
Di awal pagi ini sudah membuat hati Garra senang dengan semangat yang semakin menumpuk di hatinya, saat ketika Garra membuka mata dan pertama yang di lihat adalah wajah istri polosnya.
Wanitanya, istri nya , Mia nya, tidur mendengkur dengan posisi kepala di ketiak nya dan tangan merengkuh kuat perut nya. Sementara betisnya menumpang bebas di paha Garra. Sungguh posisi tidur yang sangat di dambakan Garra selama ini.
Dan malam ini, dengan usaha yang begitu keras, rayuan maut yang gigih, Garra akhirnya bisa membawa kepala Mia, tubuh Mia berada di pelukan nya sepanjang malam hingga pagi menyingsing.
Garra bergerak pelan, lalu membetulkan posisi tidur Mia dengan baik dan benar.
Menatap wajah itu, menikmati indah cantik Mia dengan mata nya, sambil terus berpikir.
Entah bodoh, entah polos, kadang Garra sendiri terkikik memikirkan nya. Tapi bagi Garra, apapun Mia tetaplah suatu anugrah terindah dari Tuhan yang ia miliki.
Bahkan Garra sempat berpikir untuk menginginkan Mia tetap seperti itu. Bagi nya, kepolosan Mia, ketidak pintaran Mia, justru menjadi suatu keunikan yang menjadi ciri khas seorang Mia sang otodidak.
Garra masih menatap wajah itu,
Lalu terkekeh dengan suaranya yang tertahan. Mengingat kejadian semalam.
Sungguh momen kacau yang paling indah. Bahkan Mungkin saja, seumur hidup Garra tak kan pernah bisa untuk melupakan kejadian semalam. Ia bahkan berniat untuk mencatat nya , menyimpannya sebagian hari bersejarah bagi nya, Hari konyol yang menyenangkan.
Garra menggeser tubuhnya setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh Mia.
Tak ingin mengganggu tidur Mia., Garra bergerak pelan menuruni ranjang.
Lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan setelan santai nya, Garra kembali menoleh pada Mia. Masih mendengkur halus. Mungkin masih mengantuk karena begadang semalam. Atau sedang bermimpi indah. Bisa jadi. Karena Garra bisa menangkap bibir Mia yang tersenyum senyum sendiri.
Garra tidak ingin membangunkan Mia. Biarkan saja, sebangun nya saja. Karena saat ini Garra sedang memikirkan kakeknya dan ingin segera menemui nya.
Untuk meminta pertanggungjawaban kedua orang tua itu. Tidak, bukan itu. Melainkan untuk menjelaskan pada kakeknya. Bukan menjelaskan, tapi tepat nya memberitahu kegagalan usaha mereka.
Garra geram, melangkah cepat ke arah kamar kakek Abian. 'Karena hasutan mereka lah, aku hampir saja menyakiti Mia. Mending kalau gol, yang ada Gatot!'
"Kek...!!"
Brok.. brok..brok...!
Bukan lagi mengetuk, melainkan menggebrok pintu.
"Nek..!!"
Brok... brok... brok..!!
"Kakek..Nenek..!" Garra berteriak.
Ceklek...!
"Ya ampun Garra... Gak usah berteriak. Kami belum budeg!" teriak Nenek Sulis.
__ADS_1
"Mana kakek!" tanya Garra dengan nada marah, masuk begitu saja tanpa di suruh.
Kakek Abian baru saja nongol dari kamar mandi, langsung melangkah terburu menghampiri Garra.
"Garra... Cucu ku..!! Yang baru saja belah duren, kayak nya semangat sekali. Oh... senang nya kakek...!!" Abian memeluk cucunya.
"Apa sih kek, lepas..!!" Garra meronta, lalu berlalu dari hadapan kakeknya. Membanting pantat nya di ranjang mereka.
Abian semangat , menghampiri kembali.
"Bagaimana hasilnya.. bisa berapa part? Pasti sebentar lagi cicit ku bakalan jadi."
Kakek Abian bersemangat.
"Apa nya yang berapa part??? Emangnya mbak any yang lagi nulis novel ini? Ah... Kakek..!!" jerit Garra.
"Lho.. apa yang terjadi? Kenapa kok frustrasi begini?" Kakek Abian menatap khawatir.
"Frustrasi... Frustrasi.. Garra memang sedang Frustrasi..!!"
"Ini semua gara gara kakek. Menghasut Mia ku, memanfaatkan kebodohan nya. Bukan nya part yang di dapat, malah nyiksa , nyiksa ,nyiksak...!!" Garra sewot.
"Garra.. Maafkan kakek..Bukan begitu maksud kakek... Kakek cuma ingin membantu mu."
"Tapi berhasil kan?" sambung kakek.
"Mana ada. Kalau berhasil, gak mungkin sekarang Garra ada di sini. Pasti saat ini Garra sedang melanjutkan part part berikutnya." sahut Garra.
"Lagian kakek, sudah tau Mia gak pintar, malah di pintaran. Ngenes kan aku.." Garra masih sewot.
"Huh, lemes kan kakek jadinya ? Ternyata cucu ku tidak berhasil." Kakek Abian ikut frustrasi, duduk menopang dagu di sebelah Garra.
Sang istri nya pun ikut melongo di depan mereka setelah paham pembicaraan mereka.
Garra menoleh, menatap wajah yang sudah sangat keriput itu. Ada harapan di sana yang tersimpan begitu besar.
Hati Garra sedih, mengingat jika Kakek dan nenek mungkin sudah sekian lama kesepian.
Apalagi sejak Kedua orang tua Garra meninggal, Garra harus sering meninggalkan nya untuk mengantikan Ayah nya meneruskan perjuangan nya di Perusahaan mereka. Belum lagi ketika Garra sakit. Kedua orang tua ini sungguh sangat kesepian, makanya sangat berharap kehadiran cicit dari Garra cucunya, untuk menghibur sisa masa tua mereka.
Garra meraih tangan keriput itu, menepuk nepuknya halus.
"Kek.. Garra minta, bersabarlah. Semua harus pada waktunya. Jika kita terlalu memaksakan kehendak kita kasian Mia kek. Mia butuh waktu untuk bisa menerima Garra dengan hatinya." ucap Garra.
Kakek Abian mengangguk berat, sedangkan nenek Sulis tertunduk.
"Bukan hanya bodoh, Mia tidak pintar. Dan kehidupan lalu nya penuh ketidak senangan. Beri Garra waktu untuk menyenangkan Mia dulu. Mengambil hatinya, menunjukkan jika Mia pantas mendapat kan kebahagiaan. Memberi nya cinta, lalu Mia membalasnya. Setelah itu, rencana untuk cicit mu akan berjalan mulus tanpa perlu menyakiti atau membodohi Mia." sambung Garra.
Kakek Abian mengangguk lagi, menatap Garra dengan mata yang sudah berkaca kaca.
__ADS_1
"Maafkan kami Garra, maafkan kami. Kami mengerti maksudmu. Kami tidak akan mengulangi lagi." ucapnya.
Nenek Sulis menghampiri Garra , duduk disebelah nya, lalu menepuk halus punggung cucu nya.
"Kalau begitu, bagaimana jika untuk beberapa hari ini kau jangan pergi dulu. Temani Mia, ajak Mia pergi keluar. Kau bisa memberi tahu Mia tentang dunia luar yang belum pernah ia lihat. Habiskan waktu yang banyak untuk Mia. Tunjukan apa itu kebahagiaan. Ajari dia perasaan cinta. Biar Mia mengerti, sedikit demi sedikit. Jika kau terus memikirkan perusahaan, hanya tersisa waktu malam yang singkat, mana bisa kau mengajari Mia. Garra, wanita itu perlu bukti perlakuan, bukan hanya ungkapan saja." ucap sang nenek.
"Kau benar nek. Garra memang belum pernah mengajak Mia kemana mana. Baiklah, Garra setuju dengan nenek."
Ketiga nya kita berpelukan. Ada sedih di hati mereka memikirkan kehidupan Mia terdahulu, membuat Mia begitu bodoh dengan hal cinta. Ada bahagia juga, pertemuan mereka dengan Mia. Sosok Mia yang akan sulit ditemukan di muka bumi ini.
Garra kembali ke kamarnya, menatap Mia yang sudah rapi sehabis mandi dengan membawa sarapan sekalian. Menaruh nya dulu di atas meja lalu menghampiri Mia yang masih sibuk membenahi tempat tidur.
"Mia..!"
Mia menoleh, "Tuan muda dari mana? Kenapa tidak membangunkan saya."
"Kau lupa, kalau jangan.."
"Ah, iya. Bang Garra. Aku, aku mencari mu tadi. Aku kira sudah berangkat kerja." sahut Mia, segera ingat jika tidak boleh lagi memanggil Garra dengan panggilan Tuan Muda.
Garra menarik tubuh Mia, lalu memeluk nya. Mia sebenarnya terkejut, hati ingin berontak, tapi tubuh mengkhianati.
"Aku tidak pergi kerja hari ini. Aku ingin mengajak mu keluar jalan jalan. Apa kau mau?"
Mendengar itu tentu Mia sangat senang.
Mia mendongak.
"Jalan jalan.. Mau donk bang Garra. Mia kan tidak pernah jalan jalan."
"Ya, kita akan jalan jalan. Kemana pun Mia mau."
"Benarkah?"
Garra mengangguk.
"Boleh tidak minta makan di restoran seafood. Dari dulu ingin sekali makan makanan di restoran itu. Katanya makanan dari laut semua. Dulu, pernah sih makan. Bi Sumi yang beliin. Kerang ijo. Tau kan..Enak banget loh..Boleh ya??" rengek Mia.
"Tentu Mia, tentu. Nanti kita boking restoran nya. Khusus buat Mia. Buat kita. Makanlah sepuasnya." sahut Garra. Ada sedih terselip. Segitu susah nya hidup istrinya dulu. Sampai makan kerang ijo aja di bilang enak banget. Itu pun paling banter bi Sumi cuma beli di pinggir jalan. Bagaimana kalau makan gurita?
"Setelah makan jalan jalan ya.. ke Monas boleh?? Terus pergi ke rumah Ayah ya?? Mau tau kabarnya. Apa perusahaan ayah sudah membaik." pinta Mia lagi.
"Iya, kita akan pergi mengunjungi Gani Kuncoro, setelah selesai makan dan jalan jalan." jawab Garra.
Bruk.....!!!
"Terimakasih Abang Garra sayang...!!"
Mia senang, memeluk Garra dengan bahagia!!!
__ADS_1
bersambung.....!!!!!!!