangguk.
"Ara akan membantu kalian. Ara akan menjauhi Kak Mig."
"Sudahlah Sayang." sekretaris Ang kembali memeluk Yura. Perasaannya teriris melihat keadaan putrinya yang tertekan. Dia bisa merasakan jika Yura punya cinta yang sangat dalam untuk Rayyan. Tapi Sekretaris Ang tetap harus patuh sebagai Seorang pengabdi kepada Tuannya.
"Ayah juga sebenarnya tidak rela jika kau menderita. Ayah sebenarnya sangat ingin kau menikah dengan Kak Mig mu. Tapi Ayah tidak tau harus bagaimana membantumu."
"Ah, baiklah. Bagaimana jika kita menyerahkan ini semua pada yang Kuasa saja. Kau boleh meminta apapun yang kau inginkan padaNya. Jika kau berjodoh dengan Kak Mig, semua pasti akan ada jalannya."
Yura mengangguk, kini tersenyum pada Sekretaris Ang.
"Ara tidak apa apa Ayah."
" Baiklah, kalau begitu tidurlah. Ayah akan menemanimu."
Sekretaris Ang menata bantal dan merebahkan kepala Yura. Terus membelai rambut Yura dan menciumi tangannya.
Perasaannya begitu sedih, menatap wajah manis Putrinya yang penuh tekanan itu.
'Kau satu satunya putriku Ara. Yang kami dapatkan dengan susah payah. Tapi hidupmu tidak bisa bahagia. Apa aku salah menjadi Ayahmu? Aku tidak bisa berbuat apa apa untuk putriku sendiri?' batin Ang terus menyesal.
'Tidak Ara. Aku harus membantumu. Kau memang harus menikah dengan Tuan Muda Rayyan. Karena , aku hanya bisa mempercayainya untuk menjagamu.'
'Kalau begitu, kau tenang saja. Ayah akan menyatukan kalian!'
Sekretaris Ang mencium kening Putrinya. Kemudian beranjak setelah memastikan Putrinya tertidur. Ia sudah bertekad.
Apapun yang teejadi, akan tetap menyatukan Yura dengan Rayyan.
'Maafkan Aku Tuan Garra. Kebahagiaan Putriku, akan aku utamakan.'
_____________.
__ADS_1